Skip to main content

TGB

Lagi rame tentang insiden yang dialami Gubernur NTB di Bandara Singapura. Tapi tulisan ini bukan tentang itu. Sudah banyak yang mengulas dengan segala rentang emosi. Cukuplah saya mengatakan bangga dengan sikap beliau dan semoga bisa diteladani.

Kali ini hanya ingin menuang kembali memori lama. Ada fakta dan sedikit gosip hasil menguping.

"Buat apa sih Tuan Guru Bajang merusak diri begitu? Nyalon jadi gubernur kan banyak nyogok segala macam."

"Iya bener. Coba kalo sudah jadi Tuan Guru ya tetap begitu. Ngasi kita-kita ini pengajian."

Well, dengan senang hati saya mengatakan kekhawatiran ibu-ibu ini tak terbukti. Tuan Guru kesayangan mereka tetap jadi tuan guru seperti sebelum jadi gubernur. Mengisi pengajian juga tetap meskipun jadwalnya tentu berkurang karena banyaknya amanah lain.

Saya hanya sekali bertemu langsung. Enam tahun silam saat masih jadi mahasiswa unyu di Poltekkes Kemenkes Mataram.

Ketika itu saya dan beberapa teman lain menjadi tim medis dalam baksos yang bertepatan dengan kunjungan istri para menteri Kabinet Indonesia Bersatu. Lokasinya di lapangan Desa Banyumulek. Satu desa di Lombok Barat yang terkenal dengan kerajinan gerabah.

Layaknya acara-acara beginian pada umumnya di Wilayah Indonesia Tengah, mulainya pasti telat. Karena nunggu ini itu dan persiapan yang belum matang kami mulai pemeriksaan hampir jam 11.00 wita. Padahal warga sudah numpuk dari jam 08.00.

Jadilah mereka berebut ingin lebih dulu diperiksa. Petugas yang mendata kelabakan dan tak mampu menertibkan masyarakat. Hanya segelintir yang mau antre.

Kami yang memeriksa tekanan darah pun terpaksa banyak bicara. Mengulang-ulang pengumuman bahwa pemeriksaan akan dilakukan sesuai nomor antrean. Kecuali  pasien lansia. Setelah itu baru mereka berhenti desak-desakan. Namun tetap merubung sekitar tempat pemeriksaan.

Beberapa menit menjelang Dhuhur, masih masyarakat yang mengantri. Sebelum saya sempat memanggil pasien berikutnya seorang bapak paruh segera menduduki bangku kosong di samping saya. Menyodorkan tangan untuk dimensi. Saya yang sudah lelah memasang saja tensimeter di lengan kanannya. Pasien lain menggerutu satu dua. Baru mulai memompa, tiba-tiba kerumunan masyarakat terbelah.

Ternyata ada Pak Gubernur dan beberapa ajudannya. Pakai kemeja panjang warna biru muda, celana dan kopiah hitam. Kesan pertama, bersih dan masya Allah wangi banget. Baru keringat orang-orang di sekelilingnya mampu dinetralisir. Jiaaaaah.. Buku mata masih di tempat kan? Apa eye liner berantakan? Bedakku luntur nggak nih? Jilbab gimana?

Hohoho.. Boong ding! Cuaca panas, lelah dan keringetan bikin muka nggak bisa diselamatkan. Kerapian jilbab udah nggak dipikir. Untung udah nggak pake model suster culun. Jadi yaa sekucelnya tetap berusaha senyum manis.

Beliau hanya mengangguk lalu menepuk bahu bapak yang sedang ditensi. Si bapak menghalau tangannya dan tanpa menoleh bilang "Sebentar, aku duluan!"

Dipikir itu pasien lain yang ngerebut tempatnya. TGB nepuk lagi. Si bapak tetap tak bergeming dan berkata pada saya "Nanti, ayok Mbak lanjutin!"

Hahaha.. Tak tega, saya bilang pada si Bapak "Itu di belakang bapak ada Pak Gubernur, mau disapa." Sontak si Bapak berbalik dan kemudian berdiri. Kursi yang ia duduki sampai terbalik sementara tensimeter terayun-ayun di tangannya.

"Eee Pak Tuan Guru ampurayang.. (ungkapan maaf halus). Wajah si Bapak tampak merah ketika menjabat tangan TGB. Beliau hanya tersenyum dan menanyakan "Sakit apa Side bapak?"

"Eee pineng tiang (saya pusing)"

"Pusing nggak ada uang kali Pak?" Beliau bertanya dengan nada menggoda.

"Eee iye gati (benar sekali) Pak Tuan Guru." Percakapan kemudian berlanjut seputar masalah kesehatan. Lima menit kemudian diakhiri dengan beliau mendoakan kesembuhan untuk si Bapak yang diamini masyarakat.

Sudah, segitu aja. Tapi sungguh membekas di hati. Sosoknya sederhana namun karismatik. Dan samasekali tidak mengintimidasi.

