Nasi bungkus RSU.
Adalah menu andalan anak kos atau anak kesehatan yang sedang praktek di RSUP NTB (waktu masih di samping kantor gubernur). Isinya standar, nasi putih, ayam suwir, sambal goreng kacang panjang, kering tempe, dan sambal. Bisa tambah ati ampela atau ayam goreng jika mau. Juga kerupuk.
Penjualnya berjejeran di kiri kanan jalan dekat gereja di depan RSUP. Itu satu ruas jalan, isinya pedagang nasi semua dengan menu yang hampir 100% sama.
Tak hanya disana. Sering kita jumpai di satu kompleks kios/toko jualannya sama. Apa nggak ada yang mau sedikit kreatif gitu? Bikin variasi. Biar kelihatan stand out dibanding yang lain.
Tapi katanya, justru dengan mengompleks gitu jualannya dijamin laku karena orang jadi tahu kalo butuh apa cari kemana. Tinggal cocokkan harga dan sreg-sregan sama pedagang dan atau rasanya. Belum lagi kalau diingat ungkapan terkenal itu, jika 'rezeki sudah diatur sama yang Diatas'. Kita mah tinggal usaha aja.
Tapi kok bisa ada yang lebih laku dari yang lain? Padahal kan jualannya sama aja? Balik lagi, namanya juga udah rezeki.
Entahlah. Belakangan ini jawaban sudah diatur Tuhan itu terasa kurang memenuhi keinginantahuan.
Sampai satu saat saya dan teman-teman pergi berwisata ke Bedugul. Sebelum turun ke Danau atau tamannya, ada pasar di kiri jalan. Disini biasanya wisatawan akan berbelanja oleh-oleh berupa sayur mayur, strawberry, tanaman bunga, dan aneka keripik serta rempeyek sayur.
Dan layaknya pasar oleh-oleh, sebagian besar pedagangnya menjajakan barang yang sama. Beberapa saat kami berkeliling, mencicipi tester dan menawar satu dua tempat (strawberry sedang tidak musim, jadi mahal). Hampir tidak jadi belanja karena tidak cocok harga.
Sebelum akhirnya mata saya tertumbuk pada satu buah yang langka. Di Lombok disebut kepundung. Segera kami kesana dan diberikan tester. Dan wow, manis sekali. Waktu itu kalau tidak salah harganya 25 ribu per kilo. Tidak banyak tanya kami kemudian membeli. Dan akhirnya membeli juga strawberry yang harganya sama dengan toko sebelah.
Well, rupanya begitu. Ada faktor X yang Allah berikan pada pedagang dan atau siapapun. Meskipun terlihat sama, pasti ada yang berbeda. Seperti menjual kepundung sementara yang lain tidak. Atau wisatawan luar yang sering ragu akan kehalalan makanan di Bali biasanya cari aman dengan belanja pada ibu yang berjilbab. Atau kita belanja karena simpati pada sesebapak yang berdagang sambil momong bayi. Atau karena buru-buru, belanja dimana saja yang dekat.
Benarlah, rezeki tidak akan tertukar. Dan akan Allah tunaikan sempurna selama yang bersangkutan hidup di dunia. Sebanyak apapun pesaing, kalau sudah rezeki tak akan kemana.
Tugas kita hanya taat. Sambil melakukan usaha terbaik. Semoga dengan menjaga ketaatan, bisa menjadi hujjah turunnya ridho Allah, dan rezeki yang semakin melimpah. Aamiin.
Comments
Post a Comment