Skip to main content

Tips Ketika Balita Pup di Tempat Umum

Judulnya agak sotoy, mengingat yang nulis belum menikah apalah lagi punya Balita. Sudah sok-sokan memberi tips. Tetapi saya hanya ingin berbagi pengalaman pagi ini.

Sudah lebih seminggu adik dari Ibuq datang ke rumah. Biasanya menjelang Ramadhan beliau bekerja membuat aneka kue Lebaran. Dan tahun ini pun tak alpa.

Beliau membawa serta kedua anak laki-lakinya. Sedari si paling besar baru lahir  (sekarang umurnya 9 tahun) saya selalu kebagian menjadi banyak sitter. Demikian juga dengan anak kedua yang sekarang berumur 2,5 tahun. Keduanya tetap lengket alhamdulillah.

Beda anak beda pintar. Juga beda perangai. Jika Si Kakak dibawa kemana-mana selalu anteng dan tak pernah ada masalah, tidak demikian dengan si Adik. Dia lebih rewel dan jika sudah mau sesuatu susah sekali menghentikan tangisnya.

Pelajaran dari anak pertama membuat bibi saya tak mau memakaikan diaper pada si Adik kecuali pada situasi-situasi tertentu. Dia memang sudah bisa memberitahu jika akan pipis atau pup. Tapi tidak selalu.

Dia memilih untuk tidak mengatakannya sampai pup-nya sudah keluar.

Pagi itu setelah membawanya ke pasar saya mengambil tugas lagi untuk membawanya ke percetakan. Mencetak sticker merk kue untuk ibu.

Sedang asik berdiskusi masalah harga, saya jadi lupa memperhatikannya. Sudah antena pikir saya. Toh Dari tadi dia hanya di samping dan memperhatikan seisi toko.

Tetapi tak lama diskusi kami terganggu karena dia menarik-narik baju saya. Satu tangan lagi memegang perut sambil meringis. Ternyata minta pup. Tetapi pupnya sudah merembes di kaki kiri dan berceceran di lantai.

Saya mulai panik menanyakan toilet pada si Mbak. Sambil sibuk minta maaf dan berjanji akan membersihkan pupnya nanti. Sepertinya si Adik sudah tak tahan. Ia terus meringis memerangi perutnya.

Sementara si Mbak juga mulai panik karena ternyata di dekat toko tidak ada toilet. Hanya kamar mandi untuk pipis. Akhirnya saya tak punya pilihan selain meminta si Adik duduk dan menyelesaikan hajatnya di celana saja.

Untunglah pup-nya tak banyak. Si Mbak kemudian berinisiatif membawakan seember air ke depan toko untuk cebok si Adik.

Enaknya jadi anak-anak, cebok di pinggir jalan raya juga nggak masalah. Jadi saya pun berusaha menyelesaikan tugas sebaik-baiknya dalam tempo yang sesingkat-singkatnya 😅😅😅

Setelah selesai, saya minta si Adik menunggu diluar. Takut ada serangan susulan. Ajaibnya dia patuh dan memusatkan perhatian pada etalase.

Lalu saya memenuhi janji untuk membersihkan pup di lantai. And just for my luck, Nggak ada tisu juga disitu. Akhirnya saya membersihkan pup dengan kertas bekas. Sebisanya mungkin tak tersentuh tangan. Beruntungnya lagi-lagi si Mbak inisiatif minta tisu ke toko sebelah. Akhirnya dengan bantuan lima lembar tisu kerjaan jadi cleaning service selesai.

Mau cari tempat cuci tangan sudah malu. Terlalu banyak merepotkan. Si Mbak dan si Mas pemilik percetakan juga nggak nawarin 😂😂😂

Terpaksa harus mencukupkan diri dengan air. Dan harus tutup mata tutup telinga ketika harus menyelesaikan urusan dengan tangan bekas bersihin pup. Alhamdulillah, si Mas dan si Mbak nggak banyak berkomentar. Mungkin sudah berdoa dalam hati biar saya cepat-cepat ngacir  😇😇😇

