"Suamimu nggak apa-apa ta Mbak dirimu kerja neng kene? Gaji ne iku juga seiprit."
Pertanyaan Mbak Siti ini masih menari-nari di pikiran bahkan setelah aku menjawab "Nggak apa-apa sih Mbak. Malah dia mikirin kalau saya nggak ada kesibukan. Sudah janji juga dengan ortu di rumah buat nyariin kerjaan."
Tapi benarkah 'hanya' itu alasannya? Aku tak pernah benar-benar bertanya. Karena semakin kesini semakin ku belajar bahwa pikiran laki-laki, sungguh berbeda dengan perempuan dan seringkali kompleks. Menyentuh ranah yang tak terpikirkan.
Apalagi suamiku tercinta, yang alhamdullilah sosok istimewa, di mataku dan orang lain, pasti memiliki pemikiran yang istimewa pula.
Dan aku tak keliru. Karena pagi ini, ketika kami berbincang pagi aku beranikan diri menceritakan pertanyaan itu. Beginilah kurang lebih jawabannya, "Karena klinik itu punya ikhwah. Kita mungkin nggak dapat banyak duit dari sana. Tapi dengan begitu kita bisa bantu menghidupkan klinik sekaligus sedekah dengan tenaga."
Ah, lelakiku. Kau membuatku jatuh cinta sekali lagi pagi ini. Puji syukur kepada Allah yang telah menuliskan takdirmu membersamaiku.
Jika aku adalah tokoh anime, maka wajah ini sudah merona dan hatiku berdegup keras. Tubuh melayang-layang ke taman surgawi.
Kau membuka mataku. Membuatku memiliki tujuan baru untuk melangkahkan kaki setiap pagi.
Teruslah membuatku lebih baik, dan mendekatkan langkah kita ke jannahNya. Sejauh apapun, seberat apapun, mari genggam tangan ini. Mungkin suatu waktu kita akan lelah, dan butuh istirahat, tapi jangan pernah menyerah.
Karena jika hanya kita berdua, maka sejauh mana kekuatan itu akan mampu bertahan? Tetapi ada Ia Yang Maha Kuat. Tak pernah tidur, dan selalu ada untuk kita. Meminta ataupun mengadu. Sekarang, dan selamanya.
Ya, dan aku tak takut lagi pada kata itu. Menisbatkannya pada sosok yang tepat adalah penawarnya.
Comments
Post a Comment