Skip to main content

Dia

Sahur 1 Ramadhan 1438 H

Ada yang hilang. Aku memang bangun berkali-kali, mendengar suara tadarrus dan menanti waktu ini. Memasak. Tetapi sekarang aku duduk diam di dalam kamar. Aku tak bisa ikut berpuasa hari pertama ini.

Women and their period 😢

Aku tak terlalu sedih, tetapi tak memungkiri jika seperti ada ruang kosong. Namun insya Allah tak mengurangi kegembiraanku sambut Ramadhan.

Alhamdulillah, kemarin siang buku 'Ramadhan Produktif Untuk Penulis Kreatif' sampai di tanganku. Kasihan masnya. Dia sudah menelepon untuk konfirmasi akan mengantarkannya ke rumah. Qadarullah, sepulang kerja hapeku lowbat lalu ku matikan dan dicharging. Walhasil, masnya menelepon berkali-kali dan nyasar. Untung orangnya baik. Ia tetap tersenyum dan melanjutkan mengantar paket berikutnya ke Jenggik dan sekitarnya. Barakallahu fiik Mas.

"Cuman ini aja? Mahal banget?" Komentar Naq Janah. Ya, memang jika dilihat lembarannya saja tak mencapai 100. Malah kebanyakan isinya kosong karena kami yang akan mengisinya sendiri.

Tetapi sekali lagi, yang mahal adalah ilmunya. Sudah lama aku memendam keinginan untuk menjadi seorang penulis. Baru akhir-akhir ini Allah berikan hidayah untuk memperjuangkannya. Sejak satu bulan sebelumnya, aku mengikuti kelas Online dan banyak bertemu orang-orang hebat di dalamnya.

And boy, semangat dan optimisme mereka begitu besar. Mau tak mau menular kepadaku. And the admin sense it too obviously. It took their business into another level. The new and sometimes young writer and their enthusiasm are a very potential customers. We will took every help that we get. Even it's cost much. Even better when it free 😂

So with Bismillah, good intentions, and firm believe I started it. I won't waste the religious and good vibe around me. Hopefully, I can have some draft by the end of the month.

'The first draft of anything is shit' - Ernest Hemingway.

That quote hit me instantly. I'm no longer feel afraid to make mistakes when writing. Even the urgency to fix every word still there, I pushed myself to write down everything first. Then climb up once again and again to edit it. The result? The word flow more steady. Even flooded sometimes.

Dan di pagi mulia ini, aku mengingat kembali Ramadhan tahun lalu. Seperti baru kemarin. So near yet so far.

Before Ramadhan last year, I've been hopeful. Sayangnya, bukan sepenuhnya pada Allah. Tetapi lebih kepada seorang hambaNya yang ku percayai memiliki niat dan perangai yang baik. I was at love struck mode. I knew exactly what those women feel when they do everything for they loved one just to be brutally hurt at the end of time.

Women in love are fools. And I did many fool things that time. Istikharah but not already chose. Tell Naq Janah and Mak Tiri. Even my parents. That the worst part because they've became hopeful too. Of course they hurt too. For me.

Lately I'm realized that I'm not really in love with him. But with the idea of him. Some senior junior plot. Quite romantic in my mind.

But the hurts are the same. The breakdown. The depression. It was real. I was devastated, period. And miraculously, Allah still help me through it.

And now, I'm smiling. Glad, really thankful that Allah do whatever He did to me. Even Kak Ivy said I better off without him. That time, I knew I've been blind. As always, I believe that what I know is enough. What a confident girl. Little did I know that my 'knowledge' is barely scratch the surface.

Thanks to Allah here I am. Exactly one year ahead and I can say at same predicament. A man or two have their intentions clear that they want to marry me.

But alhamdulillah, alhamdulillah, and alhamdulillah I'm no longer want to rush anything. I'm not that desperate twenty and seven women anymore.

Let they say whatever they want to say. Do whatever they want to do. I'm hopeful, but not with them. Not that I'm not believe in their good grace. But I learn my lesson, in a hard way.

I'm willing to do the process in a proper way this time. And the rest, truly I put it in Allah's hand. Apapun hasilnya, pasti itu yang terbaik. No doubt about it.

Jadi, aku akan khawatir pada saatnya. Deg-degan pada saatnya. Jatuh cinta pada saatnya. Bercerita pada saatnya. Sebelum itu, biarlah ia menjadi rahasia untuk orang-orang terdekat yang bisa ku percayai.

