Dear para Ahokers, jika kalian begitu mencintainya, maka demikian pula kami mencintai Islam dan utama-ulama kami, bahkan mungkin lebih.
Jika kalian mengirimkan bunga dan balon, menyalakan lilin, bernyanyi bersama maka seperti itulah kami berkumpul bersama dalam kebersamaan. Bedanya kami melakukannya dengan zikir, sholat berjamaah, dan mendengarkan tausiyah dari ulama-ulama kami.
Jika kalian sekarang merasa tak terima dan menganggap hukum tak adil, maka seperti itulah yang kami rasakan. Tak terima mengapa kitab suci kami dikatakan menjadi alat kebohongan bagi ulama kami juga hukum yang seperti tak berjalan semestinya.
Jika dari hari Rabu sampai entah kapan kalian menggelar aksi dukungan, maka persis seperti itulah tujuan 411, 212, 313, dan 505 maksudkan. Memberikan dukungan pada apa yang kami cintai.
Maka, tak bisakah kita sebagai insan yang sama-sama sedang jatuh cinta saling toleransi untuk menikmati euforia jatuh cinta itu?
Kalian dengan cinta itu, dan kami dengan cinta ini. Toh pada akhirnya, kita hanya akan bersama dengan ia yang kita cintai.
Kita sama-sama paham, bahwa mencintai memiliki resiko untuk terluka dalam prosesnya. Dan melakukan hal-hal tak biasa didalamnya.
Kalian mungkin menganggap kami bodoh dan sebaliknya. Tapi bukankah memang begitu tabiat orang jatuh cinta? Men (and women) in love are fools they said. Maka atas nama cinta, mari kita saling maklum dan maafkan.
Sudahi saja perang cacian di media sosial.
Dan jika tulisan ini juga tetap tak diterima, maka tak ada pilihan selain menuliskan ungkapan pamungkas itu. Everything is fair in love and war. Segalanya adil dalam cinta dan perang.
Meskipun demikian, untuk saudara muslim saya yang beriman, everything juga memiliki batasan. Yakni segala sesuatu yang halal lagi baik.
So, what we'll we do? Meneruskan semua ini atau mencoba saling toleransi satu sama lain?
Karena ketahuilah, muslim yang baik tidak pernah mencari musuh. Tetapi jika musuh sudah di depan mata, maka pantang bagi kami untuk berbalik. Till the end of time.
Comments
Post a Comment