Skip to main content

Magang

"Jadi sekali lagi saya tegaskan, apa kamu sanggup bekerja disini tanpa menerima gaji? Dan sanggup di kemudian hari tidak menuntut itu apalagi diangkat menjadi PNS?"

Jika ditanya seminggu yang lalu, aku masih akan ragu menjawab. Antara bilang yang sebenarnya atau apa yang ingin mereka dengar.

Jujur aku sangat bimbang menerima posisi magang ini, karena tahu benar tanpa gaji. Sedangkan di Namira yang bergaji pun aku masih ngos-ngosan. Akhir bulan tetap minta di ibu. Belum lagi jika ditambah fakta aku ragu diterima murni atau karena ada apanya.

Ibuq dan Mamiq begitu gembira mendengar kabar ini. Setidaknya anaknya bekerja setiap hari dan tempatnya tidak terlalu jauh. Belum lagi jika dihitung ada peluang untuk menjadi PNS. Masalah gaji nomer sekian.

Tetapi alasan paling kuat adalah karena mendengar nasihat dari Mas Ippho Santosa. "Jika anda bekerja dengan ketekunan orang yang pantas digaji 10 juta tetapi hanya mendapatkan 2 juta dari tempat anda bekerja, maka percayalah. Allah akan memberikan lagi yang 8 juta dari sumber lain. Mungkin tak lantas berupa uang. Tetapi bisa jadi dalam bentuk kesehatan, pasangan dan anak-anak yang shalih."

Huhuhu.. Mengapa aku begitu perhitungan? Tak lain karena sudah merasakan bagaimana 'pegang uang sendiri' lalu sekarang kembali meminta segalanya pada orang tua. Cukuplah ini saja. Aku tak akan lebih merendahkan diri lagi dengan menyebut kesuksesan orang lain.

Atau benarkah karena itu? Mungkin itu yang ingin aku percaya. Padahal hati kecil tahu karena jiwa berbagi itu jarang bahkan hampir tak pernah diasah lagi. Maka tingkat kepedulianku jauh berkurang. Kepekaan akan masalah sosial juga rendah. Buktinya begitu sulit aku bersedekah dan melakukan kegiatan sosial lainnya.

Padahal dulu jadi relawan aku begitu rajin. Sampai seringkali menomorsekiankan kuliah. Tapi sekarang? Hujan sedikit sudah telat liqo. Malas sedikit terlambat mengisi rohis.

Lalu mengisi waktu dengan pengabdian masyarakat ini aku begitu lambat berpikir. Menimbang ini itu. Pada saatnya aku harus bertanya pada Mamiq yang sebenarnya. Aku tak boleh menyimpan prasangka buruk ini.

Mengapa tak sekarang? Toh kalau pun ada sesuatu dan lain hal, sudah terlambat untuk memperbaikinya. Seorang teman memberi saran, walaupun 'mungkin' dimulai dengan sesuatu yang salah. Jadikan sisanya benar dengan bekerja sebaik-baiknya. Kita tidak tahu rencana Allah setelah itu.

Dan terakhir, bukankah dulu aku begitu bangga dan bahagia menjadi relawan? Mengapa tak menganggap ini juga bagian dari kerelawanan?

Padahal inilah esensinya. Dulu, mungkin aku bersemangat karena semua relawan memiliki 'pekerjaan lain yang diharapkan' selain menjadi relawan. Tetapi sekarang, ini adalah 'pekerjaan' pokokku. Maka aku harus mencari 'yang diharapkan'  lewat jalan lain. Yang semoga bisa segera terbuka.

Inilah mungkin yang Allah mau. Ketika kondisi kondusif akan mendukung kita untuk berkembang. Tetapi tetap berkembang di kondisi sulit itu luar biasa. Mudah-mudahan aku bisa.

Membuktikan aku memang benar-benar siap bekerja tanpa imbalan dari manusia. Yang bahkan menurut mereka yang sudah jadi pegawai pun masih kekurangan. Apalah lagi menuntut jadi PNS. The horror.

