Skip to main content

Announcement

"Terimakasih Sus.." Kata pasien yang baru selesai diukur tekanan darahnya. Saya hanya membalas dengan senyum. Lalu berpamitan.

Setelah berbalik mata ini tertumbuk pada sosok bayi perempuan yang begitu menggerakkan. Usianya tak lebih dari enam bulan.

"Wah, lucunya" sapa saya sambil menjentikkan jari. Dia tertawa riang. Langit-langit mulutnya sampai terlihat. Lalu mencoba melonjak-lonjak dengan kaki mungilnya. Tampak raut bangga sang ibu yang memegangnya.

"Tapi jangan lama-lama yaa jenguk ya, kasian dedek nanti", ujar saya setengah tertawa. Tawa si dedek menular euy!

"Baru juga sampe! " nada yang ketus itu sempurna menghapus tawa di wajah saya. Memaksa saya menghadapi pemilik kalimat. Bapak muda di samping kiri si bayi yang duduk selonjoran.

Wajahnya acuh, seperti kalimat sebelumnya itu tak datang darinya. Tapi saya tak diam dan berkata "Bapak, mohon maaf. Tetapi diluar juga sudah ditempel pengumuman kalo anak kecil dibawah usia 12 tahun sebaiknya tidak dibawa ke rumah sakit."

"Halah, namanya kita jenguk keluarga."

"Tidak ada yang melarang Bapak menjenguk keluarga. Makanya saya bilang jangan lama-lama. Kasihan bayi Bapak. Kekebalan tubuhnya belum sempurna seperti Bapak. Disini rumah sakit, banyak sumber penyakit. Di udaranya juga."

"Aro, kuat dia sudah. "

Suasana sudah mulai tak enak. Ingin rasanya melanjutkan, to show him who the boss around here. Tapi ego tak akan membawa saya pada tujuan. Apalagi melihat sikap si bapak yang sudah kentara tak mau menerima anjuran dari saya.

Akhirnya, sambil menarik napas dalam yang juga tak bisa sepenuhnya memadamkan bara di hati, saya berbalik pada ibunya.

"Terserah pada Bapak dan Ibu. Saya sudah menjelaskan karena saya peduli pada kesehatan bayi Bapak Ibu. Lebih baik mencegah daripada mengobati. "
Sekilas wajah si ibu tampak khawatir. Sementara si Bapak tetap masa bodoh. Menatap wajah saya pun tidak.

Berbalik pada pasien dan semua keluarga, saya berkata"Mari Bu". Wajah pasien tampak bersalah. Lalu ia tersenyum tulus dan sayapun keluar dari kamar itu.

Niat baik, walaupun sudah dilakukan dengan baik seringkali juga tak berhasil dengan baik.

Sebagai perawat, kami menjelaskan sesuai dengan ilmu yang kami pelajari. Tak lain hanya untuk kebaikan pasien dan keluarga. Namun entah mengapa sebagian orang tak mau menerimanya.

Hati yang disesaki sombong akan mengatakan, aku lebih tahu dari kalian. Sedangkan hati kerdil menyatakan, apa hanya dokter yang akan diangguk-anggukkan setiap penjelasannya?

Tetapi hati lapang mengerti, bahwa jika apa yang kita lakukan untuk kebaikan akan membawa kebaikan. Mungkin hasilnya tak langsung memberi bunga. Tapi setidaknya sudah dilakukan. Tuhan hanya menuntut kita berusaha semaksimal mungkin, hasil semua ada di tanganNya.

Comments

Popular posts from this blog

Anggun: Ibu

Aku suka dangdut? Ngggg.. kayaknya nggak hard to believe banget. Apalagi karena aku juga suka lagu-lagu India. Lagu yang ku suka variatif, nggak terbatas di genre tertentu atau satu penyanyi. Yg penting ngena di hati. Dan malam ini, entahlah aku mesti senang atau sedih. Aku hampir menangis menyaksikan penampilan finalis DA3 dari Bima, Anggun. Mungkin karena mengetahui kisahnya sebagai TKI dan hanya pernah bertemu beberapa kali dengan anaknya. Mungkin karena di dekatku ada ibuq, dan membayangkan lagu itu adalah ungkapan hati ibuq dan ibu-ibu lainnya di seluruh dunia. Ditambah lagi aku belum bisa berbuat banyak untuknya. Atau mungkin, sekali lagi mungkin. Ini yang dikatakan: apa yang dilakukan dengan hati, akan sampai ke hati. Apalagi ketika baitnya sampai pada 'Kau adalah simbol kesempurnaan dariku yang tak sempurna'. Tuhan, sampai disini aku merinding. Betapa besar anugerah dan kenikmatan menjadi seorang ibu. Sesuatu yang kerapkali ku impikan. Tapi aku sadar, mungkin Allah ...

The Reflex

Siang ini di atas motor.. Tikungan agak tajam ke kanan tampak 50 meter di depanku. Tangan kiri sedia memegang rem. Tangan kanan yang sedari tadi konsen menarik gas mengendur dan berganti menarik rem. Lalu membawa stang motor sedikit membelok ke arah kanan. Tikungan terlewati dengan mulus. Semua dilakukan dengan spontan. Like they said, if you do something for years, you get pretty good at it. Or in my case, used to it. Because I'm not sure I'm a good or lousy rider. Sometimes it feels like the first but not rarely I feel the second. Aku melakukannya sebelum memikirkannya. Semua diatur otak di alam bawah sadar. Lalu ketika mobil dari arah berlawanan menyalip dan melewati kami dengan terpaut jarak sekian puluh senti saja, jantungku langsung seperti ingin meloncat dari rongganya. Bahkan jantungku bukan milikku sendiri. Ia bekerja mengikuti ritme tubuh. Sesuai dengan kebutuhan. Aku tak bisa mendiktenya untuk berdetak 85 kali saja. Ia memiliki mekanisme tersendiri. Pun paru-paru...

Malin Kundang

"Dimana itu Nak?" Pertanyaan protokoler akhirnya keluar di ujung sana. I almost roll my eyes if it wasn't for the answer itself. What was this place called again? My brain went blank. In panic state I running in storange room names my brain, rummaging for some memory. Nope, nada. Fortunately, there's last source of knowledge standing there. I turn to her and ask. "Dimana namanya ini lenga?" My, my. The look on her face is priceless. Just like I ask her where is my keys when its dangling in my bag. I I can't help but broke into laugh. "Ya Allah lenga beneran side lupa?! Karang Sukun." Cue for the stern-looking-mom-expression. It was so understatement. I was lived in that area for almost one year yet it's name easily slipped from my mind. I was never intended to comeback to my old landlord yet Cg's landlord came 500 kilometers across sea to attend her wedding. Yep, I can totally see the picture here. Not only that time Cg must huffing ...