Suatu hari pernah bilang sama Puji "Semut aja Allah kasi jodohnya Ji. Masak kita nggak?"
Dan sukses mengembalikan moodnya yang jatuh karena tak kunjung bertemu jodoh.
Binatang secara kasta lebih rendah dari manusia.
Namun benarkah demikian? Nyatanya setelah mati binatang akan tetap menjadi tanah. Tak akan dibangkitkan dan dimintai pertanggungjawaban atas segala perbuatannya.
Ketika merasa dosa sudah sampai langit, kadang aku merasa iri binatang. Tetapi ketika mengharap ampunanNya, aku bersyukur walaupun akan menghadapi hari yang berat di akhirat. Insya Allah kami akan menuju surga dengan rahmatNya.
Malam ini, kembali terbersit perasaan serupa. Ketika melihat seorang peserta tuna netral di sebuah acara televisi. Fisik tak sempurna dan wajah jauh dari lumayan. Tetapi istri dan keempat anaknya begitu mencintainya.
'Jika ia saja Allah berikan jodoh, masak aku nggak?' Hanya sekelebat setelah pertanyaan itu terlintas aku menariknya kembali.
Sombong jika aku mengatakan hal itu hanya karena menilai fisiknya. Padahal dibalik 'kekurangan' fisik tersebut, ia sesungguhnya memiliki banyak rukshah di hadapan Allah. Dosa dari melihat sudah tak ada. Sementara syukur dari adanya penglihatan juga ia tak luput.
Fakta ketika ia bisa 'melihat' sisi positif dari segala sesuatu menjadi tampan terakhir bagiku.
Aku tak bisa sepenuhnya selalu berada dalam kondisi itu.
Siapa tak ingin menikah? Apalagi bagi seorang yang sudah dianggap perawan tua dibalik punggungnya.
Kadang aku merasa niatku untuk itu suci. Kadang sebaliknya. Kadang jauh lebih buruk lagi. Tetapi aku tak akan berhenti berusaha. Berdoa. Memperbaiki niat. Berusaha lagi. Berdoa. Tawakkal. Begitu seterusnya sampai Allah mewujudkannya atau aku binasa di dalamnya.
Comments
Post a Comment