Skip to main content

Terlambat

Salah satu masa tergelap dalam hidup saya adalah bulan-bulan menanti kepastian pelaksanaan profesi Ners.

Tanggal tak kunjung jua ditentukan, sementara orang tua selalu menanyakan.

Seumur-umur belum pernah namanya studi molor dari jadwalan.

Untunglah ada pekerjaan dan komunitas BSMI Bali disana. Jika tidak maka entahlah apa yang akan terjadi.

Tapi tetap, suatu kesempatan berani bilang gini: Yaa Allah, dosaku banyak banget ya sampe dihukum begini? Dan mendadak petir menyambar, halilintar menggelegar.

Jujur, masih ada rasa nyeri jika ingat kala itu. Meskipun bukan sepenuhnya salah mahasiswa. Tetapi inilah derita pribadi introvert. Selalu menyalahkan diri sendiri. Nyeri itu bertahan sampai beberapa lama. Butuh sesuatu apa gitu untuk bisa move on.

Dan closure itu datang pagi ini. Lewat materi yang disampaikan dr. Kurnia Akmal, Kabid P3KL Dikes Lombok Timur.

"Saya masuk kuliah 1998 dan selesai sembilan tahun kemudian. Bukan termasuk waktu yang pendek. Dalam waktu itu saya merasakan betul artinya perjuangan karena saya tidak menjalaninya dengan enak-enak saja. "

"Saya yakin itu bukan karena malas-malasan. Ada sih malas-malasannya tetapi sedikit."

Nada bicaranya tak ada keraguan sedikit pun. Duh jadi malu. Studi saya hanya tertunda satu semester dan itupun bukan karena 'salah' pribadi tetapi sikap sudah seperti kiamat sudah di depan mata.

Bagaimana jika itu karena kesalahan diri? Saya tak tahu kapan akan bisa bangkit lagi.

Merasa sudah bisa memaafkan kesalahan masa lalu. Harusnya juga bisa berdamai dengan episode ini.

Maka bismillah, saya menerima segalanya.

Keterlambatan, apapun sebabnya seringkali adalah salah manusia sendiri. Tetapi tak akan terjadi tanpa restu Ilahi.

Fakta itu sendiri harusnya sudah bisa menjadi alasan untuk legowo terhadap takdir. Namun namanya manusia, sifatnya tak jauh-jauh dari suka membantah. Mengeluh. Tak bersyukur. Susah bersabar.

Astagfirullah..

Padahal tak mungkin Allah mencederai hambaNya dengan memberikan yang terburuk. Justru dalam penundaan seringkali Allah berikan pelajaran-pelajaran manis untuk menjalani babak hidup selanjutnya.

Share berikutnya tentang keterlambatan datang dari Kang Tiesna Sutisna, PJ saya di KMO Batch 9 Kelompok 3.

"Umur saya udah kembar 4 ☺ tepatnya 44 tahun.
Diantara para PJ saya paling tua. Rata-rata para PJ KMO 20-an dan 30-an."

"Temen-temen pasti berpikir, pak Tiesna koq masih berkutat di komunitas yang sifatnya belajar kaya KMO sih, padahal usia segitu mah harusnya sudah jadi Penulis BEST Seller tenar dan udah banyak nerbitin buku. Kalau dalam pikiran teman-teman seperti itu, saya jawab "Ya, hati kecil saya menyesal, kenapa baru ngeuh tentang menulis justru di usia yang tidak muda lagi".

Sesal kemudian tiada guna, kata pepatah lama. Betapa ingin saya katakan itu tak sepenuhnya benar. Karena orang yang menyesali masa lalunya lalu bertobat dan bersungguh-sungguh mengisi masa depannya bisa jadi lebih baik daripada orang yang tak pernah menyesali apapun.

Dan lagi, setiap takdir sudah tertulis. Tak ada yang akan maju atau terlambat supersekian detik pun. Semua bergerak dengan jam waktu masing-masing. Tak akan tertukar.

