"Heran deh sama ibumu, baru denger dia pengen kelapa muda langsung Mak Ijah (bukan nama sebenarnya) nyuruh anaknya petikin di sawah.
Aku yang jelas-jelas cerita di depannya pengen masak bayam didiamin. Padahal bayamnya lagi subur-suburnya di kebun. Padahal rumah kami dempetan, belum lagi kalau dihitung dia itu bibinya suamiku." Curcol tetangga seberang jalan.
Saya hanya tersenyum. Entahlah, tapi memang rezekinya Ibuq seringkali berbeda dengan orang lain. Misalnya saat kenduri. Walaupun bawaannya sama, nanti ibu-ibu dapat berkat (makanan yang dibawa pulang setelah kenduri) standar misalnya nasi, sayur nangka, dan kerupuk, tak jarang ibu juga membawa pulang sesisir pisang atau sebungkus gulai daging.
Ketika saya tanya, Ibuq biasanya hanya tertawa dan menjawab tidak tahu. Tapi saya perhatikan, Ibuq memang tidak pernah segan membantu orang. Sampai rela menomorduakan kepentingannya sendiri. Kecuali memang benar-benar tidak bisa.
Ibuq juga paham karakter orang. Jadi kalau merasa kira-kira nggak akan nyambung atau tidak nyaman dengan sifat seseorang, beliau tak akan sok berakrab ria. "Daripada aku pura-pura?", Begitu alasannya.
Pun jika tahu seseorang sukanya menang sendiri, beliau sebisa mungkin mengalah demi menghindari konflik.
Karakter seseorang memang sulit dirubah, karena itu jika ingin hubungan berjalan baik seringkali dituntut kitalah yang harus menyesuaikan diri. Bukan berarti kita yang kalah, malah seringkali itu jalan menuju kemenangan.
Uang, hal yang hampir semua orang cari-cari dan selalu butuhkan, ternyata juga punya karakter tersendiri. Tak heran jika ada yang bilang tak ingin bekerja untuk uang, tapi inginnya uang yang bekerja untuknya.
Orang seperti ini, sudah paham karakter uang. Dengan pengetahuan dan keahliannya, dia sudah bisa 'menjinakkan' uang. Sehingga tak perlu susah payah mengejarnya kesana kemari.
Whoaaaa, sepertinya sulit dan hanya bisa dilakukan orang-orang sekelas Jack Ma. Tapi sesuatu yang sulit, pasti ada ilmunya. Dan itu yang dibahas dalam buku #tsow.
Siapa yang tak ingin uang yang datang sendiri padanya?
Meskipun begitu, harus tetap diingat jika uang hanyalah titipan. Seperti juga anak dan harta yang lain. Titipan yang harus digunakan sebaik-baiknya sebagai bekal untuk mendekatkan diri pada Ia Yang Memberi Titipan.
Comments
Post a Comment