Saat ini, aku fokus mengisi Ramadhanku. Mencapai target-targetku. Mengejar impianku. Melakukan apa yang harus dilakukan sewajarnya. Tetapi meniatkan ibadah dan doa sebaik-baiknya.

Sahur sudah selesai. Piring-piring dibereskan. Ibu, Naq Janah, dan Yoga sepertinya kembali tidur. Mamiq menunggu subuh dengan membaca Qur'an. Televisi masih menyala. Dan dalam hatiku, penuh syukur  mengingat ayat ini.

لِّـكَيْلَا تَأْسَوْا عَلٰى مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوْا بِمَاۤ اٰتٰٮكُمْ ۗ  وَاللّٰهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُوْرِ

"Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu, dan tidak pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong dan membanggakan diri,"
(QS. Al-Hadid 57: Ayat 23)

* Via Al-Qur'an Indonesia http://quran-id.com

Comments

Popular posts from this blog

Anggun: Ibu

Aku suka dangdut? Ngggg.. kayaknya nggak hard to believe banget. Apalagi karena aku juga suka lagu-lagu India. Lagu yang ku suka variatif, nggak terbatas di genre tertentu atau satu penyanyi. Yg penting ngena di hati. Dan malam ini, entahlah aku mesti senang atau sedih. Aku hampir menangis menyaksikan penampilan finalis DA3 dari Bima, Anggun. Mungkin karena mengetahui kisahnya sebagai TKI dan hanya pernah bertemu beberapa kali dengan anaknya. Mungkin karena di dekatku ada ibuq, dan membayangkan lagu itu adalah ungkapan hati ibuq dan ibu-ibu lainnya di seluruh dunia. Ditambah lagi aku belum bisa berbuat banyak untuknya. Atau mungkin, sekali lagi mungkin. Ini yang dikatakan: apa yang dilakukan dengan hati, akan sampai ke hati. Apalagi ketika baitnya sampai pada 'Kau adalah simbol kesempurnaan dariku yang tak sempurna'. Tuhan, sampai disini aku merinding. Betapa besar anugerah dan kenikmatan menjadi seorang ibu. Sesuatu yang kerapkali ku impikan. Tapi aku sadar, mungkin Allah ...

The Reflex

Siang ini di atas motor.. Tikungan agak tajam ke kanan tampak 50 meter di depanku. Tangan kiri sedia memegang rem. Tangan kanan yang sedari tadi konsen menarik gas mengendur dan berganti menarik rem. Lalu membawa stang motor sedikit membelok ke arah kanan. Tikungan terlewati dengan mulus. Semua dilakukan dengan spontan. Like they said, if you do something for years, you get pretty good at it. Or in my case, used to it. Because I'm not sure I'm a good or lousy rider. Sometimes it feels like the first but not rarely I feel the second. Aku melakukannya sebelum memikirkannya. Semua diatur otak di alam bawah sadar. Lalu ketika mobil dari arah berlawanan menyalip dan melewati kami dengan terpaut jarak sekian puluh senti saja, jantungku langsung seperti ingin meloncat dari rongganya. Bahkan jantungku bukan milikku sendiri. Ia bekerja mengikuti ritme tubuh. Sesuai dengan kebutuhan. Aku tak bisa mendiktenya untuk berdetak 85 kali saja. Ia memiliki mekanisme tersendiri. Pun paru-paru...

Malin Kundang

"Dimana itu Nak?" Pertanyaan protokoler akhirnya keluar di ujung sana. I almost roll my eyes if it wasn't for the answer itself. What was this place called again? My brain went blank. In panic state I running in storange room names my brain, rummaging for some memory. Nope, nada. Fortunately, there's last source of knowledge standing there. I turn to her and ask. "Dimana namanya ini lenga?" My, my. The look on her face is priceless. Just like I ask her where is my keys when its dangling in my bag. I I can't help but broke into laugh. "Ya Allah lenga beneran side lupa?! Karang Sukun." Cue for the stern-looking-mom-expression. It was so understatement. I was lived in that area for almost one year yet it's name easily slipped from my mind. I was never intended to comeback to my old landlord yet Cg's landlord came 500 kilometers across sea to attend her wedding. Yep, I can totally see the picture here. Not only that time Cg must huffing ...