Jadi ingat Po yang hopeless setelah bertanya pada Tiger tentang innerpeace. Beberapa pendekar mendapatkannya setelah melalui perjuangan berat dan panjang. Namun di akhir cerita, justru Po menguasainya dalam waktu singkat. Meskipun dengan perjuangan yang tak kalah dahsyat.

Begitulah keyakinan saya saat ini. Tak ada yang tak mungkin. Terlambat beberapa puluh tahun pun adalah masih lebih baik, daripada tidak sama sekali. Berusaha, berdoa, dan tawakkal. Ia Yang Tak Pernah tidur akan selalu menyaksikan.

Siapa tahu bisa seperti Po. Meraih mimpi dengan segera. A girl can dream. Not only because she can, but mainly because she have Allah to rely on.

Comments

Popular posts from this blog

Anggun: Ibu

Aku suka dangdut? Ngggg.. kayaknya nggak hard to believe banget. Apalagi karena aku juga suka lagu-lagu India. Lagu yang ku suka variatif, nggak terbatas di genre tertentu atau satu penyanyi. Yg penting ngena di hati. Dan malam ini, entahlah aku mesti senang atau sedih. Aku hampir menangis menyaksikan penampilan finalis DA3 dari Bima, Anggun. Mungkin karena mengetahui kisahnya sebagai TKI dan hanya pernah bertemu beberapa kali dengan anaknya. Mungkin karena di dekatku ada ibuq, dan membayangkan lagu itu adalah ungkapan hati ibuq dan ibu-ibu lainnya di seluruh dunia. Ditambah lagi aku belum bisa berbuat banyak untuknya. Atau mungkin, sekali lagi mungkin. Ini yang dikatakan: apa yang dilakukan dengan hati, akan sampai ke hati. Apalagi ketika baitnya sampai pada 'Kau adalah simbol kesempurnaan dariku yang tak sempurna'. Tuhan, sampai disini aku merinding. Betapa besar anugerah dan kenikmatan menjadi seorang ibu. Sesuatu yang kerapkali ku impikan. Tapi aku sadar, mungkin Allah ...

The Reflex

Siang ini di atas motor.. Tikungan agak tajam ke kanan tampak 50 meter di depanku. Tangan kiri sedia memegang rem. Tangan kanan yang sedari tadi konsen menarik gas mengendur dan berganti menarik rem. Lalu membawa stang motor sedikit membelok ke arah kanan. Tikungan terlewati dengan mulus. Semua dilakukan dengan spontan. Like they said, if you do something for years, you get pretty good at it. Or in my case, used to it. Because I'm not sure I'm a good or lousy rider. Sometimes it feels like the first but not rarely I feel the second. Aku melakukannya sebelum memikirkannya. Semua diatur otak di alam bawah sadar. Lalu ketika mobil dari arah berlawanan menyalip dan melewati kami dengan terpaut jarak sekian puluh senti saja, jantungku langsung seperti ingin meloncat dari rongganya. Bahkan jantungku bukan milikku sendiri. Ia bekerja mengikuti ritme tubuh. Sesuai dengan kebutuhan. Aku tak bisa mendiktenya untuk berdetak 85 kali saja. Ia memiliki mekanisme tersendiri. Pun paru-paru...

Malin Kundang

"Dimana itu Nak?" Pertanyaan protokoler akhirnya keluar di ujung sana. I almost roll my eyes if it wasn't for the answer itself. What was this place called again? My brain went blank. In panic state I running in storange room names my brain, rummaging for some memory. Nope, nada. Fortunately, there's last source of knowledge standing there. I turn to her and ask. "Dimana namanya ini lenga?" My, my. The look on her face is priceless. Just like I ask her where is my keys when its dangling in my bag. I I can't help but broke into laugh. "Ya Allah lenga beneran side lupa?! Karang Sukun." Cue for the stern-looking-mom-expression. It was so understatement. I was lived in that area for almost one year yet it's name easily slipped from my mind. I was never intended to comeback to my old landlord yet Cg's landlord came 500 kilometers across sea to attend her wedding. Yep, I can totally see the picture here. Not only that time Cg must huffing ...