Skip to main content

Cerita Untuk Emak

CERITA UNTUK EMAK

Suatu pagi di pasar tradisional..
"Adik, ini lho bagus. Namanya celana jins. Makin ganteng kalo Adik pake.." Seorang penjual tampak merayu anak lelaki berumur sekitar empat tahun.

Si anak menggeleng.

Ibunya menghela napas panjang, sambil membuka kencing celana berkata "Sayang, ayo dicoba. Besok kalo kamu sendiri yang nggak pake baju lebaran sementara semua temenmu pake kan ga enak dilihat.."

Si anak masih kekeuh menggeleng. Kedua tangan dibawa ke belakang punggung. Matanya tampak melirik kesana kemari. Kakinya sudah mundur-mundur.

Kalau saya yang jadi si ibu, sudah banjir ciuman si anak. Mungkin ditambah satu dua tetes air mata bahagia. Terus pulangnya nulis status menggelitik-inspiratif ala Mak Tiri Rini Renjiro Trisnowati. Bersyukur anak saya anti mainstream. Dalam hal baik, insya Allah.

Tetapi, saya belum jadi seorang ibu. Maka saya akan menuliskan dari sudut pandang seorang anak.

Dear Emak..
Sejak awal saya adalah manusia berbeda. Semakin besar badan ini semakin tumbuh pula kepribadian kami. Maka jangan heran yang tadinya saya anteng saja dikasi ASI setelah mulai kenal makanan kami jadi rewel.

Apakah Emak melihat saya selalu dan setiap saat menginginkan hal yang sama dengan anak lain? Anak tetangga tergila-gila pada Frozen, sementara saya menangis ingin Doraemon.

Anak-anak lain sigap menunjuk matic terbaru untuk kendaraan ke sekolah saya masih santai naik kendaraan UU umum bersama emak-emak yang mau ke pasar.

Maka Mak, saya mohon pengertiannya. Tidak ada seorangpun yang suka dibanding-bandingkan dengan orang lain. Baik orang dewasa atau pun anak-anak.

Apa Mak suka saya bandingkan dengan emaknya Titin yang cantik? Atau emaknya Jono yang lemah lembut? Atau emaknya Jason yang selalu membelikan apa yang dia mau?

Saya tidak memilih terlahir dari rahim Emak, demikian juga Emak tidak memilih saya sebagai anak.

Kita sudah dijodohkan Allah. Dan itu pasti yang terbaik Mak. Maka, maukah Emak melihat saya dari sisi lain agar terlihat kembali bahwa saya anak yang terbaik untuk Emak? Seperti saat saya masih bayi dulu?

Comments

Popular posts from this blog

Anggun: Ibu

Aku suka dangdut? Ngggg.. kayaknya nggak hard to believe banget. Apalagi karena aku juga suka lagu-lagu India. Lagu yang ku suka variatif, nggak terbatas di genre tertentu atau satu penyanyi. Yg penting ngena di hati. Dan malam ini, entahlah aku mesti senang atau sedih. Aku hampir menangis menyaksikan penampilan finalis DA3 dari Bima, Anggun. Mungkin karena mengetahui kisahnya sebagai TKI dan hanya pernah bertemu beberapa kali dengan anaknya. Mungkin karena di dekatku ada ibuq, dan membayangkan lagu itu adalah ungkapan hati ibuq dan ibu-ibu lainnya di seluruh dunia. Ditambah lagi aku belum bisa berbuat banyak untuknya. Atau mungkin, sekali lagi mungkin. Ini yang dikatakan: apa yang dilakukan dengan hati, akan sampai ke hati. Apalagi ketika baitnya sampai pada 'Kau adalah simbol kesempurnaan dariku yang tak sempurna'. Tuhan, sampai disini aku merinding. Betapa besar anugerah dan kenikmatan menjadi seorang ibu. Sesuatu yang kerapkali ku impikan. Tapi aku sadar, mungkin Allah ...

The Reflex

Siang ini di atas motor.. Tikungan agak tajam ke kanan tampak 50 meter di depanku. Tangan kiri sedia memegang rem. Tangan kanan yang sedari tadi konsen menarik gas mengendur dan berganti menarik rem. Lalu membawa stang motor sedikit membelok ke arah kanan. Tikungan terlewati dengan mulus. Semua dilakukan dengan spontan. Like they said, if you do something for years, you get pretty good at it. Or in my case, used to it. Because I'm not sure I'm a good or lousy rider. Sometimes it feels like the first but not rarely I feel the second. Aku melakukannya sebelum memikirkannya. Semua diatur otak di alam bawah sadar. Lalu ketika mobil dari arah berlawanan menyalip dan melewati kami dengan terpaut jarak sekian puluh senti saja, jantungku langsung seperti ingin meloncat dari rongganya. Bahkan jantungku bukan milikku sendiri. Ia bekerja mengikuti ritme tubuh. Sesuai dengan kebutuhan. Aku tak bisa mendiktenya untuk berdetak 85 kali saja. Ia memiliki mekanisme tersendiri. Pun paru-paru...

Malin Kundang

"Dimana itu Nak?" Pertanyaan protokoler akhirnya keluar di ujung sana. I almost roll my eyes if it wasn't for the answer itself. What was this place called again? My brain went blank. In panic state I running in storange room names my brain, rummaging for some memory. Nope, nada. Fortunately, there's last source of knowledge standing there. I turn to her and ask. "Dimana namanya ini lenga?" My, my. The look on her face is priceless. Just like I ask her where is my keys when its dangling in my bag. I I can't help but broke into laugh. "Ya Allah lenga beneran side lupa?! Karang Sukun." Cue for the stern-looking-mom-expression. It was so understatement. I was lived in that area for almost one year yet it's name easily slipped from my mind. I was never intended to comeback to my old landlord yet Cg's landlord came 500 kilometers across sea to attend her wedding. Yep, I can totally see the picture here. Not only that time Cg must huffing ...