Skip to main content

MEMULIAKAN TAMU

"Mbak Fitri uangnya banyak ya?"

Heeeeh..?? Pertanyaan apa ini.

"Kok bilang gitu?"
"Iya, kan kalo kita mau bikin apa gitu katanya pake uang Mbak Fitri aja.."

Yaa Rabb, logika anak-anak. Sambil tersenyum saya menjawab "Ya kalo kadang ada yaa ada. Kalo nggak ya mau gimana. Doain aja biar uangnya ada en berkah." #modus

Sore ini anak-anak kompleks berkunjung kembali. Berawal dari hadirnya Cemong dan Comel kami menjalin persahabatan. Rentangnya dari menegur ketika papasan sampai saya mewajibkan diri menonton mereka pentas di kemah kemarin.

Kami pun mengisi waktu dengan membuat jelly, sambil mereka bercerita tentang hantu di sekolah masing-masing. Yang efeknya bikin pada takut pulang padahal hari masih terang benderang 😅😅😅

Setelah mereka pulang, saya pun berpikir. Ya, betapa banyak selama ini saya menemukan teman-teman yang dari penampilan dan tempat tinggal begitu sederhana, tetapi ketika kita kunjungi aneka jenis makanan tersedia. Entah hasil kebun, buat sendiri, atau beli. Yang jelas terlihat sekali keinginan untuk 'memuliakan tamu.' Barakallah.

Baru menikah, dan salah satu dari kami masih dalam tahap menyelesaikan kuliah bisa dikatakan bukan kondisi yang akan membuat kami 'banyak uang'. Tapi masya Allah, ketika ada tamu seringkali memang pas kami ada rezeki. Atau mengada-ada kan.

Hadistnya jelas, 'Barangsiapa beriman pada hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya.'

Tamu itu sendiri juga rezeki. Betapa banyak rumah mewah nan megah tetapi kebanyakan orang segan berkunjung. Sedangkan rumah sederhana dan sempit tetapi yang datang selalu ada.

Ibuq pernah cerita, kemarin dulu Mamiq bertitah "Tanya anakmu, dia punya duit nggak? Temannya sering datang."

Saya hanya tertawa dan menjawab "Alhamdulillah ada."

Lucu, padahal mereka sendiri jika tamu datang juga selalu berupaya menyervis dengan baik. Dan apakah kedua orang tua saya jatuh miskin karena itu? Tidak. Tahaddus bin ni'mah, banyak hari ketika kami bingung rezeki harus dibagi kemana.

Allah Yang mendatangkan tamu, Allah pula yang akan mendatangkan rezeki untuk menjamunya. Tinggal kita percaya atau tidak. Memberikan yang terbaik atau tidak.

Karena itu nanti yang akan Allah balas. Sesuai dengan kepercayaan kita, sesuai dengan usaha kita.

Allah Maha Kaya, tinggal kita yang harus percaya.

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Anggun: Ibu

Aku suka dangdut? Ngggg.. kayaknya nggak hard to believe banget. Apalagi karena aku juga suka lagu-lagu India. Lagu yang ku suka variatif, nggak terbatas di genre tertentu atau satu penyanyi. Yg penting ngena di hati. Dan malam ini, entahlah aku mesti senang atau sedih. Aku hampir menangis menyaksikan penampilan finalis DA3 dari Bima, Anggun. Mungkin karena mengetahui kisahnya sebagai TKI dan hanya pernah bertemu beberapa kali dengan anaknya. Mungkin karena di dekatku ada ibuq, dan membayangkan lagu itu adalah ungkapan hati ibuq dan ibu-ibu lainnya di seluruh dunia. Ditambah lagi aku belum bisa berbuat banyak untuknya. Atau mungkin, sekali lagi mungkin. Ini yang dikatakan: apa yang dilakukan dengan hati, akan sampai ke hati. Apalagi ketika baitnya sampai pada 'Kau adalah simbol kesempurnaan dariku yang tak sempurna'. Tuhan, sampai disini aku merinding. Betapa besar anugerah dan kenikmatan menjadi seorang ibu. Sesuatu yang kerapkali ku impikan. Tapi aku sadar, mungkin Allah ...

The Reflex

Siang ini di atas motor.. Tikungan agak tajam ke kanan tampak 50 meter di depanku. Tangan kiri sedia memegang rem. Tangan kanan yang sedari tadi konsen menarik gas mengendur dan berganti menarik rem. Lalu membawa stang motor sedikit membelok ke arah kanan. Tikungan terlewati dengan mulus. Semua dilakukan dengan spontan. Like they said, if you do something for years, you get pretty good at it. Or in my case, used to it. Because I'm not sure I'm a good or lousy rider. Sometimes it feels like the first but not rarely I feel the second. Aku melakukannya sebelum memikirkannya. Semua diatur otak di alam bawah sadar. Lalu ketika mobil dari arah berlawanan menyalip dan melewati kami dengan terpaut jarak sekian puluh senti saja, jantungku langsung seperti ingin meloncat dari rongganya. Bahkan jantungku bukan milikku sendiri. Ia bekerja mengikuti ritme tubuh. Sesuai dengan kebutuhan. Aku tak bisa mendiktenya untuk berdetak 85 kali saja. Ia memiliki mekanisme tersendiri. Pun paru-paru...

Malin Kundang

"Dimana itu Nak?" Pertanyaan protokoler akhirnya keluar di ujung sana. I almost roll my eyes if it wasn't for the answer itself. What was this place called again? My brain went blank. In panic state I running in storange room names my brain, rummaging for some memory. Nope, nada. Fortunately, there's last source of knowledge standing there. I turn to her and ask. "Dimana namanya ini lenga?" My, my. The look on her face is priceless. Just like I ask her where is my keys when its dangling in my bag. I I can't help but broke into laugh. "Ya Allah lenga beneran side lupa?! Karang Sukun." Cue for the stern-looking-mom-expression. It was so understatement. I was lived in that area for almost one year yet it's name easily slipped from my mind. I was never intended to comeback to my old landlord yet Cg's landlord came 500 kilometers across sea to attend her wedding. Yep, I can totally see the picture here. Not only that time Cg must huffing ...