Baksos itu adalah salah satu baksos termakmur bagi mahasiswa. Pulangnya kami kenyang dan dapat uang saku yang ukuran saya bisa dipakai jajan setengah minggu.

Ketika pulang dengan semangat 45 saya bercerita pada teman dan ia hanya menanggapi dengan "Hmmm.."

Bikin pengen nabok kan?!

Habis Magrib, saya keluar dengan uang saku hasil baksos untuk beli makan malam. Namanya anak kos juga mikir mau makan apa. Setelah menyusuri Jalan Pejanggik sekitar tiga ratus meter kemudian ketemu penjual mie ayam di kiri jalan.

Posisi saya agak ke tengah. Setelah memberi sign ke kiri saya mulai berbalik. Entah saya yang budeg  dan nggak konsen liat spion tetiba dari kiri motor saya dihantam motor lain. Saya pun terlempar dari motor dan terjatuh dekat garis putih di tengah jalan. Beruntung tak ada kendaraan lain yang melaju kencang. Saya bisa berdiri dibantu orang-orang. Motor kami diamankan dan si Mas yang menabrak dipapah lalu duduk di dekat saya.

Saya yang merasa salah langsung meminta maaf. Masnya sepertinya kaget dan tidak berlanjut menyalahkan. Ia cuman bilang "Saya sudah teriak tapi Mbaknya nggak dengar."

Insiden itu berakhir damai karena Masnya mengerti saya buru-buru karena akan piket malam.

Ketika bercerita pada teman yang sama, dia langsung tertawa terbahak-bahak dan bilang "Ini dah, terpesona sama TGB langsung kecelakaan. Ngelamun aja kali di atas motor."

Jiaaaaah.. Malu aku malu pada semut merah.

Comments

Popular posts from this blog

Anggun: Ibu

Aku suka dangdut? Ngggg.. kayaknya nggak hard to believe banget. Apalagi karena aku juga suka lagu-lagu India. Lagu yang ku suka variatif, nggak terbatas di genre tertentu atau satu penyanyi. Yg penting ngena di hati. Dan malam ini, entahlah aku mesti senang atau sedih. Aku hampir menangis menyaksikan penampilan finalis DA3 dari Bima, Anggun. Mungkin karena mengetahui kisahnya sebagai TKI dan hanya pernah bertemu beberapa kali dengan anaknya. Mungkin karena di dekatku ada ibuq, dan membayangkan lagu itu adalah ungkapan hati ibuq dan ibu-ibu lainnya di seluruh dunia. Ditambah lagi aku belum bisa berbuat banyak untuknya. Atau mungkin, sekali lagi mungkin. Ini yang dikatakan: apa yang dilakukan dengan hati, akan sampai ke hati. Apalagi ketika baitnya sampai pada 'Kau adalah simbol kesempurnaan dariku yang tak sempurna'. Tuhan, sampai disini aku merinding. Betapa besar anugerah dan kenikmatan menjadi seorang ibu. Sesuatu yang kerapkali ku impikan. Tapi aku sadar, mungkin Allah ...

The Reflex

Siang ini di atas motor.. Tikungan agak tajam ke kanan tampak 50 meter di depanku. Tangan kiri sedia memegang rem. Tangan kanan yang sedari tadi konsen menarik gas mengendur dan berganti menarik rem. Lalu membawa stang motor sedikit membelok ke arah kanan. Tikungan terlewati dengan mulus. Semua dilakukan dengan spontan. Like they said, if you do something for years, you get pretty good at it. Or in my case, used to it. Because I'm not sure I'm a good or lousy rider. Sometimes it feels like the first but not rarely I feel the second. Aku melakukannya sebelum memikirkannya. Semua diatur otak di alam bawah sadar. Lalu ketika mobil dari arah berlawanan menyalip dan melewati kami dengan terpaut jarak sekian puluh senti saja, jantungku langsung seperti ingin meloncat dari rongganya. Bahkan jantungku bukan milikku sendiri. Ia bekerja mengikuti ritme tubuh. Sesuai dengan kebutuhan. Aku tak bisa mendiktenya untuk berdetak 85 kali saja. Ia memiliki mekanisme tersendiri. Pun paru-paru...

Malin Kundang

"Dimana itu Nak?" Pertanyaan protokoler akhirnya keluar di ujung sana. I almost roll my eyes if it wasn't for the answer itself. What was this place called again? My brain went blank. In panic state I running in storange room names my brain, rummaging for some memory. Nope, nada. Fortunately, there's last source of knowledge standing there. I turn to her and ask. "Dimana namanya ini lenga?" My, my. The look on her face is priceless. Just like I ask her where is my keys when its dangling in my bag. I I can't help but broke into laugh. "Ya Allah lenga beneran side lupa?! Karang Sukun." Cue for the stern-looking-mom-expression. It was so understatement. I was lived in that area for almost one year yet it's name easily slipped from my mind. I was never intended to comeback to my old landlord yet Cg's landlord came 500 kilometers across sea to attend her wedding. Yep, I can totally see the picture here. Not only that time Cg must huffing ...