Jadi, dari pengalaman pagi ini saya ingin berbagi tipe jika anak pup di tempat umum:
1. Jangan panik. Meskipun kejadian seperti ini terhitung kejadian tidak diinginkan dan berpotensi memalukan, tetaplah fokus. Fokus akan membuat anda tenang dan tidak gerasak-gerusuk di tempat orang.
2. Pahami anak. Satu hal yang membuat saya bersyukur adalah saya seorang perawat. Sehingga saya tahu bahwa pup adalah masalah biologis. Normal. Anak umur 2,5 tahun tak setiap waktu bisa patuh mengatakan keinginannya. Orang dewasa saja kalau mules ada yang tidak bisa ditahan. Apalagi Balita? Sehingga akan menyebabkan saya menulis tips ketiga.
3. Jangan marahi anak. Jadi karena sudah tahu pup adalah hal normal, tak perlu memarahi anak di depan umum. Dia sudah pasti malu, tak perlu kita tambah lagi luka hatinya. Apalagi hanya karena merasa bertanggung jawab pada tuan rumah dan untuk menunjukkan hal tersebut kita harus 'mendisiplinkan' anak di depan matanya. Ada waktu untuk itu, tetapi tidak langsung saat itu.
5. Mohon maaf dan terima kasih. Ini harus kita ucapkan pada tuan rumah. Karena mereka pasti tak nyaman seperti halnya kita. Mereka yang sudah punya anak biasanya akan lebih mengerti, tetapi tak menutup kemungkinan bisa juga tidak. Apalagi jika tuan rumah orangnya sangat pembersih.
6. Bawa selalu baju ganti minimal celana, tisu, plastik kresek, dan yang paling penting adalah hand sanitizer. Malu kan mau salaman atau kontak lainnya dengan tangan bekas bersihin pup?
7. Nikmati setiap prosesnya. Ini bisa jadi bahan cerita dan pembelajaran buat perempuan seperti saya. Bahwa punya anak tak sesimpel membanggakannya di media sosial. Tetapi ada harga mahal yang harus dibayar dan berjuta pengetahuan menanti untuk dipelajari. Semua hal ada kelebihan dan kekurangannya. So, keep learning and stay positive.

Comments

Popular posts from this blog

Anggun: Ibu

Aku suka dangdut? Ngggg.. kayaknya nggak hard to believe banget. Apalagi karena aku juga suka lagu-lagu India. Lagu yang ku suka variatif, nggak terbatas di genre tertentu atau satu penyanyi. Yg penting ngena di hati. Dan malam ini, entahlah aku mesti senang atau sedih. Aku hampir menangis menyaksikan penampilan finalis DA3 dari Bima, Anggun. Mungkin karena mengetahui kisahnya sebagai TKI dan hanya pernah bertemu beberapa kali dengan anaknya. Mungkin karena di dekatku ada ibuq, dan membayangkan lagu itu adalah ungkapan hati ibuq dan ibu-ibu lainnya di seluruh dunia. Ditambah lagi aku belum bisa berbuat banyak untuknya. Atau mungkin, sekali lagi mungkin. Ini yang dikatakan: apa yang dilakukan dengan hati, akan sampai ke hati. Apalagi ketika baitnya sampai pada 'Kau adalah simbol kesempurnaan dariku yang tak sempurna'. Tuhan, sampai disini aku merinding. Betapa besar anugerah dan kenikmatan menjadi seorang ibu. Sesuatu yang kerapkali ku impikan. Tapi aku sadar, mungkin Allah ...

The Reflex

Siang ini di atas motor.. Tikungan agak tajam ke kanan tampak 50 meter di depanku. Tangan kiri sedia memegang rem. Tangan kanan yang sedari tadi konsen menarik gas mengendur dan berganti menarik rem. Lalu membawa stang motor sedikit membelok ke arah kanan. Tikungan terlewati dengan mulus. Semua dilakukan dengan spontan. Like they said, if you do something for years, you get pretty good at it. Or in my case, used to it. Because I'm not sure I'm a good or lousy rider. Sometimes it feels like the first but not rarely I feel the second. Aku melakukannya sebelum memikirkannya. Semua diatur otak di alam bawah sadar. Lalu ketika mobil dari arah berlawanan menyalip dan melewati kami dengan terpaut jarak sekian puluh senti saja, jantungku langsung seperti ingin meloncat dari rongganya. Bahkan jantungku bukan milikku sendiri. Ia bekerja mengikuti ritme tubuh. Sesuai dengan kebutuhan. Aku tak bisa mendiktenya untuk berdetak 85 kali saja. Ia memiliki mekanisme tersendiri. Pun paru-paru...

Malin Kundang

"Dimana itu Nak?" Pertanyaan protokoler akhirnya keluar di ujung sana. I almost roll my eyes if it wasn't for the answer itself. What was this place called again? My brain went blank. In panic state I running in storange room names my brain, rummaging for some memory. Nope, nada. Fortunately, there's last source of knowledge standing there. I turn to her and ask. "Dimana namanya ini lenga?" My, my. The look on her face is priceless. Just like I ask her where is my keys when its dangling in my bag. I I can't help but broke into laugh. "Ya Allah lenga beneran side lupa?! Karang Sukun." Cue for the stern-looking-mom-expression. It was so understatement. I was lived in that area for almost one year yet it's name easily slipped from my mind. I was never intended to comeback to my old landlord yet Cg's landlord came 500 kilometers across sea to attend her wedding. Yep, I can totally see the picture here. Not only that time Cg must huffing ...