Skip to main content

Merekam Ramadhan

M"Jadi gimana target Ramadhan tahun ini? Jangan kayak tahun kemarin ya. Udah bikin-bikin tapi pas terakhir nggak ada kabar.."

Adalah status pesbuk saya beberapa minggu lalu. Sudah menjadi rutinitas tahunan dengan beberapa teman untuk menetapkan target Ramadhan. Sebagai pewujudan dari ayat 'berlomba-lombalah dalam kebaikan'.

Target, maknanya adalah sasaran (batas ketentuan dan sebagainya) yang telah ditetapkan untuk dicapai (KBBI, 2017).

Dengan memberi batas, maka ada garis yang tak boleh dilewati. Sama halnya dengan ketentuan, mencakup beberapa hal yang harus dilakukan atau sebaliknya, harus dihindari.

Dalam Islam, kita dibiasakan untuk melakukan segala sesuatu sesuai aturan. Ada ketentuan-ketentuan yang harus dipenuhi agar apapun yang kita lakukan bisa dinilai sebagai ibadah.

Jadi, membuat target pun semestinya harus yang jelas dan teliti. Agar lebih mudah pengaplikasiannya dan tak menyisakan kebingungan nantinya.

Meminjam istilah keperawatan, ada akronim SMART untuk merumuskan sebuah target atau tujuan. Artinya:

S: Spesific (harus mendetail tak tidak menimbulkan persepsi ganda)
M: Measurable (dapat diukur, idealnya bisa dilihat, didengar, atau dirasakan)
A: Achievable (dapat dicapai, jangan terlalu muluk-muluk, sesuai dengan situasi dan kondisi)
R: Reasonable (bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah, mungkin disini dapat diartikan sebagai ada dalilnya dalam Qur'an dan Hadist)
T: Time (ada jangka waktu pelaksanaan)

Jadi, berdasarkan rumusan diatas saya mencoba menuliskan beberapa target ibadah Ramadhan tahun ini (selain puasa tidak bolong tentunya):
1. Khatam Qur'an 1 kali
2. Membaca terjemahan Al Qur'an minimal 1 lembar setiap pagi setelah Subuh.
3. Bersedekah minimal 2 ribu perhari
4. Shalat Tahajjud 4 rakaat minimal 5x seminggu
5. Shalat Dhuha 4 rakaat minimal 5x seminggu
6. Tidak pernah melewatkan shalat tarawih terutama di masjid.
7. Shalat sunnah rawatib minimal 6 rakaat setiap hari (sebelum Subuh, sebelum Ashar, dan sesudah magrib)
8. Berzikir pagi dan petang minimal 7x seminggu
9. a) Memberi takjil pada tetangga 1x berupa jajan 3 porsi untuk 5 keluarga.
b) Memberi takjil 15 porsi ke masjid 1x
10. Menyambung silaturahim dengan minimal mengirim pesan pada 3 orang berbeda setiap minggu.
11. Meniatkan i'tikaf.
12. Menulis masing-masing 3 kesalahan dan kebaikan (boleh diri atau orang lain) pada puasa hari itu dan 3 alinea ulasannya setiap malam menjelang tidur.

Itulah contohnya dan masih bisa dikembangkan lagi. Poin 1-11 adalah target biasa. Maksudnya biasa ditargetkan setiap tahun. Tetapi tahun ini saya menambahkan satu target lagi. Membiasakan menulis.

Mengapa menulis? Karena dengannyalah ilmu bisa diikat, kata Ali Bin Abi Thalib. Namun tak hanya ilmu, ia juga bisa mengikat komitmen.

Seperti target ini, jika sudah ditulis maka jelas yang diinginkan dan akan terpadu untuk melakukannya. Apalagi jika berani mempostingnya di media sosial.

Bukan untuk pamer, tetapi niatkan sedekah dan mengajak orang pada kebaikan. Sekaligus sebagai reminder diri. Malu pada orang yang baca jika tak dilaksanakan.

Well, bukan niat yang baik. Karena melakukan sesuatu agar dilihat orang dapat diartikan riya. Tapi untuk bagi beberapa orang, ini suatu proses. Dan proses yang bisa diperbaiki niatnya terus menerus selama dilakukan.

Dan mengapa memilih momentum Ramadhan? Karena banyak sekali orang memilih bulan ini untuk memulai kebaikan dan meninggalkan keburukan.

