Saya tidak terlalu takut pada ular. Ya.
Saya takut pada petir. Tidak.
Saya takut pada angin topan. Tidak.
Itulah beberapa pernyataan dan jawaban yang ku berikan pada psikotest pagi ini. Jujur ada sedikit ketakutan pada beberapa hal itu, tapi ketakutanku pada pemilikNya jauh lebih besar.
Kadang-kadang saya merasa dikuasai roh jahat.
Pada pernyataan ini aku bimbang harus menjawab ya atau tidak.
Nyatanya, ketika aku melakukan hal yang tak seharusnya ku lakukan, aku merasa hopeless pada diriku sendiri. Entah dimana kontrol diriku. Tapi jauh di lubuk hati aku tahu akulah yang melakukan hal itu. Setan hanya bisa membujukku, selebihnya ku lakukan sendiri.
Jadi jelas benarnya pernyataan itu:
You sin like Allah can't see. Yet Allah forgive you like He saw nothing.
Jadi bagaimana aku bisa lari? Kadang, setelah melakukan kesalahan pada pohon yang kokoh pun aku merasa ngeri untuk lewat. Atau saat bersandar pada tembok. Adakah jaminan Allah tak murka lalu pohon atau tembok tiba-tiba jatuh menimpaku?
Untuk mengatakan aku tak mampu, mungkin hanya alasan kandas semata. Nyatanya aku mampu, tapi aku masih saja menjerumuskan diri.
Tetap melakukan sesuatu meskipun mengetahui konsekuensi buruknya adalah pengertian dari adiksi.
Itulah yang terjadi padaku. Dan ya, jika aku hanya andalkan diri sendiri maka mungkin tak akan bisa aku keluar dari jerat ini. Tapi ada Allah kan?
Jadi biarlah. Akan ku jalani ini sebesar mungkin. Berusaha memperbaiki diri dan tak putus doa agar Allah berikan hidayah. Lalu mampu diri untuk melangkah menuju hidayah itu.
Kuatkan, mampukan hamba Yaa Rabb..
Comments
Post a Comment