Skip to main content

Jodoh Semut

Suatu hari pernah bilang sama Puji "Semut aja Allah kasi jodohnya Ji. Masak kita nggak?"

Dan sukses mengembalikan moodnya yang jatuh karena tak kunjung bertemu jodoh.

Binatang secara kasta lebih rendah dari manusia.

Namun benarkah demikian? Nyatanya setelah mati binatang akan tetap menjadi tanah. Tak akan dibangkitkan dan dimintai pertanggungjawaban atas segala perbuatannya.

Ketika merasa dosa sudah sampai langit, kadang aku merasa iri binatang. Tetapi ketika mengharap ampunanNya, aku bersyukur walaupun akan menghadapi hari yang berat di akhirat. Insya Allah kami akan menuju surga dengan rahmatNya.

Malam ini, kembali terbersit perasaan serupa. Ketika melihat seorang peserta tuna netral di sebuah acara televisi. Fisik tak sempurna dan wajah jauh dari lumayan. Tetapi istri dan keempat anaknya begitu mencintainya.

'Jika ia saja Allah berikan jodoh, masak aku nggak?' Hanya sekelebat setelah pertanyaan itu terlintas aku menariknya kembali.

Sombong jika aku mengatakan hal itu hanya karena menilai fisiknya. Padahal dibalik 'kekurangan' fisik tersebut, ia sesungguhnya memiliki banyak rukshah di hadapan Allah. Dosa dari melihat sudah tak ada. Sementara syukur dari adanya penglihatan juga ia tak luput.

Fakta ketika ia bisa 'melihat' sisi positif dari segala sesuatu menjadi tampan terakhir bagiku.

Aku tak bisa sepenuhnya selalu berada dalam kondisi itu.

Siapa tak ingin menikah? Apalagi bagi seorang yang sudah dianggap perawan tua dibalik punggungnya.

Kadang aku merasa niatku untuk itu suci. Kadang sebaliknya. Kadang jauh lebih buruk lagi. Tetapi aku tak akan berhenti berusaha. Berdoa. Memperbaiki niat. Berusaha lagi. Berdoa. Tawakkal. Begitu seterusnya sampai Allah mewujudkannya atau aku binasa di dalamnya.

Comments

Popular posts from this blog

Anggun: Ibu

Aku suka dangdut? Ngggg.. kayaknya nggak hard to believe banget. Apalagi karena aku juga suka lagu-lagu India. Lagu yang ku suka variatif, nggak terbatas di genre tertentu atau satu penyanyi. Yg penting ngena di hati. Dan malam ini, entahlah aku mesti senang atau sedih. Aku hampir menangis menyaksikan penampilan finalis DA3 dari Bima, Anggun. Mungkin karena mengetahui kisahnya sebagai TKI dan hanya pernah bertemu beberapa kali dengan anaknya. Mungkin karena di dekatku ada ibuq, dan membayangkan lagu itu adalah ungkapan hati ibuq dan ibu-ibu lainnya di seluruh dunia. Ditambah lagi aku belum bisa berbuat banyak untuknya. Atau mungkin, sekali lagi mungkin. Ini yang dikatakan: apa yang dilakukan dengan hati, akan sampai ke hati. Apalagi ketika baitnya sampai pada 'Kau adalah simbol kesempurnaan dariku yang tak sempurna'. Tuhan, sampai disini aku merinding. Betapa besar anugerah dan kenikmatan menjadi seorang ibu. Sesuatu yang kerapkali ku impikan. Tapi aku sadar, mungkin Allah ...

The Reflex

Siang ini di atas motor.. Tikungan agak tajam ke kanan tampak 50 meter di depanku. Tangan kiri sedia memegang rem. Tangan kanan yang sedari tadi konsen menarik gas mengendur dan berganti menarik rem. Lalu membawa stang motor sedikit membelok ke arah kanan. Tikungan terlewati dengan mulus. Semua dilakukan dengan spontan. Like they said, if you do something for years, you get pretty good at it. Or in my case, used to it. Because I'm not sure I'm a good or lousy rider. Sometimes it feels like the first but not rarely I feel the second. Aku melakukannya sebelum memikirkannya. Semua diatur otak di alam bawah sadar. Lalu ketika mobil dari arah berlawanan menyalip dan melewati kami dengan terpaut jarak sekian puluh senti saja, jantungku langsung seperti ingin meloncat dari rongganya. Bahkan jantungku bukan milikku sendiri. Ia bekerja mengikuti ritme tubuh. Sesuai dengan kebutuhan. Aku tak bisa mendiktenya untuk berdetak 85 kali saja. Ia memiliki mekanisme tersendiri. Pun paru-paru...

Malin Kundang

"Dimana itu Nak?" Pertanyaan protokoler akhirnya keluar di ujung sana. I almost roll my eyes if it wasn't for the answer itself. What was this place called again? My brain went blank. In panic state I running in storange room names my brain, rummaging for some memory. Nope, nada. Fortunately, there's last source of knowledge standing there. I turn to her and ask. "Dimana namanya ini lenga?" My, my. The look on her face is priceless. Just like I ask her where is my keys when its dangling in my bag. I I can't help but broke into laugh. "Ya Allah lenga beneran side lupa?! Karang Sukun." Cue for the stern-looking-mom-expression. It was so understatement. I was lived in that area for almost one year yet it's name easily slipped from my mind. I was never intended to comeback to my old landlord yet Cg's landlord came 500 kilometers across sea to attend her wedding. Yep, I can totally see the picture here. Not only that time Cg must huffing ...