Jika pada Ramadhan dan segala keberkahannya saja kita tak mampu menjadi lebih baik maka harus menunggu bulan apa lagi?

Meskipun demikian, tak bisa juga menunggu Ramadhan lalu sim salabim semuanya bisa dicapai. Persiapan diri harus dimulai dari sekarang. Agar di Ramadhan kebiasaan baik itu sudah terbentuk dan tinggal dikuatkan.

Puji syukur kepada Allah yang telah memberi jalan pada saya untuk bergabung di Komunitas Menulis Online Batch 9. Dipertemukan dengan coach-coach handal dan ratusan orang hebat lainnya yang berkomitmen untuk belajar menulis.

Semoga tujuan ini tak hanya sekedar bisa menulis sebuah buku, tetapi juga mengatakan diri menulis kebaikan. Untuk diri sendiri dan orang lain.

Allahumma yassir wa laa tu'assir. Yaa Allah berikanlah kemudahan dan jangan Engkau persulit. Aamiin.

Comments

Popular posts from this blog

Anggun: Ibu

Aku suka dangdut? Ngggg.. kayaknya nggak hard to believe banget. Apalagi karena aku juga suka lagu-lagu India. Lagu yang ku suka variatif, nggak terbatas di genre tertentu atau satu penyanyi. Yg penting ngena di hati. Dan malam ini, entahlah aku mesti senang atau sedih. Aku hampir menangis menyaksikan penampilan finalis DA3 dari Bima, Anggun. Mungkin karena mengetahui kisahnya sebagai TKI dan hanya pernah bertemu beberapa kali dengan anaknya. Mungkin karena di dekatku ada ibuq, dan membayangkan lagu itu adalah ungkapan hati ibuq dan ibu-ibu lainnya di seluruh dunia. Ditambah lagi aku belum bisa berbuat banyak untuknya. Atau mungkin, sekali lagi mungkin. Ini yang dikatakan: apa yang dilakukan dengan hati, akan sampai ke hati. Apalagi ketika baitnya sampai pada 'Kau adalah simbol kesempurnaan dariku yang tak sempurna'. Tuhan, sampai disini aku merinding. Betapa besar anugerah dan kenikmatan menjadi seorang ibu. Sesuatu yang kerapkali ku impikan. Tapi aku sadar, mungkin Allah ...

The Reflex

Siang ini di atas motor.. Tikungan agak tajam ke kanan tampak 50 meter di depanku. Tangan kiri sedia memegang rem. Tangan kanan yang sedari tadi konsen menarik gas mengendur dan berganti menarik rem. Lalu membawa stang motor sedikit membelok ke arah kanan. Tikungan terlewati dengan mulus. Semua dilakukan dengan spontan. Like they said, if you do something for years, you get pretty good at it. Or in my case, used to it. Because I'm not sure I'm a good or lousy rider. Sometimes it feels like the first but not rarely I feel the second. Aku melakukannya sebelum memikirkannya. Semua diatur otak di alam bawah sadar. Lalu ketika mobil dari arah berlawanan menyalip dan melewati kami dengan terpaut jarak sekian puluh senti saja, jantungku langsung seperti ingin meloncat dari rongganya. Bahkan jantungku bukan milikku sendiri. Ia bekerja mengikuti ritme tubuh. Sesuai dengan kebutuhan. Aku tak bisa mendiktenya untuk berdetak 85 kali saja. Ia memiliki mekanisme tersendiri. Pun paru-paru...

Malin Kundang

"Dimana itu Nak?" Pertanyaan protokoler akhirnya keluar di ujung sana. I almost roll my eyes if it wasn't for the answer itself. What was this place called again? My brain went blank. In panic state I running in storange room names my brain, rummaging for some memory. Nope, nada. Fortunately, there's last source of knowledge standing there. I turn to her and ask. "Dimana namanya ini lenga?" My, my. The look on her face is priceless. Just like I ask her where is my keys when its dangling in my bag. I I can't help but broke into laugh. "Ya Allah lenga beneran side lupa?! Karang Sukun." Cue for the stern-looking-mom-expression. It was so understatement. I was lived in that area for almost one year yet it's name easily slipped from my mind. I was never intended to comeback to my old landlord yet Cg's landlord came 500 kilometers across sea to attend her wedding. Yep, I can totally see the picture here. Not only that time Cg must huffing ...