Apa beda geng cewek dan cowok kalo baru ketemu?
Kalo cowok, baru ketemu manggil 'Njing! Nyet! Ngan!' dan sejenisnya, tapi abis itu pada ketawa-ketawa sampai pulang.
Kalo cewek, manggilnya 'Say, Cin, Inces' dan semacamnya, tapi di belakang sering saling omongin 😅
Ini kata meme sih, tapi kok ada rasa akurat-akuratnya gitu ya? 😂😂😂
Untungnya saya nggak termasuk golongan cewek yang begitu (mulai bela diri). Bukannya apa-apa, saya emang nggak pernah manggil teman 'Say!' 🙃
Mengumpat adalah mengeluarkan umpatan, menjelek-jelekkan orang, atau mengeluarkan kata-kata kotor karena marah atau jengkel (KBBI).
Ya, kadang memang ada waktu ketika tidak ada kata yang bisa mengungkapkan betapa buruknya suasana hati kecuali kata-kata umpatan.
Setelah mengumpat, apa rasanya jadi plong? Wallahu'alam.
Yang jelas kalau saya pribadi tidak. Malah merasa bersalah. Ngapain emosi sesaat begitu musti mengotori mulut?
Tentu saja saya pernah mengalami hari yang begitu buruk, dan terlintas keinginan bahkan tersebut umpatan itu, tapi dalam hati saja. Tidak berani saya keluarkan.
Alhamdulillah, Allah menjaga dari kebiasaan mengumpat karena jasa Mamiq dan guru SD saya.
Alkisah awal-awal masuk SD dulu, saya banyak mendengar teman-teman ringan saja mengeluarkan umpatan. Lalu satu siang ketika dilarang Mamiq pergi main karena disuruh tidur siang, keluarlah umpatan yang setara 'doggy'.
Waaah, Mamiq langsung murka. Padahal saya ngomongnya pelan. Setelah itu saya dimarahi panjang lebar. Yang paling buat saya mengkeret adalah matanya yang begitu melotot dan ekspresinya yang bengis.
Lalu lebih besar sedikit, keinginan mengumpat ini lebih dikubur lagi karena nasehat guru SD saya, alm. Lalu Masban.
"Coba bayangkan," katanya. "Umpatan-umpatan yang kamu katakan itu benar-benar keluar dari mulut kamu. Jadi itu bangkai, atau isi kebun binatang keluar dan diam dimana saja kamu mengumpat. Di kelas, di lapangan, di kamar mandi. Apa nggak penuh? Apa nggak bau? Apalagi yang sering-sering nyebut kemaluan ibunya (well, menurut saya ini umpatan paling menjijikkan di kalangan masyarakat Lombok). Itu punya ibu berceceran dimana-mana. Kena panas kena debu. Nggak jijik kalian?"
Layaknya imajinasi anak yang sedang tinggi-tingginya, saya langsung bergidik dan mual membayangkan semua itu.
Sejak itu saya mengunci mulut ini agar benar-benar tak mengeluarkan umpatan apapun. Tak ada faedahnya pula.
Jadi untuk para orang tua, mungkin cara guru saya bisa ditiru. Nggak usah dijanjikan kalo besok mengumpat lagi 'mulutnya bakal dioles cabe' tapi tidak dilakukan. Apalagi jika orang tua dan orang-orang di lingkungannya juga gemar mengumpat.
Children see, children do.
Bukankah belajar di waktu kecil itu bagai mengukir di atas batu? Demikian juga jika anak belajar mengumpat.
Dan sekali anak belajar lalu meniru, akan susah mengubah kembali mindset dan mulutnya.
Lalu bagaimana dengan orang dewasa?
Well, ini lebih susah lagi. Biasanya butuh disiplin tinggi dan tekad kuat dari yang bersangkutan.
Karena kembali lagi, belajar sesudah dewasa laksana melukis di atas air.
Tetapi jangan pesimis dulu, bukankah sekarang ada namanya latte art? Itu melukis di atas air juga bukan? Ya, meskipun air kopi.
Jadi, insya Allah bisa. Yang penting mau berusaha dan tidak lupa berdoa.
Selamat stop mengumpat Mak!
Comments
Post a Comment