Begawe (kenduri) ala kampung itu keliatannya aja sederhana. Kadang nggak ada pelaminan, apalagi spot foto yang instagramable. Tamu-tamupun nggak yang pake pakaian perlente en kendaraan bagus. Tapi jangan tanya budgetnya. Ini penjelasannya.
Seperti postingan saya beberapa minggu sebelumnya (sok penting mode on). Di kampung jika ada begawe maka persiapannya sudah dari H-7 ke belakang.
Begawe kali ini di Desa Selat Kecamatan Narmada. Disini adatnya selain tamu diberi makan juga sebelumnya disajikan beraneka macam jajan. Satu nampak bisa berisi 4-5 macam. Jadi wajar kalo lebih dari sepertiga budget itu dipake buat bikin jajan. Nah, bikin jajan ini murni tugas perempuan. Terus para lelaki ngapain?
Jadi mereka ini yang tugasnya di bagian perdapuran. Dari mulai masak nasi dan tujuh jenis lauk berbeda ((ya bener, nggak salah denger. Gulai daging, sayur nangka, sayur pepaya, sayur ares, sayur pudak (pokok kelapa muda), sayur lebui (kedelai hitam), sate tanpa bulayak, telur rebus, ebatan (sejenis urap)). Eh sepuluh ding, ada sayur kuluh juga (apa bahasa Indonesia-nya?).
Bumbu gimana? Pokoknya diurus laki-laki semuanya. Titik. Biasanya chef bakal dateng sehari sebelumnya liat bumbu-bumbu yang sudah disiapkan tuan rumah. Kalo kurang yaa dibeliin lagi.
Masaknya mulai dari sore H-1. Karena tamu juga ada yang dateng malam-malam. Nggak cuman sore itu, besok pagi mereka dateng lagi. Masak lagi yang lebih banyak. Jadi kalo berkunjung kesini terus pagi-pagi liat bapak-bapak segala umur bawa pisau, arit, dan segala barang tajam lainnya jangan pikir mereka mau tawuran. Berarti ada kenduri dan mereka bakal bantu-bantu disana. Yang pegawai juga tetep datang loh, biarpun jadi telat ngantornya.
Di hari H jika laki-laki masak, perempuan dari ba'da Subuh udah mulai mengisi jajan dan menatanya di nampan. Juga masukin ke kotak. Kadang bikin lagi berapa macam kalo persediaan yang kemaren abis. Biasanya departemen perjajanan ada menterinya sendiri biar ada yang ngatur. Demikian juga dengan departemen perlaukan. Jadi kalo pengen nyobain sate pinter-pinter aja deketin menterinya. Biasanya dijabat oleh papuq-papuq (nenek-nenek) yang nggak kuku liat tatapan menghiba cucunya (iyep, pengalaman pribadi bener).
Lalu susunan acara? Jadi biasanya tamu terutama perempuan itu datang dari jam 09.00. Bawa beras, jajan, pisang atau apa aja di dalam baskom. Nanti baskomnya diambil terus diisi berkat. Mereka terus duduk dan dikasi kue. Kalo udah abis nggak langsung pulang. Nunggu waktu begibung yang biasanya jam 11.00 ke atas. Maklum kan masuknya baru tadi pagi.
Begibung adalah tradisi makan bersama beberapa orang di satu nampan. Biasanya yang disajikan dulu adalah nasi, air, dan telur. Lauk lainnya akan diantar oleh banyak pemuda yang membawanya di dalam ember. Mereka nanti akan mendekati satu persatu nampan dan menuangkan lauk. Tujuannya biar lauk ya tetap panas dan yummy. Jangan khawatir, ember yang dipakai sudah khusus untuk lauk. Bukan bekas pakai di kamar mandi 😅😅😅
Dengan sajian yang bejibun, apa berarti orang Sasak kaya-kaya? Oh nggak juga. Dana buat begawe biasanya diberikan oleh pengantin pria. Tidak selalu cukup karena biasanya undangan jauh lebih banyak. Tetapi disini letak kerennya silaturahim dan gotong royong.
Yang punya kayu nyumbang kayu, yang punya kelapa nyumbang kelapa. Begitu juga dengan sayur, air, pisang, dan kadang kue. Sebagian besar yang dimasak justru nggak dibeli. Belum lagi jika tuan rumah ikut banyak banjar.
Banjar di Lombok tidak seperti di Bali. Banjar disini lebih seperti arisan. Tergantung banjarnya apa dan berapa anggotanya. Misalnya banjar bebek. Jadi misalnya kalo satu anggota bakal butuh, nanti anggota lain bakal ngumpulin satu orang satu bebek (tergantung kesepakatan jumlahnya) dan mereka serahkan pada yang akan mengadakan kenduri. Begitu seterusnya.
Oh ya lupa, saat kenduri tentu piring dan nampan kotor menumpuk. Disinilah fungsi garda kebersihan. Biasanya anggotanya adalah keluarga dan relawan dari tamu-tamu perempuan.
Sepanjang kenduri mereka mencuci piring. Alurnya dipakai-dicuci-dikeringkan-dipakai lagi. Mereka tak pernah berhenti sampai kenduri selesai. Kadang tak hanya piring tetapi juga semua perabotan. Biar setelah zuhur semua kerjaan beres dan tinggal siap-siap bersandar cantik menyambut pengantin.
Lalu mana foto pengantinnya? Maaf saya sudah pulang duluan menjelang Ashar. Karena ada belasan ekor makhluk Allah di rumah yang belum dikasi makan dari pagi.
Intinya sama seperti nyongkolan pada umumnya. Pengantin datang setelah Ashar. Jalan sekitar setengah kilo dari rumah dan diiringi gamelan.
Well, itulah sekilas tentang begawe di satu desa di Lombok. Desa-desa lain tentunya memiliki adat istiadat yang berbeda. Namun semuanya sama: mengajarkan indahnya bergotong-royong. Dan hal-hal lainnya yang bisa dipetik sendiri. See a in next post Insya Allah.
Eniwe soal budget dikira-kira sendirilah yaa. Ekonomi akuntansi bukan ranah saya. Katanya nggak bagus ngomong yang kita nggak tahu ilmunya.
Fitria
A family
#VeryLatePost
Comments
Post a Comment