Skip to main content

Daun Yang Jatuh Tak Akan Membenci Angin

Akhirnya berkesempatan juga membacanya. Meski hanya dari format pdf. Khas Tere_Liye. Berhasil membuatku menitikkan air mata. Walaupun tak sampai tergugu.

Dan aku mengerti. Mengapa ia mencintai novel ini. Potongan teka teki itulah telah sempurna.

Aku menduganya sejak dulu. Jika ingin jujur dan mengesahkan diri sebagai seorang yang sombong, maka akan ku katakan jika firasatku seringkali benar.

Cinta yang tak terkatakan lebih menyakitkan daripada cinta yang tertolak, katanya. Dan bukan hanya katanya, kenyataan juga membuktikan demikian. Ibuq malah telah bertahun lalu mengatakan, perempuan bagaimanapun besar cintanya akan bisa lulus dengan kebaikan lelaki. Tetapi lelaki, dengan segala pembawaannya bisa menipu. Jika cinta ia akan memuliakan, jika tidak ia bisa meninggalkan. Ini berlaku untuk lelaki kebanyakan.

Jauh-jauh hari Ibuq mengingatkan pilihan itu. Pilihlah ia yang mencintaimu. Insya Allah I will, one day.

Lalu apa kabar dengan hatiku? Tokoh siapa yang akan mampu mewakiliku? Dengan mantap aku menjawab tak ada.

Mungkin iya aku seperti Tania. Menyembunyikan cinta padahal berharap. Nyatanya aku tak takut pada penolakan, aku takut pada penerimaan dan itu akan mengkhianati cintaku pada Rabbku.

Tetapi apa benar aku sesuci itu? Atau itu hanya ilusi yang ingin ku percayai tentang diriku sendiri? Bukankah aku hanya pengecut yang tak berani memulai suatu hubungan karena gemetar membayangkan sisi menyakitkan?

Mungkin iya, mungkin tidak. Yang jelas, aku merasa telah memiliki pemahaman yang berbeda. Jika masih remaja jatuh cinta adalah hal yang ku benci, sekarang tak lagi.

Dulu jika disuruh memilih kata yang  berhubungan dengan cinta, maka jawabanku adalah luka. Karena dengan mencintai seseorang, maka kau memberikan ia kekuatan untuk bisa melukaimu.

Namun aku lupa satu hal, tak hanya luka namun iapun bisa membawa bahagia.

Alhamdulillah, sekarang aku menerima jika aku jatuh cinta. Lalu terluka karenanya. Namun yang berbeda, seperti aku tak tahu kapan ia tumbuh aku juga membiarkan ia mati.

Tak seperti yang digambarkan, aku mencabutnya ketika akan tumbuh. Menginjaknya ketika akan beranjak dewasa. Tidak.

Siapa perempuan yang tak bermimpi bersanding dengan seseorang yang dicintainya? Dan berharap ia balas mencintaimu dengan bentuk yang sama bahkan lebih besar?

Seminggu dua setelah itu iya, harap itu ku semaikan. Doa itu ku panjatkan. Namun ketika keadaan sudah tak berpihak, maka haruskah aku mengunci semuanya dalam satu nama?

Aku yakin diriku tak sebodoh itu. Dan tak pernah sedikit pun terbersit dalam diri ini jika cinta harus ku bunuh dengan pisau benci. Tidak.

Dalam hati aku yakin, masih ada cinta untuk dia. Hanya yang hilang adalah keinginan untuk memiliki.

Masing-masing orang datang ke dalam kehidupan kita untuk mengajarkan sesuatu. Meskipun itu hanyalah sepotong episode patah hati.

Akan selalu ada ruang tersendiri untuk masing-masing orang, yang tak akan tergantikan oleh orang lain.

Cinta hanyalah sebagian kecil dari ribuan emosi yang datang silih berganti, naik dan turun setiap waktu. Namun bagian kecil itu tak urung memiliki pengaruh yang demikian besar.

Bukankah itu mengapa drama, novel, komik, lagu-lagu cinta sedemikian digandrungi?

Padahal masih ada perasaan lain yang juga memiliki hak untuk dirasakan. Sesekali memenuhi hati. Namun artinya seperti memudar dibandingkan agungnya cinta.

Sekali mencinta, akan tetap demikian. Meskipun wujudnya hanya dalam sebait doa. Dalam satu titik, aku dan dia berubah. Tetapi di titik itu pula, aku dan dia masih sosok yang sama. Dibalik semua perubahan itu, masih ada sisi kecil yang pernah membuatku jatuh cinta. Meskipun sekarang jejaknya tak tampak lagi. Di hatiku atau di dirinya.

