Seandainya aku tak berada di ruangan putih tempat kursi kayu panjang yang penuh diduduki pasien, atau tak mendengar suara Mas Anam mengaji, air mataku akan jatuh membaca statusnya. Status seorang junior yang masya Allah shalihahnya selalu membuatku diam-diam merasa tertampar.
Statusnya selalu bermakna dan mengingatkan, dan dia tak malu akan hal itu. Status tentang kebahagiaan orang tuanya. Tak sekali dua ia memaparkan kebahagiaan keluarganya, membuatku turut tersenyum. Namun kali ini entah mengapa, status yang sama membuatku tertohok pada waktu yang seharusnya tidak terjadi. Dan aku menyalahkan diri atas hal itu.
Mungkin kita tak pantas bahagia karena tak pernah meminta pada Allah hal tersebut. Mungkin aku hanya meminta hal-hal untuk diriku sendiri, yang itupun dalam waktu yang sedikit. Seperti keshalihahan dan usaha juniorku yang berbanding lurus dengan kebahagiaan keluarganya, demikian pula aku.
Sampai disini aku sadar jarang sekali membagikan kebahagiaan, apalagi kesedihan keluargaku di depan umum. Status-statusku hanya tentang orang lain. Entahlah apa karena kemiskinanku akan cerita keluarga atau pribadiku yang semakin introvert.
Satu hal yang jelas, aku kurang berdoa. Untukku, untuk keluargaku, untuk kawan-kawanku, untuk dunia. Menyadari hal ini, satu langkah kecil untukku. Langkah-langkah selanjutnya akan ku iringi dengan meminta padaNya pemilik segala. Meski terasa berat, karena hatiku telah banyak tertutup noda. Akan ku usahakan, sedikit demi sedikit, sesaat demi sesaat.
Dan malam ini, ku temukan lagi satu alasan untuk pulang. Untuk membersamai mereka, dan tak melupakannya dalam doa.
Comments
Post a Comment