Skip to main content

Binar Mata Luh Sri

"Terimakasih ya. Cuman Fitri yang mau jadi teman saya."

Tulisan Luh Sri diatas notes warna-warni itu sukses mengaduk-aduk perasaan. Bahagia bercampur rasa bersalah. Namun tak urung membuat saya mengabadikan tulisan itu dalam foto yang sayangnya sudah hilang bersama handphone-nya.

Luh Sri adalah pasien gangguan jiwa di RSJ Bali. Saya tak disana ketika ia dipindahkan dari IGD ke bangsal. Piket hampir seminggu di ruangan yang membuat wajah semua pasien familiar. Jadi wajar saja saya keheranan menemukan sosok yang duduk memeluk kedua kakinya di sudut ruangan pagi itu.

Ada sesuatu selain rasa penasaran yang menarik dari Luh Sri. Ketika saya sapa dan ia menjawab dengan suara yang sengau, saya langsung memutuskan bahwa ialah yang akan menjadi pasien kelolaan.

Pasien kelolaan adalah pasien yang kami rawat khusus dan pantau perkembangannya selama satu Minggu. Lalu didokumentasikan dalam asuhan keperawatan. Sebuah laporan yang memuat data diri pasien, diagnosa keperawatan, intervensi yang dilakukan, sampai evaluasi terhadap perkembangan pasien.

Luh Sri adalah pasien yang lumayan menantang, karena selain tuna rungu bicaranya juga tak begitu jelas. Beruntung, ia bisa menulis. Jadi komunikasi kami dilakukan via tulisan di notes kecil warna warni.

Luh Sri tak terlahir sebagai tuna rungu. Tetapi setelah sakit dan dirawat di rumah sakit, mendadak pendengarannya menghilang. Penyebabnya diklaim sebagai efek obat. Malpraktek. Syok, Luh Sri remaja mulai menarik diri dan menolak keluar rumah. Dampaknya, ia terpaksa berhenti sekolah padahal ujian kelulusan SMP tinggal beberapa bulan. Inilah awal mula gangguan jiwa yang dideritanya.

Interaksi kami selanjutnya membawa banyak kejutan. Saya berinisiatif membawakan buku cerita anak-anak untuk ia baca dan mengisi waktu luang.

Keesokan harinya, ia dengan mata berbinar-binar antusias menceritakan isi buku tersebut. Ceritanya tentang seorang anak dari Jakarta yang berlibur di Bali. Mau tak mau saya tertular semangatnya lalu kami bertukar pengalaman seputar tempat wisata yang pernah kami kunjungi.

Ketika cerita berlanjut pada keluarga ia mendadak terdiam. Pandangannya kosong dan tak lama matanya mulai berkaca-kaca. Ternyata ia rindu keluarganya. Sebentar lagi adalah Hari Raya Galungan dan ia berharap akan bisa merayakannya bersama mereka.

Spontan saya bertanya apakah ada nomor handphone keluarga yang bisa dihubungi. Ia kemudian berlari ke kamarnya dan menunjukkan secara kertas yang berisi nomor handphone kakak tertuanya. Saya pun berjanji akan menghubungi sang kakak dan Luh Sri tersenyum mengangguk-angguk. Tetapi kali ini senyum itu tak bisa saya balas sepenuh hati.

Bukan rahasia jika banyak keluarga yang tak mau tahu keadaan pasien jika telah diserahkan ke rumah sakit jiwa. Namun saya mencoba berpikir positif dan mengirim SMS ke nomor tersebut. Menyatakan saya adalah perawat dan menyebutkan keinginan Luh Sri.

Tak dinyana, sms saya dibalas keesokan harinya dan ia berjanji akan menengok Luh Sri setelah Galungan. Sayangnya saya tak tahu apakah sang kakak menepati janjinya atau tidak karena jadwal dinas saya berakhir sehari sebelum Galungan.

Banyak pelajaran yang saya dapatkan dari Luh Sri.

Namun saya jadi meragukan diri sendiri. Apa benar saya tulus padanya? Jika tak dituntut membuat asuhan keperawatan, apakah saya akan sepeduli ini padanya? Karena saya tak berbuat demikian pada pasien lain.

Entahlah, wallahu 'alam.

Itu kenangan tiga tahun lalu, dan sampai kini saya masih belajar. Jangankan sebagai mahasiswa, sudah resmi bekerja sebagai perawat pun (jika mau mengakui) banyak sekali hal-hal yang tak bisa kami lakukan. Padahal harusnya dilakukan.

Apalagi sekarang setelah resign. Sekedar menulis status, membantu teman yang konsultasi, atau merawat luka kecil tetangga menjadi kepuasan tersendiri untuk saya.

Insya Allah ini bukan penyesalan atau keluhan, karena saya percaya segala sesuatu ada masanya. Dan sekarang, masa saya menjadi perawat pribadi di rumah. Dengan tetap memberdayakan diri, belajar hal-hal baru untuk meningkatkan kapasitas diri.

Hingga pada akhirnya entah kapan saya bisa bertugas lagi. Ada bagian diri yang jauh lebih baik, dalam memahami, dalam melayani.

Comments