Bersyukur menikmati proses itu. Jatuh cinta, patah hati, tertatih menyembuhkan lagi hati itu, move on, Lalu di satu malam yang hening tetiba sadar hatimu jauh lebih kuat dari sebelumnya. Dan kemudian air mata syukur tak terbendung. Allah izinkan mengalaminya.

Entah sampai kapan. Satu hal yang ku tahu. Dalam jatuhku, harapku, hancurku, kemudian bangkitku kembali, Allah akan ada disana. Merangkulku penuh rahmat. Karena pada akhirnya, aku pahami kalimat itu. Daun tak yang jatuh tak akan membenci angin. Ia hanya akan menerima. Jatuhnya di bumi, lalu leburnya, lalu diterbangkan angin kembali. Karena dalam bentuk apapun, kehidupan itu akan terus berlanjut. Meskipun artinya kau takkan bersama orang yang kau cintai.

Comments

Popular posts from this blog

Anggun: Ibu

Aku suka dangdut? Ngggg.. kayaknya nggak hard to believe banget. Apalagi karena aku juga suka lagu-lagu India. Lagu yang ku suka variatif, nggak terbatas di genre tertentu atau satu penyanyi. Yg penting ngena di hati. Dan malam ini, entahlah aku mesti senang atau sedih. Aku hampir menangis menyaksikan penampilan finalis DA3 dari Bima, Anggun. Mungkin karena mengetahui kisahnya sebagai TKI dan hanya pernah bertemu beberapa kali dengan anaknya. Mungkin karena di dekatku ada ibuq, dan membayangkan lagu itu adalah ungkapan hati ibuq dan ibu-ibu lainnya di seluruh dunia. Ditambah lagi aku belum bisa berbuat banyak untuknya. Atau mungkin, sekali lagi mungkin. Ini yang dikatakan: apa yang dilakukan dengan hati, akan sampai ke hati. Apalagi ketika baitnya sampai pada 'Kau adalah simbol kesempurnaan dariku yang tak sempurna'. Tuhan, sampai disini aku merinding. Betapa besar anugerah dan kenikmatan menjadi seorang ibu. Sesuatu yang kerapkali ku impikan. Tapi aku sadar, mungkin Allah ...

The Reflex

Siang ini di atas motor.. Tikungan agak tajam ke kanan tampak 50 meter di depanku. Tangan kiri sedia memegang rem. Tangan kanan yang sedari tadi konsen menarik gas mengendur dan berganti menarik rem. Lalu membawa stang motor sedikit membelok ke arah kanan. Tikungan terlewati dengan mulus. Semua dilakukan dengan spontan. Like they said, if you do something for years, you get pretty good at it. Or in my case, used to it. Because I'm not sure I'm a good or lousy rider. Sometimes it feels like the first but not rarely I feel the second. Aku melakukannya sebelum memikirkannya. Semua diatur otak di alam bawah sadar. Lalu ketika mobil dari arah berlawanan menyalip dan melewati kami dengan terpaut jarak sekian puluh senti saja, jantungku langsung seperti ingin meloncat dari rongganya. Bahkan jantungku bukan milikku sendiri. Ia bekerja mengikuti ritme tubuh. Sesuai dengan kebutuhan. Aku tak bisa mendiktenya untuk berdetak 85 kali saja. Ia memiliki mekanisme tersendiri. Pun paru-paru...

Malin Kundang

"Dimana itu Nak?" Pertanyaan protokoler akhirnya keluar di ujung sana. I almost roll my eyes if it wasn't for the answer itself. What was this place called again? My brain went blank. In panic state I running in storange room names my brain, rummaging for some memory. Nope, nada. Fortunately, there's last source of knowledge standing there. I turn to her and ask. "Dimana namanya ini lenga?" My, my. The look on her face is priceless. Just like I ask her where is my keys when its dangling in my bag. I I can't help but broke into laugh. "Ya Allah lenga beneran side lupa?! Karang Sukun." Cue for the stern-looking-mom-expression. It was so understatement. I was lived in that area for almost one year yet it's name easily slipped from my mind. I was never intended to comeback to my old landlord yet Cg's landlord came 500 kilometers across sea to attend her wedding. Yep, I can totally see the picture here. Not only that time Cg must huffing ...