"Mbak, arti namane Dek Fayyadh opo toh?" Tanya Iffah.
"Murah hati, atau dermawan." Jawab saya.
"Oh, kalo namaku Iffah artinya suci. Pernah toh karena tak pikir artinya gitu aku nggak wudhu pas mau sholat, kan udah suci. Eeeeh, ternyata ndak boleh gitu."
Hahaha.. dasar bocah. Polos men. Tapi setidaknya dia tahu arti namanya. Saya sering mengernyitkan dahi ketika bertanya pada seseorang dan ia tidak tahu arti apalagi sejarah namanya.
Apa dia tidak bertanya? Atau orang tuanya tidak menceritakan?
Penting ya Fit? Apalah arti sebuah nama. Well, menurut saya sih penting. Ada banyak nilai yang bisa digali disana. Salah satunya, adalah harapan dan romantisme orang tua.
Nama saya sendiri adalah Baiq Fitria Suryani. Jadi bukan nama FB ya (maafkan kealayan ini 😁). Katanya, dulu saya akan dinamai Ade Irma Suryani, tapi ada keluarga yang mencegah, katanya "Nanti meninggalnya cepat seperti alm. Ade Irma." 😅
Baiq adalah gelar perempuan di Suku Sasak, Fitria karena saya lahir berdekatan dengan Idul Adha. What the? Iya, di telinga masyarakat Lombok nama 'Adha' terdengar aneh dan berpotensi besar diplesetkan, jadilah diambil hari raya sebelumnya, Idul Fitri 😂
Lalu Suryani, mengapa begitu ngotot harus ada nama ini? Saya pikir agar bersinar terang seperti sang surya. Ternyata saudara-saudara, Suryani adalah akronim dari Sulaiman Rarang dan Ayani. Gabungan nama Mamiq (ayah) dan ibu saya 🤗
Ternyata, tak disangka Mamiq romantis juga 😉
Nama yang bagus tak jarang diharapkan sama bagusnya dengan orangnya. Dan lebih sering secara fisik. Apalagi jika namanya seperti nama artis atau kata seperti Cantik, Indah, Gagah.
Sewaktu saya kuliah di Poltekkes Kemenkes Mataram, ada mahasiswa baru bernama Ririn Aurora. Teman-teman cowok yang jadi panitia ospek sudah menjadikannya target operasi.
"Aku yakin, nih anak pasti cantik!"
"Kita bersaing ya bro!"
"Tenang, siap-siap kalah aja bro!"
Esok lusa, ketika saya tanya apakah si Ririn ini sesuai ekspektasi, mereka hanya mesam-mesem. Well, saya artikan jawaban itu sebagai tidak 😂😂😂
Sering juga saya menemukan nama-nama yang begitu sastrawi dan unik. Dan membuat bertanya-tanya siapakah orang tuanya. Seperti Bening Embun Pagi. Saya sempat berangan-angan jika punya anak perempuan akan memberi nama yang sama. Tapi nasip berkata lain 😁
Lalu ada 'Pria Bernama Hoed' dan 'Anakku Lelaki Putra Hoed'. Ini nama anak-anak Melly Goeslaw dan Anto Hoed. Pertanyaan saya, dipanggilnya apa? 😄
Kembali ke nama anak. Dulu saya juga bertekad tidak memberikan nama anak yang sulit diucapkan dan dituliskan. Kasihan kalau sering salah. Juga jangan panjang-panjang. Kasihan juga menulisnya akan butuh waktu lama.
Nyatanya, anak pertama kami bernama lengkap Fayyadh Muhammad Anamatupa. Nama yang tidak memenuhi dua saya.
Rata-rata orang akan menyebut nama Fayyadh dua kali untuk meyakinkan diri penyebutannya benar. Apalagi di Lombok, disebutnya menjadi 'Payat' karena bahasa Sasak tidak mengenal huruf F. Lalu tulisan, ada yang menulis: Fayad, Fayat, Fayyad. Bang, Hayati lelah..
Tetapi bagaimana pun, ada harapan disana. Ada cerita berkesan dibaliknya. Kami harap, nama itu sudah memenuhi hak Fayyadh sebagai anak. Diberikan nama yang baik.
Karena saya tak setuju dengan ungkapan apalah arti sebuah nama. Karena nama juga adalah doa.
So, apa cerita dibalik namamu?
Comments
Post a Comment