Skip to main content

Lombok

Ramai lagi tentang 'penghinaan'. Status yang tadinya dimaksudkan untuk satu tokoh menjadi heboh karena ujung-ujungnya memaparkan banyak kejelekan 'orang Lombok'.

Mengapa saya memberikan tanda '...'  pada beberapa kata diatas?

Karena 1) Jujur. Saya merasa itu tak sepenuhnya penghinaan karena apa ditulis orang tersebut ada benarnya. Banyak dari 'orang Lombok' yang pemalas dan merasa paling benar. Termasuk saya.
2) Tetapi perlu diingat: sebutan 'orang Lombok'  menjadi tak relevan karena dianggap menghina semua orang Lombok tanpa terkecuali. Padahal mungkin saja si penulis hanya pernah bertemu saya atau beberapa teman saya yang sayangnya memiliki sifat-sifat jelek yang telah disebutkannya dalam status itu.

Saya dan teman-teman saya yang jelek itu, mungkin hanya 10% atau kurang dari populasi orang Lombok. Namun karena perilaku jelek kami, nama orang Lombok keseluruhan menjadi tercoreng.

Silakan marah, silakan yang mau menuntut. Tetapi tolong jangan menghujat. Itu hanya akan membenarkan stigma yang ditulis.

Buat saya, ini adalah tamparan keras. Daripada menghujat lebih baik introspeksi diri.

Lombok saat ini sudah menjadi salah satu aset nasional. Bahkan mulai terkenal di dunia internasional. Kewajiban kita untuk mempertahankan dan meningkatkannya.

Keindahan Lombok harus diimbangi dengan indah perilaku penduduknya. Bersikap ramah, tidak curang, mengikuti peraturan lalu lintas, menjaga keamanan.

Hal-hal kecil yang bisa kita lakukan, lakukanlah.

Apalagi jika merantau, mau tak mau kita adalah duta bagi Lombok sendiri. Baik atau buruk perilaku kita bisa dianggap cerminan perilaku orang Lombok seluruhnya.

Mari berbenah, karena sejatinya cara terbaik menilai diri kita adalah melalui mata orang lain.

Fitria
A Lomboknese

Comments

Popular posts from this blog

Anggun: Ibu

Aku suka dangdut? Ngggg.. kayaknya nggak hard to believe banget. Apalagi karena aku juga suka lagu-lagu India. Lagu yang ku suka variatif, nggak terbatas di genre tertentu atau satu penyanyi. Yg penting ngena di hati. Dan malam ini, entahlah aku mesti senang atau sedih. Aku hampir menangis menyaksikan penampilan finalis DA3 dari Bima, Anggun. Mungkin karena mengetahui kisahnya sebagai TKI dan hanya pernah bertemu beberapa kali dengan anaknya. Mungkin karena di dekatku ada ibuq, dan membayangkan lagu itu adalah ungkapan hati ibuq dan ibu-ibu lainnya di seluruh dunia. Ditambah lagi aku belum bisa berbuat banyak untuknya. Atau mungkin, sekali lagi mungkin. Ini yang dikatakan: apa yang dilakukan dengan hati, akan sampai ke hati. Apalagi ketika baitnya sampai pada 'Kau adalah simbol kesempurnaan dariku yang tak sempurna'. Tuhan, sampai disini aku merinding. Betapa besar anugerah dan kenikmatan menjadi seorang ibu. Sesuatu yang kerapkali ku impikan. Tapi aku sadar, mungkin Allah ...

The Reflex

Siang ini di atas motor.. Tikungan agak tajam ke kanan tampak 50 meter di depanku. Tangan kiri sedia memegang rem. Tangan kanan yang sedari tadi konsen menarik gas mengendur dan berganti menarik rem. Lalu membawa stang motor sedikit membelok ke arah kanan. Tikungan terlewati dengan mulus. Semua dilakukan dengan spontan. Like they said, if you do something for years, you get pretty good at it. Or in my case, used to it. Because I'm not sure I'm a good or lousy rider. Sometimes it feels like the first but not rarely I feel the second. Aku melakukannya sebelum memikirkannya. Semua diatur otak di alam bawah sadar. Lalu ketika mobil dari arah berlawanan menyalip dan melewati kami dengan terpaut jarak sekian puluh senti saja, jantungku langsung seperti ingin meloncat dari rongganya. Bahkan jantungku bukan milikku sendiri. Ia bekerja mengikuti ritme tubuh. Sesuai dengan kebutuhan. Aku tak bisa mendiktenya untuk berdetak 85 kali saja. Ia memiliki mekanisme tersendiri. Pun paru-paru...

Malin Kundang

"Dimana itu Nak?" Pertanyaan protokoler akhirnya keluar di ujung sana. I almost roll my eyes if it wasn't for the answer itself. What was this place called again? My brain went blank. In panic state I running in storange room names my brain, rummaging for some memory. Nope, nada. Fortunately, there's last source of knowledge standing there. I turn to her and ask. "Dimana namanya ini lenga?" My, my. The look on her face is priceless. Just like I ask her where is my keys when its dangling in my bag. I I can't help but broke into laugh. "Ya Allah lenga beneran side lupa?! Karang Sukun." Cue for the stern-looking-mom-expression. It was so understatement. I was lived in that area for almost one year yet it's name easily slipped from my mind. I was never intended to comeback to my old landlord yet Cg's landlord came 500 kilometers across sea to attend her wedding. Yep, I can totally see the picture here. Not only that time Cg must huffing ...