Maka bismillah, ku mulai pengabdian ini untuk mencari ridha Allah, menjadi bakti bagi kedua orangtua ku, dan pelayanan bagi masyarakat.

Hanya untuk enam bulan, paling lama setahun. Entahlah tapi aku tak merasa akan seterusnya disini. Seperti kata Ibuq, jalani saja. Sambil perbaiki diri. Lalu kembangkan diri di bidang lain.

Dan tak lupa, menanti janji terbaik dari Ilahi.

Comments

Popular posts from this blog

Anggun: Ibu

Aku suka dangdut? Ngggg.. kayaknya nggak hard to believe banget. Apalagi karena aku juga suka lagu-lagu India. Lagu yang ku suka variatif, nggak terbatas di genre tertentu atau satu penyanyi. Yg penting ngena di hati. Dan malam ini, entahlah aku mesti senang atau sedih. Aku hampir menangis menyaksikan penampilan finalis DA3 dari Bima, Anggun. Mungkin karena mengetahui kisahnya sebagai TKI dan hanya pernah bertemu beberapa kali dengan anaknya. Mungkin karena di dekatku ada ibuq, dan membayangkan lagu itu adalah ungkapan hati ibuq dan ibu-ibu lainnya di seluruh dunia. Ditambah lagi aku belum bisa berbuat banyak untuknya. Atau mungkin, sekali lagi mungkin. Ini yang dikatakan: apa yang dilakukan dengan hati, akan sampai ke hati. Apalagi ketika baitnya sampai pada 'Kau adalah simbol kesempurnaan dariku yang tak sempurna'. Tuhan, sampai disini aku merinding. Betapa besar anugerah dan kenikmatan menjadi seorang ibu. Sesuatu yang kerapkali ku impikan. Tapi aku sadar, mungkin Allah ...

The Reflex

Siang ini di atas motor.. Tikungan agak tajam ke kanan tampak 50 meter di depanku. Tangan kiri sedia memegang rem. Tangan kanan yang sedari tadi konsen menarik gas mengendur dan berganti menarik rem. Lalu membawa stang motor sedikit membelok ke arah kanan. Tikungan terlewati dengan mulus. Semua dilakukan dengan spontan. Like they said, if you do something for years, you get pretty good at it. Or in my case, used to it. Because I'm not sure I'm a good or lousy rider. Sometimes it feels like the first but not rarely I feel the second. Aku melakukannya sebelum memikirkannya. Semua diatur otak di alam bawah sadar. Lalu ketika mobil dari arah berlawanan menyalip dan melewati kami dengan terpaut jarak sekian puluh senti saja, jantungku langsung seperti ingin meloncat dari rongganya. Bahkan jantungku bukan milikku sendiri. Ia bekerja mengikuti ritme tubuh. Sesuai dengan kebutuhan. Aku tak bisa mendiktenya untuk berdetak 85 kali saja. Ia memiliki mekanisme tersendiri. Pun paru-paru...

Malin Kundang

"Dimana itu Nak?" Pertanyaan protokoler akhirnya keluar di ujung sana. I almost roll my eyes if it wasn't for the answer itself. What was this place called again? My brain went blank. In panic state I running in storange room names my brain, rummaging for some memory. Nope, nada. Fortunately, there's last source of knowledge standing there. I turn to her and ask. "Dimana namanya ini lenga?" My, my. The look on her face is priceless. Just like I ask her where is my keys when its dangling in my bag. I I can't help but broke into laugh. "Ya Allah lenga beneran side lupa?! Karang Sukun." Cue for the stern-looking-mom-expression. It was so understatement. I was lived in that area for almost one year yet it's name easily slipped from my mind. I was never intended to comeback to my old landlord yet Cg's landlord came 500 kilometers across sea to attend her wedding. Yep, I can totally see the picture here. Not only that time Cg must huffing ...