Skip to main content

Opportunist: a case of comparison

The opportunists. Adalah kata yang pertama kali terlintas ketika melihat sepasang suami istri yang berjualan Nasi Puyung di Kawasan Pusuk Sembalun.

Nasi Puyung yang pedas dimakan di udara dingin Pusuk adalah perpaduan yang sangat ciamik. Ditambah rasa lapar dan lelah setelah menempuh perjalanan jauh akan membuat nasi hangat terasa lebih nikmat. Belum lagi jika dihitung tak ada saingan lain yang mumpuni.

Kuliner yang banyak adalah cilok. Makanan berat yang lain adalah mie instan dan kalau pun ada nasi sudah dibungkus beberapa jam sebelumnya. Harga juga tak berbeda dari outlet Nasi Puyung di tempat lain. 10K untuk yang biasa dan 15K untuk yang komplit. Lumayan murah untuk ukuran tempat wisata. Oh ya, satu lagi: porsinya lumayan besar dengan tambahan lauk ayam suwir.

Jadi tak heran ketika akan memesan saya harus mengantri karena mereka sibuk melayani pembeli yang lain. Padahal jam makan siang masih satu jam lagi. Sang istri yang menyiapkan nasi dan lauk sedangkan suaminya yang menyajikan pada para pembeli.

Pak Haji yang saya lupa tanya namanya itu juga ramah. Menjawab pertanyaan saya dengan baik dan ketika ada yang komplain ia minta maaf dan tersenyum. Pokoknya, nggak nyesel deh jadi customernya.

Eniwe Bapaknya cuman jualan Sabtu Minggu aja ya? Belum tahu kalau hari libur lainnya.

Okay, dengan tiga bungkus nasi saya dan bibi melanjutkan perjalanan ke Desa Sembalun Bumbung. Nyari strawberry.

Setibanya disana, sudah banyak wisatawan lain yang turun ke ladang strawberry yang ada di kiri kanan jalan. Tetapi saya memilih satu tempat agar bisa sekalian nambah angin di bengkel depan ladang.

Pertimbangan kedua, banyak berugak (bale-bale) yang bisa digunakan sebagai tempat berteduh dan makan. Karena kami membawa dua anak kecil, maka tempat istirahat yang agak pribadi penting sekali.

Sedikit heran sih, kenapa sepi ya? Padahal tempatnya nyaman. Sedangkan di tempat lain yang biasa saja ramainya bukan main. Harusnya ini sudah jadi warning buat saya. Tapi tidak, saya dengan pedenya masuk tanpa bertanya berapa tiket masuk dan peraturan lainnya.

Maka bayangkan betapa kagetnya saya ketika pemiliknya bilang tiket masuk 10K. Untuk anak-anak juga sama. Padahal beberapa bulan yang lalu hanya 5K. Tapi baiklah it's okay, sudah kadung ini.

Tetapi kekecewaan ternyata tak berakhir disitu karena ternyata buah strawberry yang matang hanya sedikit. Jadi mencarinya harus ekstra. Yang bikin saya lebih kaget adalah ketika anak-anak (entah itu anak si ibu atau bukan) berteriak sambil menunjuk sepupu saya "Woi, nggak boleh metik naruhnya di baju gitu! Harus pake keranjang."

Lalu mereka bergegas memberikan keranjang pada sepupu saya yang ekspresinya antara bingung dan malu. Tak dapat menahan diri saya lantas bertanya "Terus bolehnya diapain?"

"Dipetik langsung dimakan." Jawabnya tanpa melihat ke wajah saya. Lah, kalo gue mo ngumpulin dulu baru dimakan elu mo ngapain tong? Kan liat gue lagi makan siang *ngedumel dalam hati.

Seperti Allah mengerti, karena dumelan saya langsung terjawab lewat kejadian di berugak seberang. "Bu, ini pakai plastik. Nggak boleh petik buah kalau nggak pakai keranjang. Nggak boleh makan di dalam juga. Kalau makan di dalam jadinya 15K per orang."

Ampuuun dijeee, nggak kuku deh sama si ibu. Ternyata beliau mengamati setiap gerak gerik pengunjung di ladangnya. Nggak boleh ini dan itu. Harus begini dan begitu. Jadi mikir, seandainya si ibu menjelaskan seabrek peraturan ini dari awal, masih ada nggak ya yang mau masuk?

Uh, dasar mentang-mentang rame cari kesempatan. Rutuk hati jahat ini.

Rupanya kekesalan serupa juga dirasakan ibu yang di berugak sebelah. Bedanya beliau nggak mancung seperti saya, tetapi saling menertawakan dengan keluarganya yang lain. Sempat teriak juga dengan nada menggoda "Hayo masuk-masuk, banyak yang merah-merah. Tapi itu bunga di pagar, bukan strawberry."

Entah pemilik ladang mendengarnya atau tidak. Yang jelas kami ikut tertawa.

Jujur saya dan bibi masih kecewa. Tapi gimana? Nasi sudah menjadi bubur. Salah kami juga dari awal mengapa tidak bertanya dulu. Main masuk-masuk aja.

Setelah pulang, ada lagi kejadian yang sepertinya makin membenarkan pendapat kami jika si ibu urat ramahnya bermasalah. Ketika beberapa pengendara sepeda motor ingin menumpang istirahat di berugak yang masuk kawasan ladang namun tak dipagar.

