Buliran airmata tak tertahan mengalir deras di pipiku. Ku biarkan jatuh tanpa jeda. Berharap ia tak hanya terhenti disana, namun terus mengalir hingga membasahi hatiku yang gersang.
Hati yang tadinya ku percayai sebagai tanah yang subur. Gembur tanpa perlu ku taburkan pupuk sintetis. Hati sebagai ladangku belajar. Menanam satu persatu benih baik yang ku kumpulkan dari sekitarku. Harapanku akan bisa memanennya suatu waktu. Mungkin bukan panen raya. Tetapi buahnya akan bisa ku petik jika ku butuhkan. Ku temukan jika ku cari, buah apapun itu karena aku menanam segala. Meskipun belum ku atur dengan baik.
Belum kuatur, itu kata kerjanya. Merasa tanamanku sudah mulai tumbuh dengan baik, aku manjadi tamak. Semua ku tanam, tanpa ku pilih dengan standar yang baik. Yang penting, tanah yang masih kosong tak akan menganggur. Tetapi aku tak rajin menyiangi rumput-rumput liar disana. Sehingga yang terjadi, tanamanku tumbuh bersaing dengan rumput liar yang semakin lama semakin kuat. Tumbuh besar dan mengganggu tanaman-tanaman indah penghasil buah. Meninggalkanku dengan dua pilihan? Membunuhnya segera dengan herbisida dengan risiko mempertaruhkan kealamian tanahku, atau mau bekerja keras, mencabutinya satu persatu dan ketika itu tak berhasil, terpaksa menggunduli semua tanaman dan memulai dari awal?
Pilihan pertama mudah, tetapi pilihan kedualah yang benar.
Aku sudah terlalu lama membiarkan tanahku terbengkalai. Terlihat dari luar aku menanam, tetapi sebenarnya aku hanya memenuhinya dengan sesuatu yang akan menjadi sampah. Sampah yang entah kapan bisa ku buang. Mengingat ia bukan jenis yang bisa didaur ulang.
Dan siang ini, setelah berpuluh purnama buku berjudul 'Ayahku (Bukan) Pembohong' ku pinjam dari Tari, akhirnya aku bisa menyelesaikannya. Entah mengapa, belakangan aku selalu menolak membaca buku yang bagus. Karena selesai membacanya, aku akan merasa kehilangan sahabat baik. And boy, we know how I don't need addition in that department.
Tetapi sekali lagi, aku salah. Membaca buku bagus, dan terkadang berat. Adalah cara untuk melatih emosi dan otakku. Bukan seperti yang ku lakukan belakangan ini. Memenuhinya dengan sampah yang ku sebut 'have fun'. Aku mungkin terlambat, meskipun demikian aku tak menyesalinya. Pengalaman siang ini tak akan ku tukar dengan apapun.
Satu lagi tanaman baik untuk tanahku. Dan semoga, aku bisa sabar dan teguh hati merawatnya. Berbulan-bulan, bertahun-tahun, belajar menyempurnakannya. Hingga ku dapat ku petik buah apel emas yang termanis, kemudian memakannya sambil berpiknik di Danau Para Sufi.
Comments
Post a Comment