Ketika mendengar seseorang yang sering memberi tausiyah atau motivasi, sebuah pertanyaan sering terbersit dalam hati. 'Bagaimana bisa mereka menyusun kalimat-kalimat seindah itu?'. Cerita-cerita sepelepun, bisa jadi begitu menggugah di tangan mereka. Namun meski demikian, tak sedikit juga orang yang tak menyukai hal tersebut. Lalu muncullah pertanyaan berikutnya, 'Bagaimana bisa?'
Yang katanya motivator top pun sampai dibuatkan meme, 'Hidup ini nggak seindah ucapannya Mario Teguh.' Sebaliknya, seorang teman hampir selalu memakai depe dari official akun milik beliau. She's worship the ground he walk on.
Lalu ada lagi Salim A. Fillah. Dimana selama kajiannya saya ternganga karena mendengar kalimatnya yang mengalir tak putus-putus, tanpa teks atau media presentasi. Hanya dari pengetahuannya yang Masya Allah sangat luas. Namun begitupun, seorang teman pernah berujar, "Saya nggak cocok dengan buku-buku Salim Pieq, terlalu puitis. Saya lebih condong dengan karya Ust. Faudhil Adzim."
Tanpa sadar, kedua pertanyaan saya terjawab. Yang pertama, karena pengetahuan. Dan pemahaman tentunya. Dan yang kedua, karena kecocokan hati.
Pengetahuan, siapapun bisa mendapatkannya jika mau berusaha. Tetapi pemahaman, hanya akan didapatkan oleh mereka yang mau merenungkan. Dimana proses ini tidaklah instan. Butuh waktu panjang untuk mengalahkan ego. Kadang mesti ditambah dengan banyak kegagalan. Tetapi hasilnya, mereka akan menemukan inner peace. Setelah menemukannya, maka segalanya akan terlihat lebih mudah dan indah. Karena ketika kita telah menemukan kedamaian hati, maka akan mudah pula membagikannya. Lalu tersebutlah kalimat indah itu, apa yang dilakukan dengan hati, akan menyentuh hati.
Namun ternyata hati inipun berbeda-beda. Kecocokan hati itu yang membuat satu hal yang indah bagi orang lain, akan terasa biasa saja bahkan dapat menyinggung bagi orang lain.
Dan akhirnya, disinilah Kahlil Gibran bermain:
Jangan kau kira cinta datang dari keakraban yang lama dan pendekatan yang tekun.
Tidak.
Cinta itu adalah anak dari kecocokan jiwa.
Dan selama kecocokan jiwa itu tiada, cinta tak akan pernah hadir.
Dalam hitungan tahun, bahkan milenia.
"cinta adalah anak dari kecocokan jiwa"
ReplyDeleteterimakasih mba fitria untuk artikelnya
salam,
https://uji.ruangguru.com/