"Ciiiiiit... Brakkk!!!"
Terdengar suara rem ditarik kemudian disusul tabrakan dari depan rumah Kak Hus. Kami yang sedang menunggu di ruang depan sontak berlari melihatnya.
Tampak dua orang remaja putri menabrak bagian depan mobil Uni Mira. Keduanya terjatuh ke samping kiri. Untungnya tak ada luka serius ataupun kerusakan parah di motor mereka. Hanya tampak gorengan sepanjang kurang lebih 2x10 meter di bemper bawah mobil.
Uni Mira tak mengatakan apapun selain menanyakan keadaan mereka. Justru yang lebih ribut adalah kami dan para tetangga yang menyaksikan.
Petuah harus begini begitu dan kesaksian bagaimana kejadiannya. Dua remaja tanggung itu mampu mengangkat motor matic mereka tanpa dibantu. Alih-alih meminta maaf, mereka tak membuang waktu untuk melesat meninggalkan tempat kejadian. Orang-orang hanya menggelengkan kepala. Anak jaman sekarang.
Di dalam rumah kehebohan berlanjut.
"Eee nggak lihat orang mau belok itu.. "
"Keaslian ngobrol kali.."
"Ngejar temannya yang cowok di motor depan.."
"Maen kabur aja! Nggak ada minta maaf sama sekali.."
"Untung yang ditabrak Uni. Kalo yang lain mesti udah marah-marah. Minta ganti rugi ini itu."
Lalu sebuah memori menyeruak. Aku mengerjapkan mata mengingat-ingat. Tetapi lamunanku terpotong karena Uni Mira mengajak kami shalat Ashar berjamaah.
Selesai shalat, aku menceritakan pengalaman ketika tak konsen bawa motor dan menabrak spoon kiri seorang bapak. Kejadiannya sore hari di perempatan Praubanyar. Waktu itu sedang macet karena ada nyongkolan. Tak menunggu lama si bapak langsung keluar dan malah-marah.
"Kalau bawa motor lihat-lihat makanya! Kamu pikir bisa beli satu yang begini?"
"Berapa harganya? Nanti insya Allah saya ganti."
"Berani nanya lagi. Ya cari di toko aksesoris. Mana KTP-mu?" Aku tak bisa berbuat apapun selain meminta maaf karena tak membawa dompet apalagi KTP. Orang-orang di sekelilingku hanya melihat dan tak ada yang mau membantu. Buat apa? Jelas-jelas aku yang salah.
"Berapa nomor hapemu?" Si Bapak yang makin marah cepat mengetik di hapenya. Lalu balik memberikan nomornya. Tak lupa ia menanyakan tempat kuliahku. Aku hanya menjawab lirih.
"Saya kasi kamu waktu satu minggu. Kalo kamu kabur saya cari ke kampusmu terus saya bawa ini ke pengadilan."
Setelah itu ia masuk ke mobilnya dan berlalu. Meninggalkanku yang gemetar dan hampir jatuh karena lemas. Jangan tanya betapa merah wajah ini.
Beruntung tak ada orang yang berusaha mendekat sekedar berusaha menghibur atau berbasa-basi. Jika tidak maka bendungan air mata akan bobol dalam hitungan detik. Bergegas aku menyalakan mesin motor. Hanya beberapa meter darisana air mataku akhirnya tumpah dan baru berhenti ketika akan masuk Kantor Desa Rarang.
Selama seminggu, komunikasi kami terjadi lewat sms. Isinya mengulang-ulang janji bahwa aku akan mengganti kerusakan yang telah ditimbulkan. Meskipun tanggapan si bapak dingin aku menahan diri untuk tetap sopan. Sadar diri siapa yang salah.
Tentu saja aku tak mengatakan hal itu pada orang tua atau anggota keluarga yang lain. Hanya Wardani yang tahu. Ia berbaik hati meminjamkan uang untuk membeli spion baru.
Beberapa toko aksesoris ku datangi. Akhirnya menemukan spion yang sama di sebuah toko di Sweta. Harganya 250ribu. Cukup mahal untuk ukuran mahasiswa yang masih ditanggung kebutuhannya oleh orang tua.
Uang dari Wardani baru bisa ku kembalikan beberapa bulan setelahnya. Ah, betapa besar jasanya bila kuingat-ingat.
Setelah spion di tangan, aku memacu sepeda motor menuju kantor si bapak di bilangan Ampenan. Beliau bekerja di pengadilan. Pantas tak ada ragu ketika mengancamku dengan hal itu.
Satpam menunjukkan suatu ruangan karena ternyata si bapak sedang menghadiri sidang. Aku diterima oleh seorang Mbak yang cantik. Ia tak ragu menunjukkan simpati ya setelah aku menceritakan mengapa bisa berakhir disana.
"Kok tega ya si bapak?" Katanya waktu itu. Aku hanya tersenyum. Overwhelmed with her kindness. Saat kami mengobrol terlihat si bapak diluar melintas di luar. Wajahnya riang. Begitu berbeda ketika memarahiku di jalan seminggu lalu.
"Itu bapaknya. Mau menyerahkan langsung?" Tanya mbaknya. Aku menggeleng. Jujur aku tak sanggup jika harus mendengarkan perkataan yang sama. Mbaknya maklum dan menepuk bahuku. Menyuruh sabar.
Hampir menangis karenanya. Semoga ridha Allah untuknya. Aku pamit setelah Mbaknya berjanji akan menyerahkan spion itu pada si bapak.
Sampai di parkiran, aku berhenti dan mengirim pesan pada si bapak kalau aku telah menitipkan spion pengganti di kantor Mbaknya. Tak ada balasan sampai beberapa hari berikutnya. Aku tak peduli.
Aku sudah meminta maaf dan mengganti kerusakan yang ku timbulkan. Tapi bagaimana dengan luka hatiku karena perlakuan si bapak?
Allah yang menyembuhkannya. Karena aku bahkan baru mengingatnya ketika ada kejadian sore tadi.
Tak ada sakit hati yang tersisa. Hanya kasihan. Entah apa yang terjadi padanya sehingga si bapak bisa bersikap demikian. Semoga dimanapun ia berada sekarang, Allah merahmatinya.
Karena bagaimana pun, ia telah memberikan pelajaran yang mahal padaku. Agar selalu berkonsentrasi di jalan. Dan membuatku berjanji satu hal: jika suatu saat nanti Allah berikan padaku rezeki berupa mobil dan Ia memutuskan mengujiku seperti ia menguji si bapak, aku akan menahan diri untuk bersikap kasar.
Aku mengerti bagaimana rasanya dipermalukan di depan umum. Tak akan aku biarkan Fitria lain mengalami hal itu. Allah jaga hatiku. Aamiin Yaa Rabb.
Comments
Post a Comment