Skip to main content

Karakter Uang

"Heran deh sama ibumu, baru denger dia pengen kelapa muda langsung Mak Ijah (bukan nama sebenarnya) nyuruh anaknya petikin di sawah.
Aku yang jelas-jelas cerita di depannya pengen masak bayam didiamin. Padahal bayamnya lagi subur-suburnya di kebun. Padahal rumah kami dempetan, belum lagi kalau dihitung dia itu bibinya suamiku." Curcol tetangga seberang jalan.

Saya hanya tersenyum. Entahlah, tapi memang rezekinya Ibuq seringkali berbeda dengan orang lain. Misalnya saat kenduri. Walaupun bawaannya sama, nanti ibu-ibu dapat berkat (makanan yang dibawa pulang setelah kenduri) standar misalnya nasi, sayur nangka, dan kerupuk, tak jarang ibu juga membawa pulang sesisir pisang atau sebungkus gulai daging.

Ketika saya tanya, Ibuq biasanya hanya tertawa dan menjawab tidak tahu. Tapi saya perhatikan, Ibuq memang tidak pernah segan membantu orang. Sampai rela menomorduakan kepentingannya sendiri. Kecuali memang benar-benar tidak bisa.

Ibuq juga paham karakter orang. Jadi kalau merasa kira-kira nggak akan nyambung atau tidak nyaman dengan sifat seseorang, beliau tak akan sok berakrab ria. "Daripada aku pura-pura?", Begitu alasannya.

Pun jika tahu seseorang sukanya menang sendiri, beliau sebisa mungkin mengalah demi menghindari konflik.

Karakter seseorang memang sulit dirubah, karena itu jika ingin hubungan berjalan baik seringkali dituntut kitalah yang harus menyesuaikan diri. Bukan berarti kita yang kalah, malah seringkali itu jalan menuju kemenangan.

Uang, hal yang hampir semua orang cari-cari dan selalu butuhkan, ternyata juga punya karakter tersendiri. Tak heran jika ada yang bilang tak ingin bekerja untuk uang, tapi inginnya uang yang bekerja untuknya.

Orang seperti ini, sudah paham karakter uang. Dengan pengetahuan dan keahliannya, dia sudah bisa 'menjinakkan' uang. Sehingga tak perlu susah payah mengejarnya kesana kemari.

Whoaaaa, sepertinya sulit dan hanya bisa dilakukan orang-orang sekelas Jack Ma. Tapi sesuatu yang sulit, pasti ada ilmunya. Dan itu yang dibahas dalam buku #tsow.

Siapa yang tak ingin uang yang datang sendiri padanya?

Meskipun begitu, harus tetap diingat jika uang hanyalah titipan. Seperti juga anak dan harta yang lain. Titipan yang harus digunakan sebaik-baiknya sebagai bekal untuk mendekatkan diri pada Ia Yang Memberi Titipan.

Comments

Popular posts from this blog

Anggun: Ibu

Aku suka dangdut? Ngggg.. kayaknya nggak hard to believe banget. Apalagi karena aku juga suka lagu-lagu India. Lagu yang ku suka variatif, nggak terbatas di genre tertentu atau satu penyanyi. Yg penting ngena di hati. Dan malam ini, entahlah aku mesti senang atau sedih. Aku hampir menangis menyaksikan penampilan finalis DA3 dari Bima, Anggun. Mungkin karena mengetahui kisahnya sebagai TKI dan hanya pernah bertemu beberapa kali dengan anaknya. Mungkin karena di dekatku ada ibuq, dan membayangkan lagu itu adalah ungkapan hati ibuq dan ibu-ibu lainnya di seluruh dunia. Ditambah lagi aku belum bisa berbuat banyak untuknya. Atau mungkin, sekali lagi mungkin. Ini yang dikatakan: apa yang dilakukan dengan hati, akan sampai ke hati. Apalagi ketika baitnya sampai pada 'Kau adalah simbol kesempurnaan dariku yang tak sempurna'. Tuhan, sampai disini aku merinding. Betapa besar anugerah dan kenikmatan menjadi seorang ibu. Sesuatu yang kerapkali ku impikan. Tapi aku sadar, mungkin Allah ...

The Reflex

Siang ini di atas motor.. Tikungan agak tajam ke kanan tampak 50 meter di depanku. Tangan kiri sedia memegang rem. Tangan kanan yang sedari tadi konsen menarik gas mengendur dan berganti menarik rem. Lalu membawa stang motor sedikit membelok ke arah kanan. Tikungan terlewati dengan mulus. Semua dilakukan dengan spontan. Like they said, if you do something for years, you get pretty good at it. Or in my case, used to it. Because I'm not sure I'm a good or lousy rider. Sometimes it feels like the first but not rarely I feel the second. Aku melakukannya sebelum memikirkannya. Semua diatur otak di alam bawah sadar. Lalu ketika mobil dari arah berlawanan menyalip dan melewati kami dengan terpaut jarak sekian puluh senti saja, jantungku langsung seperti ingin meloncat dari rongganya. Bahkan jantungku bukan milikku sendiri. Ia bekerja mengikuti ritme tubuh. Sesuai dengan kebutuhan. Aku tak bisa mendiktenya untuk berdetak 85 kali saja. Ia memiliki mekanisme tersendiri. Pun paru-paru...

Malin Kundang

"Dimana itu Nak?" Pertanyaan protokoler akhirnya keluar di ujung sana. I almost roll my eyes if it wasn't for the answer itself. What was this place called again? My brain went blank. In panic state I running in storange room names my brain, rummaging for some memory. Nope, nada. Fortunately, there's last source of knowledge standing there. I turn to her and ask. "Dimana namanya ini lenga?" My, my. The look on her face is priceless. Just like I ask her where is my keys when its dangling in my bag. I I can't help but broke into laugh. "Ya Allah lenga beneran side lupa?! Karang Sukun." Cue for the stern-looking-mom-expression. It was so understatement. I was lived in that area for almost one year yet it's name easily slipped from my mind. I was never intended to comeback to my old landlord yet Cg's landlord came 500 kilometers across sea to attend her wedding. Yep, I can totally see the picture here. Not only that time Cg must huffing ...