Skip to main content

Kerja

"Suamimu nggak apa-apa ta Mbak dirimu kerja neng kene? Gaji ne iku juga seiprit."

Pertanyaan Mbak Siti ini masih menari-nari di pikiran bahkan setelah aku menjawab "Nggak apa-apa sih Mbak. Malah dia mikirin kalau saya nggak ada kesibukan. Sudah janji juga dengan ortu di rumah buat nyariin kerjaan."

Tapi benarkah 'hanya' itu alasannya? Aku tak pernah benar-benar bertanya. Karena semakin kesini semakin ku belajar bahwa pikiran laki-laki, sungguh berbeda dengan perempuan dan seringkali kompleks. Menyentuh ranah yang tak terpikirkan.

Apalagi suamiku tercinta, yang alhamdullilah sosok istimewa, di mataku dan orang lain, pasti memiliki pemikiran yang istimewa pula.

Dan aku tak keliru. Karena pagi ini, ketika kami berbincang pagi aku beranikan diri menceritakan pertanyaan itu. Beginilah kurang lebih jawabannya, "Karena klinik itu punya ikhwah. Kita mungkin nggak dapat banyak duit dari sana. Tapi dengan begitu kita bisa bantu menghidupkan klinik sekaligus sedekah dengan tenaga."

Ah, lelakiku. Kau membuatku jatuh cinta sekali lagi pagi ini. Puji syukur kepada Allah yang telah menuliskan takdirmu membersamaiku.

Jika aku adalah tokoh anime, maka wajah ini sudah merona dan hatiku berdegup keras. Tubuh melayang-layang ke taman surgawi.

Kau membuka mataku. Membuatku memiliki tujuan baru untuk melangkahkan kaki setiap pagi.

Teruslah membuatku lebih baik, dan mendekatkan langkah kita ke jannahNya. Sejauh apapun, seberat apapun, mari genggam tangan ini. Mungkin suatu waktu kita akan lelah, dan butuh istirahat, tapi jangan pernah menyerah.

Karena jika hanya kita berdua, maka sejauh mana kekuatan itu akan mampu bertahan? Tetapi ada Ia Yang Maha Kuat. Tak pernah tidur, dan selalu ada untuk kita. Meminta ataupun mengadu. Sekarang, dan selamanya.

Ya, dan aku tak takut lagi pada kata itu. Menisbatkannya pada sosok yang tepat adalah penawarnya.

Comments

Popular posts from this blog

Anggun: Ibu

Aku suka dangdut? Ngggg.. kayaknya nggak hard to believe banget. Apalagi karena aku juga suka lagu-lagu India. Lagu yang ku suka variatif, nggak terbatas di genre tertentu atau satu penyanyi. Yg penting ngena di hati. Dan malam ini, entahlah aku mesti senang atau sedih. Aku hampir menangis menyaksikan penampilan finalis DA3 dari Bima, Anggun. Mungkin karena mengetahui kisahnya sebagai TKI dan hanya pernah bertemu beberapa kali dengan anaknya. Mungkin karena di dekatku ada ibuq, dan membayangkan lagu itu adalah ungkapan hati ibuq dan ibu-ibu lainnya di seluruh dunia. Ditambah lagi aku belum bisa berbuat banyak untuknya. Atau mungkin, sekali lagi mungkin. Ini yang dikatakan: apa yang dilakukan dengan hati, akan sampai ke hati. Apalagi ketika baitnya sampai pada 'Kau adalah simbol kesempurnaan dariku yang tak sempurna'. Tuhan, sampai disini aku merinding. Betapa besar anugerah dan kenikmatan menjadi seorang ibu. Sesuatu yang kerapkali ku impikan. Tapi aku sadar, mungkin Allah ...

The Reflex

Siang ini di atas motor.. Tikungan agak tajam ke kanan tampak 50 meter di depanku. Tangan kiri sedia memegang rem. Tangan kanan yang sedari tadi konsen menarik gas mengendur dan berganti menarik rem. Lalu membawa stang motor sedikit membelok ke arah kanan. Tikungan terlewati dengan mulus. Semua dilakukan dengan spontan. Like they said, if you do something for years, you get pretty good at it. Or in my case, used to it. Because I'm not sure I'm a good or lousy rider. Sometimes it feels like the first but not rarely I feel the second. Aku melakukannya sebelum memikirkannya. Semua diatur otak di alam bawah sadar. Lalu ketika mobil dari arah berlawanan menyalip dan melewati kami dengan terpaut jarak sekian puluh senti saja, jantungku langsung seperti ingin meloncat dari rongganya. Bahkan jantungku bukan milikku sendiri. Ia bekerja mengikuti ritme tubuh. Sesuai dengan kebutuhan. Aku tak bisa mendiktenya untuk berdetak 85 kali saja. Ia memiliki mekanisme tersendiri. Pun paru-paru...

Malin Kundang

"Dimana itu Nak?" Pertanyaan protokoler akhirnya keluar di ujung sana. I almost roll my eyes if it wasn't for the answer itself. What was this place called again? My brain went blank. In panic state I running in storange room names my brain, rummaging for some memory. Nope, nada. Fortunately, there's last source of knowledge standing there. I turn to her and ask. "Dimana namanya ini lenga?" My, my. The look on her face is priceless. Just like I ask her where is my keys when its dangling in my bag. I I can't help but broke into laugh. "Ya Allah lenga beneran side lupa?! Karang Sukun." Cue for the stern-looking-mom-expression. It was so understatement. I was lived in that area for almost one year yet it's name easily slipped from my mind. I was never intended to comeback to my old landlord yet Cg's landlord came 500 kilometers across sea to attend her wedding. Yep, I can totally see the picture here. Not only that time Cg must huffing ...