Menyusuri jalanan di Pulau Bali, mau tak mau membawaku pada memori masa kecil. Saat yang berada di belakang stang motor adalah Mamiq, dan aku akan memeluknya erat-erat dari belakang. Sesekali beliau akan bertanya, "Ngantuk anak?" Dan jawabanku selalu tidak. Even when I'm child, I was the stubborn one.
Kini, aku kembali menyusurinya, bedanya tak ada lagi punggung yang dipeluk, atau yang menanyakan aku mengantuk atau tidak, dan stang motor berada di bawah kendaliku. Aku benci mengakuinya, tapi aku merasa kesepian.
Aku telah dewasa, yang berarti Mamiq telah bertambah tua. Aku sadar sekarang mungkin itu juga dulu alasanku tak mau segera belajar naik motor sendiri. Agar kemana-mana masih diantar Mamiq. Masih bisa memeluk punggung itu, dan mendengar pertanyaan itu. Kini aku harus menyusuri jalanku sendiri, menemukan tempat di dunia.
Sepertinya baru kemarin Mamiq menggendongku yang pura-pura tertidur di kursi, dan membaringkanku di tempat tidur. Kemudian gantian beliau yang terbaring dengan aku sebagai perawat pribadi. Dan malam itu, salah satu yang paling membekas di ingatan. Tak pernah aku ingin melihat orang-orang yang ku kasihi menatapku dengan pandangan itu. Horor, tak percaya, malu. Seperti anak kecil yang tertangkap basah mencuri permen. Malam ketika Mamiq membawa Adik Indi dan ibunya untuk bertemu Niniq Pok. Dan aku sadar, kehadiranku disana sama sekali bukan hal yang diinginkannya saat itu. Seketika hatiku seperti tertusuk sembilu. Pamit, itu yang ku lakukan. Pengecut memang, tapi itulah hal terbaik yang bisa ku lakukan saat itu. Aku tak menangis, mungkin sudah terlalu letih dengan hal itu.
Namun tak satu dua kali Mamiq membuatku menangis dengan kejujurannya. Seperti saat aku semester 1 di Narmada, atau saat beliau bertanya apa aku menyimpan benci. Jika dirunut sekarang, mungkin itu bukan benci. Tapi kekecewaan yang terlampau penuh. Rupanya aku terlalu terburu-buru menamai perasaan. Tak mungkin aku menyimpan benci untuknya, after all he is my hero. He always will. Even he is far from perfect. But he is the best father for me.
Dan kemarin, ketika Mamiq membalas smsku dengan mengatakan selalu berdoa agar aku mendapat jodoh yang terbaik. Aku membayangkan wajahnya saat itu. Apakah yang beliau rasakan? Karena disini sekarang, membayangkan beliau tak lagi akan menjadi waliku sudah membuat air mataku tak henti mengalir. I definitely will be a weeping bride on my wedding.
Yeah, maybe I'm going too ahead if myself. I don't know when I'll wed. Heck, I even don't have a groom-to-be name. But I can't help it. I'm just a little girl that miss his dad.
Aku cuma rindu, itu saja.
Rabbigfirli waliwaalidayya warhamhuma kamaa robbayaani shohiro.
Comments
Post a Comment