Skip to main content

Takut

Saya tidak terlalu takut pada ular. Ya.
Saya takut pada petir. Tidak.
Saya takut pada angin topan. Tidak.

Itulah beberapa pernyataan dan jawaban yang ku berikan pada psikotest pagi ini. Jujur ada sedikit ketakutan pada beberapa hal itu, tapi ketakutanku pada pemilikNya jauh lebih besar.

Kadang-kadang saya merasa dikuasai roh jahat.

Pada pernyataan ini aku bimbang harus menjawab ya atau tidak.

Nyatanya, ketika aku melakukan hal yang tak seharusnya ku lakukan, aku merasa hopeless pada diriku sendiri. Entah dimana kontrol diriku. Tapi jauh di lubuk hati aku tahu akulah yang melakukan hal itu. Setan hanya bisa membujukku, selebihnya ku lakukan sendiri.

Jadi jelas benarnya pernyataan itu:

You sin like Allah can't see. Yet Allah forgive you like He saw nothing.

Jadi bagaimana aku bisa lari? Kadang, setelah melakukan kesalahan pada pohon yang kokoh pun aku merasa ngeri untuk lewat. Atau saat bersandar pada tembok. Adakah jaminan Allah tak murka lalu pohon atau tembok tiba-tiba jatuh menimpaku?

Untuk mengatakan aku tak mampu, mungkin hanya alasan kandas semata. Nyatanya aku mampu, tapi aku masih saja menjerumuskan diri.

Tetap melakukan sesuatu meskipun mengetahui konsekuensi buruknya adalah pengertian dari adiksi.

Itulah yang terjadi padaku. Dan ya, jika aku hanya andalkan diri sendiri maka mungkin tak akan bisa aku keluar dari jerat ini. Tapi ada Allah kan?

Jadi biarlah. Akan ku jalani ini sebesar mungkin. Berusaha memperbaiki diri dan tak putus doa agar Allah berikan hidayah. Lalu mampu diri untuk melangkah menuju hidayah itu.

Kuatkan, mampukan hamba Yaa Rabb..

Comments

Popular posts from this blog

Anggun: Ibu

Aku suka dangdut? Ngggg.. kayaknya nggak hard to believe banget. Apalagi karena aku juga suka lagu-lagu India. Lagu yang ku suka variatif, nggak terbatas di genre tertentu atau satu penyanyi. Yg penting ngena di hati. Dan malam ini, entahlah aku mesti senang atau sedih. Aku hampir menangis menyaksikan penampilan finalis DA3 dari Bima, Anggun. Mungkin karena mengetahui kisahnya sebagai TKI dan hanya pernah bertemu beberapa kali dengan anaknya. Mungkin karena di dekatku ada ibuq, dan membayangkan lagu itu adalah ungkapan hati ibuq dan ibu-ibu lainnya di seluruh dunia. Ditambah lagi aku belum bisa berbuat banyak untuknya. Atau mungkin, sekali lagi mungkin. Ini yang dikatakan: apa yang dilakukan dengan hati, akan sampai ke hati. Apalagi ketika baitnya sampai pada 'Kau adalah simbol kesempurnaan dariku yang tak sempurna'. Tuhan, sampai disini aku merinding. Betapa besar anugerah dan kenikmatan menjadi seorang ibu. Sesuatu yang kerapkali ku impikan. Tapi aku sadar, mungkin Allah ...

The Reflex

Siang ini di atas motor.. Tikungan agak tajam ke kanan tampak 50 meter di depanku. Tangan kiri sedia memegang rem. Tangan kanan yang sedari tadi konsen menarik gas mengendur dan berganti menarik rem. Lalu membawa stang motor sedikit membelok ke arah kanan. Tikungan terlewati dengan mulus. Semua dilakukan dengan spontan. Like they said, if you do something for years, you get pretty good at it. Or in my case, used to it. Because I'm not sure I'm a good or lousy rider. Sometimes it feels like the first but not rarely I feel the second. Aku melakukannya sebelum memikirkannya. Semua diatur otak di alam bawah sadar. Lalu ketika mobil dari arah berlawanan menyalip dan melewati kami dengan terpaut jarak sekian puluh senti saja, jantungku langsung seperti ingin meloncat dari rongganya. Bahkan jantungku bukan milikku sendiri. Ia bekerja mengikuti ritme tubuh. Sesuai dengan kebutuhan. Aku tak bisa mendiktenya untuk berdetak 85 kali saja. Ia memiliki mekanisme tersendiri. Pun paru-paru...

Malin Kundang

"Dimana itu Nak?" Pertanyaan protokoler akhirnya keluar di ujung sana. I almost roll my eyes if it wasn't for the answer itself. What was this place called again? My brain went blank. In panic state I running in storange room names my brain, rummaging for some memory. Nope, nada. Fortunately, there's last source of knowledge standing there. I turn to her and ask. "Dimana namanya ini lenga?" My, my. The look on her face is priceless. Just like I ask her where is my keys when its dangling in my bag. I I can't help but broke into laugh. "Ya Allah lenga beneran side lupa?! Karang Sukun." Cue for the stern-looking-mom-expression. It was so understatement. I was lived in that area for almost one year yet it's name easily slipped from my mind. I was never intended to comeback to my old landlord yet Cg's landlord came 500 kilometers across sea to attend her wedding. Yep, I can totally see the picture here. Not only that time Cg must huffing ...