Idealisme mati-matian untuk satu orang , tetapi ketika dihadapkan pada orang lain idealisme yang sama menguap tak bersisa.
Rasanya jauh lebih sakit dari pengkhianatan.
This is what I feel. Betrayed. By my own father.
Kalo bukan karena beliau yang suruh, tak akan aku kerjakan. Nggak rela sama sekali motoran di siang bolong cuman buat nganter sandal yang pagi tadi juga sudah dicari oleh orang lain. Tugas itu bukan untuk sesuatu yang memiliki manfaat besar selain tampil. Lebih dari itu, ini sebuah perbudakan.
Aku jauh lebih khawatir terhadap apa yang akan terjadi di masa depan pada anak itu. Ketika semua orang tak mau mengambil pilihan lain selain menurutinya.
Baiklah, mungkin aku juga merasa iri hati. Masa kecilku jauh dari sempurna. Apalagi dimanja seperti putri. Tapi aku takkan menukarnya dengan apapun.
Ingin sekali aku mengajarkan disiplin seperti apa yang ku baca di artikel-artikel parenting. Tetapi apa daya, sikap kerasku tak berbanding lurus dengan kemauan orang tua. Omongannya keras, tapi sikapnya jauh berbeda.
Aku tak bisa sepenuhnya menyalahkan, karena psikologis Ibuq dan Mamiq sudah tak lagi untuk membesarkan anak usia sekolah dasar. Harusnya mereka sudah menimbang cucu.
Dan aku? Masih kagok mengeja tugas sebagai kakak. Mencoba menjadi orang tua? Sungguh sulit. Aku tak pernah mengalami mana-mana awal untuk berlatih. To try and error. And learn from it.
Selama ini aku cukup puas dengan menganggap diri bisa mengendalikan emosi jika berhadapan dengan orang lain. Tapi jika menemukan tingkahnya dan anak-anak lain, cepat sekali emosiku meledak. Sampai terbersit keinginan untuk memberi pukulan agar jera. Astagfirullah..
Subhanallah, too much to learn, yet too little time I spent for it. Sekarang, yang bisa ku lakukan hanyalah mencoba. Sedikit demi sedikit. Dengan segala sumber. Dan terutama mendoakannya. Karena kembali, tiada daya dan upaya melainkan atas ijinNya.
Semoga kelak kau jadi anak shalihah Dek..
Comments
Post a Comment