Akhirnya berkesempatan juga membacanya. Meski hanya dari format pdf. Khas Tere_Liye. Berhasil membuatku menitikkan air mata. Walaupun tak sampai tergugu.
Dan aku mengerti. Mengapa ia mencintai novel ini. Potongan teka teki itulah telah sempurna.
Aku menduganya sejak dulu. Jika ingin jujur dan mengesahkan diri sebagai seorang yang sombong, maka akan ku katakan jika firasatku seringkali benar.
Cinta yang tak terkatakan lebih menyakitkan daripada cinta yang tertolak, katanya. Dan bukan hanya katanya, kenyataan juga membuktikan demikian. Ibuq malah telah bertahun lalu mengatakan, perempuan bagaimanapun besar cintanya akan bisa lulus dengan kebaikan lelaki. Tetapi lelaki, dengan segala pembawaannya bisa menipu. Jika cinta ia akan memuliakan, jika tidak ia bisa meninggalkan. Ini berlaku untuk lelaki kebanyakan.
Jauh-jauh hari Ibuq mengingatkan pilihan itu. Pilihlah ia yang mencintaimu. Insya Allah I will, one day.
Lalu apa kabar dengan hatiku? Tokoh siapa yang akan mampu mewakiliku? Dengan mantap aku menjawab tak ada.
Mungkin iya aku seperti Tania. Menyembunyikan cinta padahal berharap. Nyatanya aku tak takut pada penolakan, aku takut pada penerimaan dan itu akan mengkhianati cintaku pada Rabbku.
Tetapi apa benar aku sesuci itu? Atau itu hanya ilusi yang ingin ku percayai tentang diriku sendiri? Bukankah aku hanya pengecut yang tak berani memulai suatu hubungan karena gemetar membayangkan sisi menyakitkan?
Mungkin iya, mungkin tidak. Yang jelas, aku merasa telah memiliki pemahaman yang berbeda. Jika masih remaja jatuh cinta adalah hal yang ku benci, sekarang tak lagi.
Dulu jika disuruh memilih kata yang berhubungan dengan cinta, maka jawabanku adalah luka. Karena dengan mencintai seseorang, maka kau memberikan ia kekuatan untuk bisa melukaimu.
Namun aku lupa satu hal, tak hanya luka namun iapun bisa membawa bahagia.
Alhamdulillah, sekarang aku menerima jika aku jatuh cinta. Lalu terluka karenanya. Namun yang berbeda, seperti aku tak tahu kapan ia tumbuh aku juga membiarkan ia mati.
Tak seperti yang digambarkan, aku mencabutnya ketika akan tumbuh. Menginjaknya ketika akan beranjak dewasa. Tidak.
Siapa perempuan yang tak bermimpi bersanding dengan seseorang yang dicintainya? Dan berharap ia balas mencintaimu dengan bentuk yang sama bahkan lebih besar?
Seminggu dua setelah itu iya, harap itu ku semaikan. Doa itu ku panjatkan. Namun ketika keadaan sudah tak berpihak, maka haruskah aku mengunci semuanya dalam satu nama?
Aku yakin diriku tak sebodoh itu. Dan tak pernah sedikit pun terbersit dalam diri ini jika cinta harus ku bunuh dengan pisau benci. Tidak.
Dalam hati aku yakin, masih ada cinta untuk dia. Hanya yang hilang adalah keinginan untuk memiliki.
Masing-masing orang datang ke dalam kehidupan kita untuk mengajarkan sesuatu. Meskipun itu hanyalah sepotong episode patah hati.
Akan selalu ada ruang tersendiri untuk masing-masing orang, yang tak akan tergantikan oleh orang lain.
Cinta hanyalah sebagian kecil dari ribuan emosi yang datang silih berganti, naik dan turun setiap waktu. Namun bagian kecil itu tak urung memiliki pengaruh yang demikian besar.
Bukankah itu mengapa drama, novel, komik, lagu-lagu cinta sedemikian digandrungi?
Padahal masih ada perasaan lain yang juga memiliki hak untuk dirasakan. Sesekali memenuhi hati. Namun artinya seperti memudar dibandingkan agungnya cinta.
Sekali mencinta, akan tetap demikian. Meskipun wujudnya hanya dalam sebait doa. Dalam satu titik, aku dan dia berubah. Tetapi di titik itu pula, aku dan dia masih sosok yang sama. Dibalik semua perubahan itu, masih ada sisi kecil yang pernah membuatku jatuh cinta. Meskipun sekarang jejaknya tak tampak lagi. Di hatiku atau di dirinya.
Bersyukur menikmati proses itu. Jatuh cinta, patah hati, tertatih menyembuhkan lagi hati itu, move on, Lalu di satu malam yang hening tetiba sadar hatimu jauh lebih kuat dari sebelumnya. Dan kemudian air mata syukur tak terbendung. Allah izinkan mengalaminya.
Entah sampai kapan. Satu hal yang ku tahu. Dalam jatuhku, harapku, hancurku, kemudian bangkitku kembali, Allah akan ada disana. Merangkulku penuh rahmat. Karena pada akhirnya, aku pahami kalimat itu. Daun tak yang jatuh tak akan membenci angin. Ia hanya akan menerima. Jatuhnya di bumi, lalu leburnya, lalu diterbangkan angin kembali. Karena dalam bentuk apapun, kehidupan itu akan terus berlanjut. Meskipun artinya kau takkan bersama orang yang kau cintai.
Comments
Post a Comment