Skip to main content

Tawa

Idealisme mati-matian untuk satu orang , tetapi ketika dihadapkan pada orang lain idealisme yang sama menguap tak bersisa.
Rasanya jauh lebih sakit dari pengkhianatan.

This is what I feel. Betrayed. By my own father.

Kalo bukan karena beliau yang suruh, tak akan aku kerjakan. Nggak rela sama sekali motoran di siang bolong cuman buat nganter sandal yang pagi tadi juga sudah dicari oleh orang lain. Tugas itu bukan untuk sesuatu yang memiliki manfaat besar selain tampil. Lebih dari itu, ini sebuah perbudakan.

Aku jauh lebih khawatir terhadap apa yang akan terjadi di masa depan pada anak itu. Ketika semua orang tak mau mengambil pilihan lain selain menurutinya.

Baiklah, mungkin aku juga merasa iri hati. Masa kecilku jauh dari sempurna. Apalagi dimanja seperti putri. Tapi aku takkan menukarnya dengan apapun.

Ingin sekali aku mengajarkan disiplin seperti apa yang ku baca di artikel-artikel parenting. Tetapi apa daya, sikap kerasku tak berbanding lurus dengan kemauan orang tua. Omongannya keras, tapi sikapnya jauh berbeda.

Aku tak bisa sepenuhnya menyalahkan, karena psikologis Ibuq dan Mamiq sudah tak lagi untuk membesarkan anak usia sekolah dasar. Harusnya mereka sudah menimbang cucu.

Dan aku? Masih kagok mengeja tugas sebagai kakak. Mencoba menjadi orang tua? Sungguh sulit. Aku tak pernah mengalami mana-mana awal untuk berlatih. To try and error. And learn from it.

Selama ini aku cukup puas dengan menganggap diri bisa mengendalikan emosi jika berhadapan dengan orang lain. Tapi jika menemukan tingkahnya dan anak-anak lain, cepat sekali emosiku meledak. Sampai terbersit keinginan untuk memberi pukulan agar jera. Astagfirullah..

Subhanallah, too much to learn, yet too little time I spent for it. Sekarang, yang bisa ku lakukan hanyalah mencoba. Sedikit demi sedikit. Dengan segala sumber. Dan terutama mendoakannya. Karena kembali, tiada daya dan upaya melainkan atas ijinNya.

Semoga kelak kau jadi anak shalihah Dek..

Comments

Popular posts from this blog

Anggun: Ibu

Aku suka dangdut? Ngggg.. kayaknya nggak hard to believe banget. Apalagi karena aku juga suka lagu-lagu India. Lagu yang ku suka variatif, nggak terbatas di genre tertentu atau satu penyanyi. Yg penting ngena di hati. Dan malam ini, entahlah aku mesti senang atau sedih. Aku hampir menangis menyaksikan penampilan finalis DA3 dari Bima, Anggun. Mungkin karena mengetahui kisahnya sebagai TKI dan hanya pernah bertemu beberapa kali dengan anaknya. Mungkin karena di dekatku ada ibuq, dan membayangkan lagu itu adalah ungkapan hati ibuq dan ibu-ibu lainnya di seluruh dunia. Ditambah lagi aku belum bisa berbuat banyak untuknya. Atau mungkin, sekali lagi mungkin. Ini yang dikatakan: apa yang dilakukan dengan hati, akan sampai ke hati. Apalagi ketika baitnya sampai pada 'Kau adalah simbol kesempurnaan dariku yang tak sempurna'. Tuhan, sampai disini aku merinding. Betapa besar anugerah dan kenikmatan menjadi seorang ibu. Sesuatu yang kerapkali ku impikan. Tapi aku sadar, mungkin Allah ...

The Reflex

Siang ini di atas motor.. Tikungan agak tajam ke kanan tampak 50 meter di depanku. Tangan kiri sedia memegang rem. Tangan kanan yang sedari tadi konsen menarik gas mengendur dan berganti menarik rem. Lalu membawa stang motor sedikit membelok ke arah kanan. Tikungan terlewati dengan mulus. Semua dilakukan dengan spontan. Like they said, if you do something for years, you get pretty good at it. Or in my case, used to it. Because I'm not sure I'm a good or lousy rider. Sometimes it feels like the first but not rarely I feel the second. Aku melakukannya sebelum memikirkannya. Semua diatur otak di alam bawah sadar. Lalu ketika mobil dari arah berlawanan menyalip dan melewati kami dengan terpaut jarak sekian puluh senti saja, jantungku langsung seperti ingin meloncat dari rongganya. Bahkan jantungku bukan milikku sendiri. Ia bekerja mengikuti ritme tubuh. Sesuai dengan kebutuhan. Aku tak bisa mendiktenya untuk berdetak 85 kali saja. Ia memiliki mekanisme tersendiri. Pun paru-paru...

Malin Kundang

"Dimana itu Nak?" Pertanyaan protokoler akhirnya keluar di ujung sana. I almost roll my eyes if it wasn't for the answer itself. What was this place called again? My brain went blank. In panic state I running in storange room names my brain, rummaging for some memory. Nope, nada. Fortunately, there's last source of knowledge standing there. I turn to her and ask. "Dimana namanya ini lenga?" My, my. The look on her face is priceless. Just like I ask her where is my keys when its dangling in my bag. I I can't help but broke into laugh. "Ya Allah lenga beneran side lupa?! Karang Sukun." Cue for the stern-looking-mom-expression. It was so understatement. I was lived in that area for almost one year yet it's name easily slipped from my mind. I was never intended to comeback to my old landlord yet Cg's landlord came 500 kilometers across sea to attend her wedding. Yep, I can totally see the picture here. Not only that time Cg must huffing ...