Skip to main content

Ramadhan dan Menulis

Ramadhan bulan yang dinanti. Dengan segala keistimewaannya. Pahala datang berlipat ganda. Ramai umat beriman memacu diri.

Apa target Ramadhan tahun ini?

Selain amal yaumiyah, tentu ada hal lain lagi. Seperti beberapa waktu ini.

Menjadi pengangguran, sungguh bukan impian semua orang. Apalagi ketika kedua orang tua yang sudah berumur masih sibuk bekerja setiap hari.

A failure. That's what I saw in myself. Saw, yes. Karena alhamdulillah Allah telah keluarkan aku dari rasa tak syukur itu.

Sesungguhnya, rezeki Allah amat luas. Tak hanya berupa uang dan sarana mendapatkannya.

Ternyata di rumah juga rezeki. Karenanya memiliki banyak waktu untuk mengerjakan sesuatu yang tak sempat dikerjakan.

Salah satunya adalah menulis. Tak jarang aku menghabiskan waktu membuat status yang panjang-panjang. Cerpen, kata salah seorang teman. Sempat tersinggung, tapi bagaimana lagi? It's who I am.

Bahasannya pun hal remeh temen. Aku tak punya banyak ilmu untuk menggarap hal yang berat-berat. Beragam tanggapan ku dapatkan. Namun yang paling menghantarkan hati adalah komentar dari beberapa dosen.

Nulis buku aja Fit.

Ah, kalau dulu rasanya itu impian yang tergantung di awang-awang. Punya kenalan penerbit aja nggak?

Tapi apa aku harus fokus pada halangan? Aku lupa, bahwa semua adalah doa.

Dan terutama, nasihat lama itu. Kalau orang tua sudah percaya padamu, tinggal kamu sendiri. Percaya kalau kamu bisa.

Tak satu dua yang berkomentar demikian, maka mengapa aku masih menolak percaya? Walaupun benar aku tak layak, tapi aku bisa belajar.

Dan ya, apa gunanya aku memiliki Allah? Ia Yang mampu menjadikan sesuatu yang tak mungkin menjadi mungkin hanya dengan mengatakan 'Kun'.

Maka bismillah, ku tambahkan satu target pada ramadhan kali ini. Menjadi bulan menulis.

Karena Ramadhan dengan segala keberkahannya memiliki caranya sendiri untuk memberikan apa yang kita butuhkan. Lewat kejadian-kejadian kecil banyak hikmah yang bisa digali. Dan menunggu untuk diabadikan dengan pena.

Maka bismillah, menulis aku untuk kebaikan. Kebaikan diriku dan semoga orang lain.

Akan ku rekam semuanya. Segala emosi, lalu ku periksa satu-satunya. Apa sebenarnya yang ku rasakan? Lalu apa kata Islam tentang hal ini? Maka semoga Allah mudahkan. Aamiin.

Comments