Skip to main content

Bola

"Waaaah, bagus yaa kakinya Papi ada bolanya?"
"Huh?"
"Iya itu coba liat. Cuman Papi loh yang punya, yang lain mana ada. Yaya aja nggak punya."
"Huh? Alaq bal (ada bola). Badus ne nae tu (Bagusnya kakiku)"

The truth is, kaki kanan Dafi bergelembung. Menginjak bara api ketika bermain di halaman.

Sekarang juga grade 2, tetapi nggak terlalu luas dan merah. Dia juga nggak nangis lama. Hanya kalo ngeliat masih kayak nggak rela gitu. Ples kalo jalan masih nggak berani.

Jadilah fokus tindakan semalam adalah agar ia berani berjalan sendiri. Masih ngeluh dan takut karena jika menginjakkan kaki tiba-tiba, terasa sakit.

Akhirnya Allah gerakkan lisan ini untuk menyebut kalimat itu. Ada bola di kakinya. Anak batita mah senang-senang saja dikatakan spesial memiliki bola yang nempel di kaki. Tak lama bahkan dia sudah berani berjalan (meskipun saat mulai melangkah masih mengeluh). Lalu kemudian 'membanggakan' bolanya pada Mamiq. Yang kemudian dibalas dengan ditiup-ditiup lalu dibacakan doa. Kemudian Dafi mengangguk puas dan menuju kamar untuk tidur.

Seringkali saya merenung. Darimana saya bisa tahu akan mengatakan atau melakukan apa pada satu saat? Beberapa kali benar, namun tak jarang salah.

Hanya Allah yang berkuasa atas hal itu.

Lalu menilik lagi cerita Dafi, saya jadi tertegun. Mengapa tak bisa seperti dia?

Luka, rasa sakit, segala jenis ujian, itu datangnya dari Allah. Yang akan jalani diri kita sendiri. Lalu mengapa tak menjalaninya dengan keyakinan diri yang baik?

Menganggur misalnya. Kita bisa katakan pada diri itu adalah liburan. Kesempatan menghabiskan waktu bersama keluarga. Waktu untuk mencoba hal-hal baru yang selama ini tak bisa dilakukan karena sibuk bekerja.

Orang lain bisa menyebut apa saja:
-Kasihan
-Malas berusaha
-Nasip jelek
-Bermasalah di tempat kerja sebelumnya
-dll

Seribu orang bisa jadi ada seribu lebih pendapat tentang kita. Padahal dia tak tahu kisah sebenarnya. Kalau pun iya, itu tak lengkap. Paling tidak ia tak tahu apa yang kita rasakan sebenarnya.

Dengan banyaknya penafsiran, pendapat, dan komentar tentu tak semuanya akan positif dan membangun self esteem kita.

Lantas buat apa dipikirkan? Kita tak memiliki sedikit pun kewajiban untuk itu.

Mereka bisa katakan A, B, C, D, E. Tapi jika kita ingin menyakini Z maka why not? Apalagi jika pemikiran Z itu bisa membuat kita menjalani hidup ini dengan lebih bahagia dan bersyukur.

Maka berilah sugesti yang baik pada diri sendiri.

Sendirian tak lulus beasiswa, katakan pada diri. Aku spesial. Tidak semua orang dapat kesempatan untuk mencoba dua kali. Berusaha dua kali. Berdoa dua kali. Bertawakkal dua kali.

Teman-teman sudah menikah dan punya anak, tetaplah tersenyum. Allah masih ingin kau meminta padanya. Menjalani hidup dengan menyenangkan keluarga. Menjelajahi tempat-tempat istimewa. Mengembangkan keahlian diri seluas-luasnya.

Orang-orang akan terus berkomentar dengan segala baik buruknya. Kabar baiknya, kau tak dilahirkan untuk menyenangkan mereka. Dan kau akan baik-baik saja jika tak terlalu menghiraukannya.

Comments

Popular posts from this blog

Anggun: Ibu

Aku suka dangdut? Ngggg.. kayaknya nggak hard to believe banget. Apalagi karena aku juga suka lagu-lagu India. Lagu yang ku suka variatif, nggak terbatas di genre tertentu atau satu penyanyi. Yg penting ngena di hati. Dan malam ini, entahlah aku mesti senang atau sedih. Aku hampir menangis menyaksikan penampilan finalis DA3 dari Bima, Anggun. Mungkin karena mengetahui kisahnya sebagai TKI dan hanya pernah bertemu beberapa kali dengan anaknya. Mungkin karena di dekatku ada ibuq, dan membayangkan lagu itu adalah ungkapan hati ibuq dan ibu-ibu lainnya di seluruh dunia. Ditambah lagi aku belum bisa berbuat banyak untuknya. Atau mungkin, sekali lagi mungkin. Ini yang dikatakan: apa yang dilakukan dengan hati, akan sampai ke hati. Apalagi ketika baitnya sampai pada 'Kau adalah simbol kesempurnaan dariku yang tak sempurna'. Tuhan, sampai disini aku merinding. Betapa besar anugerah dan kenikmatan menjadi seorang ibu. Sesuatu yang kerapkali ku impikan. Tapi aku sadar, mungkin Allah ...

The Reflex

Siang ini di atas motor.. Tikungan agak tajam ke kanan tampak 50 meter di depanku. Tangan kiri sedia memegang rem. Tangan kanan yang sedari tadi konsen menarik gas mengendur dan berganti menarik rem. Lalu membawa stang motor sedikit membelok ke arah kanan. Tikungan terlewati dengan mulus. Semua dilakukan dengan spontan. Like they said, if you do something for years, you get pretty good at it. Or in my case, used to it. Because I'm not sure I'm a good or lousy rider. Sometimes it feels like the first but not rarely I feel the second. Aku melakukannya sebelum memikirkannya. Semua diatur otak di alam bawah sadar. Lalu ketika mobil dari arah berlawanan menyalip dan melewati kami dengan terpaut jarak sekian puluh senti saja, jantungku langsung seperti ingin meloncat dari rongganya. Bahkan jantungku bukan milikku sendiri. Ia bekerja mengikuti ritme tubuh. Sesuai dengan kebutuhan. Aku tak bisa mendiktenya untuk berdetak 85 kali saja. Ia memiliki mekanisme tersendiri. Pun paru-paru...

Malin Kundang

"Dimana itu Nak?" Pertanyaan protokoler akhirnya keluar di ujung sana. I almost roll my eyes if it wasn't for the answer itself. What was this place called again? My brain went blank. In panic state I running in storange room names my brain, rummaging for some memory. Nope, nada. Fortunately, there's last source of knowledge standing there. I turn to her and ask. "Dimana namanya ini lenga?" My, my. The look on her face is priceless. Just like I ask her where is my keys when its dangling in my bag. I I can't help but broke into laugh. "Ya Allah lenga beneran side lupa?! Karang Sukun." Cue for the stern-looking-mom-expression. It was so understatement. I was lived in that area for almost one year yet it's name easily slipped from my mind. I was never intended to comeback to my old landlord yet Cg's landlord came 500 kilometers across sea to attend her wedding. Yep, I can totally see the picture here. Not only that time Cg must huffing ...