Ketika menyebut satu nama semudah membalikkan telapak tangan, maka kau tahu bahwa semuanya telah baik.
Mungkin tak semuanya, tapi setidaknya dalam hatimu.
Karena kau telah akui, memikirkan nama itu pun kau tak mau. Lidahmu telah kelu sebelum kau mampu mengucapkannya. Dengan bibir bergetar. Nyeri di dada memutuskan untuk terlihat di oleh dunia lewat matamu yang berkaca-kaca.
Bersama waktu, nyeri itu kian menumpul. Sampai hampir tak terasa. Tapi ia ada. Menunggu kesempatan untuk meradang kembali.
Sampai kau menutup kesempatan itu dengan penerimaan. Bertahan menyimpan bara hanya akan menyisakan terbakar sebagai pilihan terakhir.
Maka Rabbmu mengirim waktu yang berbaik hati memadamkan bara itu. Membuatmu tak memiliki pilihan selain tanpa sadar melarung semua abu yang tersisa. Meskipun itu berarti tak ada lagi yang tersisa.
Dan kau harus kembali memulai segalanya.
Menerima. Semudah itu. Tapi benar-benar tak mudah.
Comments
Post a Comment