Skip to main content

The Moon

Magrib ini ketika berjalan ke kosan Bu Annisa, aku mendongak ke langit. Purnama, selalu bisa membuat napas terhela. Kali ini tak hanya penuhnya purnama di  langit kananku, tapi juga ditambah pijaran sebuah bintang di langit sebelah kiriku. Di mataku, mereka hanya terpaut tak lebih dari 50 meter. Tapi sebenarnya, mungkin berpuluh-puluh ribu cahaya. Mungkin mereka tak saling kenal, tak pernah saling menatap seutuhnya. Namun Allah menjadikan mataku dapat melihat mereka berdekatan.

"Lihatlah berulang-ulang, apakah ada yang tak seimbang? Dan penglihatanmu pun dalam keadaan yang payah."

Dengan penglihatan yang payahpun, Allah membuatku melihatnya dengan indah. Apalagi jika penglihatanku tak payah.

Tapi siapa yang hendak ku tipu? Penglihatan yang payah itu entah mengapa malam ini menyeret pemikiran yang payah pula. Bahwa di suatu tempat antah barantah di bumi, ada seseorang atau lebih, yang menatap langit yang sama, dan memiliki pikiran yang sama denganku. Jauh sejauh-jauhnya, namun ditakdirkan berdekatan. Sebaliknya, ada yang berdampingan namun terasa begitu sulit untuk diraih.

Sebuah fragmen terlintas, dan kali ini ku biarkan ia menjelma bayangan. Menyesap perasaan yang sementara. Bahwa memang terasa indah jika ada seseorang yang mengerti apa yang kita pikirkan hanya dengan mengucap beberapa kalimat, atau bahkan cukup dengan diam dan berada di hadapan kita.

It was a nice feeling, indeed.

Aku benci ini, tapi 'that nice feeling' mesti ku rusak dengan pikiran ini. Bagaimana jika itu hanya delusi? Mungkin hanya aku yang merasakan. Namun hey, memangnya kenapa jika hanya aku yang merasakan? Apa lantas itu menjadi tak nyata? Dan sejak kapan pula perasaan orang lain menentukan apa yang ku rasakan benar dan bukan delusi?

Mutual understanding.

Its hard to find, at least for me. Karena yang aku tahu, sesuatu yang dapat membuatku tersenyum memiliki kesempatan yang sama besar untuk membuatku menangis.

Hanya berharap Allah menyembuhkan segalanya, luka apapun itu, segera. Aamiin. Karena dalam ketidaktahuan ini, aku hanya bisa memeluk diri sendiri. Dan terkadang, itupun mulai terasa tak cukup.

Comments