Skip to main content

Ayahku (Bukan) Pembohong

Buliran airmata tak tertahan mengalir deras di pipiku. Ku biarkan jatuh tanpa jeda. Berharap ia tak hanya terhenti disana, namun terus mengalir hingga membasahi hatiku yang gersang.

Hati yang tadinya ku percayai sebagai tanah yang subur. Gembur tanpa perlu ku taburkan pupuk sintetis. Hati sebagai ladangku belajar. Menanam satu persatu benih baik yang ku kumpulkan dari sekitarku. Harapanku akan bisa memanennya suatu waktu. Mungkin bukan panen raya. Tetapi buahnya akan bisa ku petik jika ku butuhkan. Ku temukan jika ku cari, buah apapun itu karena aku menanam segala. Meskipun belum ku atur dengan baik.

Belum kuatur, itu kata kerjanya. Merasa tanamanku sudah mulai tumbuh dengan baik, aku manjadi tamak. Semua ku tanam, tanpa ku pilih dengan standar yang baik. Yang penting, tanah yang masih kosong tak akan menganggur. Tetapi aku tak rajin menyiangi rumput-rumput liar disana. Sehingga yang terjadi, tanamanku tumbuh bersaing dengan rumput liar yang semakin lama semakin kuat. Tumbuh besar dan mengganggu tanaman-tanaman indah penghasil buah. Meninggalkanku dengan dua pilihan? Membunuhnya segera dengan herbisida dengan risiko mempertaruhkan kealamian tanahku, atau mau bekerja keras, mencabutinya satu persatu dan ketika itu tak berhasil, terpaksa menggunduli semua tanaman dan memulai dari awal?

Pilihan pertama mudah, tetapi pilihan kedualah yang benar.

Aku sudah terlalu lama membiarkan tanahku terbengkalai. Terlihat dari luar aku menanam, tetapi sebenarnya aku hanya memenuhinya dengan sesuatu yang akan menjadi sampah. Sampah yang entah kapan bisa ku buang. Mengingat ia bukan jenis yang bisa didaur ulang.

Dan siang ini, setelah berpuluh purnama buku berjudul 'Ayahku (Bukan) Pembohong' ku pinjam dari Tari, akhirnya aku bisa menyelesaikannya. Entah mengapa, belakangan aku selalu menolak membaca buku yang bagus. Karena selesai membacanya, aku akan merasa kehilangan sahabat baik. And boy, we know how I don't need addition in that department.

Tetapi sekali lagi, aku salah. Membaca buku bagus, dan terkadang berat. Adalah cara untuk melatih emosi dan otakku. Bukan seperti yang ku lakukan belakangan ini. Memenuhinya dengan sampah yang ku sebut 'have fun'. Aku mungkin terlambat, meskipun demikian aku tak menyesalinya. Pengalaman siang ini tak akan ku tukar dengan apapun.

Satu lagi tanaman baik untuk tanahku. Dan semoga, aku bisa sabar dan teguh hati merawatnya. Berbulan-bulan, bertahun-tahun, belajar menyempurnakannya. Hingga ku dapat ku petik buah apel emas yang termanis, kemudian memakannya sambil berpiknik di Danau Para Sufi.

Comments

Popular posts from this blog

Anggun: Ibu

Aku suka dangdut? Ngggg.. kayaknya nggak hard to believe banget. Apalagi karena aku juga suka lagu-lagu India. Lagu yang ku suka variatif, nggak terbatas di genre tertentu atau satu penyanyi. Yg penting ngena di hati. Dan malam ini, entahlah aku mesti senang atau sedih. Aku hampir menangis menyaksikan penampilan finalis DA3 dari Bima, Anggun. Mungkin karena mengetahui kisahnya sebagai TKI dan hanya pernah bertemu beberapa kali dengan anaknya. Mungkin karena di dekatku ada ibuq, dan membayangkan lagu itu adalah ungkapan hati ibuq dan ibu-ibu lainnya di seluruh dunia. Ditambah lagi aku belum bisa berbuat banyak untuknya. Atau mungkin, sekali lagi mungkin. Ini yang dikatakan: apa yang dilakukan dengan hati, akan sampai ke hati. Apalagi ketika baitnya sampai pada 'Kau adalah simbol kesempurnaan dariku yang tak sempurna'. Tuhan, sampai disini aku merinding. Betapa besar anugerah dan kenikmatan menjadi seorang ibu. Sesuatu yang kerapkali ku impikan. Tapi aku sadar, mungkin Allah ...

The Reflex

Siang ini di atas motor.. Tikungan agak tajam ke kanan tampak 50 meter di depanku. Tangan kiri sedia memegang rem. Tangan kanan yang sedari tadi konsen menarik gas mengendur dan berganti menarik rem. Lalu membawa stang motor sedikit membelok ke arah kanan. Tikungan terlewati dengan mulus. Semua dilakukan dengan spontan. Like they said, if you do something for years, you get pretty good at it. Or in my case, used to it. Because I'm not sure I'm a good or lousy rider. Sometimes it feels like the first but not rarely I feel the second. Aku melakukannya sebelum memikirkannya. Semua diatur otak di alam bawah sadar. Lalu ketika mobil dari arah berlawanan menyalip dan melewati kami dengan terpaut jarak sekian puluh senti saja, jantungku langsung seperti ingin meloncat dari rongganya. Bahkan jantungku bukan milikku sendiri. Ia bekerja mengikuti ritme tubuh. Sesuai dengan kebutuhan. Aku tak bisa mendiktenya untuk berdetak 85 kali saja. Ia memiliki mekanisme tersendiri. Pun paru-paru...

Malin Kundang

"Dimana itu Nak?" Pertanyaan protokoler akhirnya keluar di ujung sana. I almost roll my eyes if it wasn't for the answer itself. What was this place called again? My brain went blank. In panic state I running in storange room names my brain, rummaging for some memory. Nope, nada. Fortunately, there's last source of knowledge standing there. I turn to her and ask. "Dimana namanya ini lenga?" My, my. The look on her face is priceless. Just like I ask her where is my keys when its dangling in my bag. I I can't help but broke into laugh. "Ya Allah lenga beneran side lupa?! Karang Sukun." Cue for the stern-looking-mom-expression. It was so understatement. I was lived in that area for almost one year yet it's name easily slipped from my mind. I was never intended to comeback to my old landlord yet Cg's landlord came 500 kilometers across sea to attend her wedding. Yep, I can totally see the picture here. Not only that time Cg must huffing ...