Mereka sampai bertanya apakah harus bayar juga walaupun hanya untuk duduk menyeruput kopi yang dibawa sendiri. Pada awalnya diizinkan masuk, tetapi baru duduk sebentar mereka dipersilakan keluar.

Iiiih, amit-amit. Semoga kita dijauhkan dari sifat seperti itu, pikir saya. Nggak lagi-lagi deh balik kesini.

Pikiran ini bertahan sampai sore tadi. Tetapi ketika membaca share di channel Telegram Kang Dewa Eka Prayoga, saya tersadar.

Kang Dewa juga sempat tak suka dengan cara seorang pedagang kue putu menjajakan dagangannya. Ternyata belakangan istrinya melihat sang pedagang sedang muraja'ah hafalan Qur'an.

Astagfirullahaladzim. Jahatnya saya. Berprasangka sedemikian buruk pada si ibu. Padahal saya tidak tahu mengapa beliau melakukan apa yang ia lakukan. Mungkin saja keluarga sedang sakit dan butuh biaya besar sehingga ia harus mati-matian mencari rezeki.

Saya juga baru mengenalnya saat itu. Tidak tahu kesehariannya seperti apa. Jadi bagaimana bisa langsung menghakimi?

Belum lagu jika dihitung fakta beliau sudah menikah dan menjadi seorang ibu. Agamanya sudah separuh sempurna. Sedangkan saya? Bertakwa pada setengahnya saja masih jatuh bangun.

Ah, jadi ingat Aa Gym lagi. Carilah seribu satu alasan untuk tidak berpasangan buruk terhadap orang lain. Satu keburukan yang kita lihat, ingat lagi seribu kebaikannya.

Tak mudah, tapi bukan berarti tak bisa. Karena itu kita harus terus belajar dan saling mengingatkan.

Karena salah satu ciri orang yang tidak merugi, adalah mereka yang saling menasihati dalam menetapi kebenaran dan kesabaran.

Alhamdulillah, terimakasih untuk pelajaran di perjalanan ini.

Comments

Popular posts from this blog

Anggun: Ibu

Aku suka dangdut? Ngggg.. kayaknya nggak hard to believe banget. Apalagi karena aku juga suka lagu-lagu India. Lagu yang ku suka variatif, nggak terbatas di genre tertentu atau satu penyanyi. Yg penting ngena di hati. Dan malam ini, entahlah aku mesti senang atau sedih. Aku hampir menangis menyaksikan penampilan finalis DA3 dari Bima, Anggun. Mungkin karena mengetahui kisahnya sebagai TKI dan hanya pernah bertemu beberapa kali dengan anaknya. Mungkin karena di dekatku ada ibuq, dan membayangkan lagu itu adalah ungkapan hati ibuq dan ibu-ibu lainnya di seluruh dunia. Ditambah lagi aku belum bisa berbuat banyak untuknya. Atau mungkin, sekali lagi mungkin. Ini yang dikatakan: apa yang dilakukan dengan hati, akan sampai ke hati. Apalagi ketika baitnya sampai pada 'Kau adalah simbol kesempurnaan dariku yang tak sempurna'. Tuhan, sampai disini aku merinding. Betapa besar anugerah dan kenikmatan menjadi seorang ibu. Sesuatu yang kerapkali ku impikan. Tapi aku sadar, mungkin Allah ...

The Reflex

Siang ini di atas motor.. Tikungan agak tajam ke kanan tampak 50 meter di depanku. Tangan kiri sedia memegang rem. Tangan kanan yang sedari tadi konsen menarik gas mengendur dan berganti menarik rem. Lalu membawa stang motor sedikit membelok ke arah kanan. Tikungan terlewati dengan mulus. Semua dilakukan dengan spontan. Like they said, if you do something for years, you get pretty good at it. Or in my case, used to it. Because I'm not sure I'm a good or lousy rider. Sometimes it feels like the first but not rarely I feel the second. Aku melakukannya sebelum memikirkannya. Semua diatur otak di alam bawah sadar. Lalu ketika mobil dari arah berlawanan menyalip dan melewati kami dengan terpaut jarak sekian puluh senti saja, jantungku langsung seperti ingin meloncat dari rongganya. Bahkan jantungku bukan milikku sendiri. Ia bekerja mengikuti ritme tubuh. Sesuai dengan kebutuhan. Aku tak bisa mendiktenya untuk berdetak 85 kali saja. Ia memiliki mekanisme tersendiri. Pun paru-paru...

Malin Kundang

"Dimana itu Nak?" Pertanyaan protokoler akhirnya keluar di ujung sana. I almost roll my eyes if it wasn't for the answer itself. What was this place called again? My brain went blank. In panic state I running in storange room names my brain, rummaging for some memory. Nope, nada. Fortunately, there's last source of knowledge standing there. I turn to her and ask. "Dimana namanya ini lenga?" My, my. The look on her face is priceless. Just like I ask her where is my keys when its dangling in my bag. I I can't help but broke into laugh. "Ya Allah lenga beneran side lupa?! Karang Sukun." Cue for the stern-looking-mom-expression. It was so understatement. I was lived in that area for almost one year yet it's name easily slipped from my mind. I was never intended to comeback to my old landlord yet Cg's landlord came 500 kilometers across sea to attend her wedding. Yep, I can totally see the picture here. Not only that time Cg must huffing ...