"Menurutku, orang-orang yang jadi TKI ini cuman orang yang nggak mau berjuang. Pasti ada pekerjaan di negeri sendiri ngapain susah-susah ke negeri orang? Udh sampe sana disiksa, belum lagi kalo mereka kena kasus. Jadi nambah-nambah urusan pemerintah."
Komentar yang pedas, namun tak urung memiliki sejumlah kebenaran di dalamnya. Jika kita melihat dari satu sisi.
Well, selalu ada dua sisi mata uang bukan?
Sewaktu mendengar komentar ini, reaksi saya hanya tersenyum dan menjawab satu dua yang tak membenarkan atau membantah. Tak punya cukup ilmu tentangnya pun tak memiliki pengalaman menjalaninya. Bagaimanapun, memiliki keduanya berpengaruh besar pada keyakinan akan benarnya pendapat. Dan pagi ini, saya berkesempatan mencicipi sedikit apa yang mungkin menjadi pemantik seorang memilih jalan hidup sebagai TKI.
Pagi ini saya terbangun dengan kepala pusing, hidung tersumbat, dan tenggorokan terasa kering. Entah darimana datangnya yang jelas kondisi fisik saya menurun. Ditambah datangnya haid maka tak ada kewajiban yang cukup mendesak untuk bisa membuat saya bangun dari tempat tidur. Tidak juga kewajiban memberi makan pada kucing-kucing.
Tetapi, saya tak bisa selamanya di kamar. Ketika para kucing sudah mendatangi saya satu-satu makan mereka sudah terlalu lapar untuk menunggu. Maka bangunlah saya dengan sempoyongan menahan pusing. Dan ketika mencari sisa usus ayam semalam, saya tertegun karena hanya menemukan plastiknya. Tak ada jejak meski hanya tujuh satenya. Entah siapa yang memakannya yang jelas pagi ini para kucing harus puasa.
Masygul saya kembali ke kamar. Meneruskan tidur dan berharap para kucing mau menghabiskan pagi tidur bersama saya. Beruntungnya, mereka tak banyak komplain dan satu persatu mulai mendengkur di samping saya. Munying malah menyamankan diri di atas perut yang tak pernah sarapan ini. Saat itulah saya merasakannya.
Putus asa. Tak punya pilihan. Tak tahan melihat orang-orang terkait termenung karena terpenuhi kebutuhannya. Mungkin ini faktor terbesar orang bekerja diluar negeri. Karena ada impian untuk segera memiliki uang banyak dalam waktu yang singkat. Meskipun di sisi lain harus mengorbankan kebersamaan bersama keluarga dan segala kewajiban lainnya.
Di titik itu, saya pun berdoa dengan sangat agar segera mendapatkan pekerjaan di RSJ. Agar mampu memenuhi kebutuhan kucing-kucing dan keluarga. Meskipun nantinya hanya akan melihat mereka sekali seminggu. Para kucing adalah prioritas karena saya merasa ibu dan Mamiq masih mampu memenuhi kebutuhan mereka sendiri. Satu hal yang harusnya saya lakukan dan bukannya menjadi beban mereka.
Saya menyadari, pekerjaan adalah pilihan. Bersama pilihan termasuk juga konsekuensi dibaliknya. Setiap orang menyadari hal itu. Baik ketika ia akan dan telah mengambil keputusan.
Banyak yang berat. Namun sekali pilihan ditetapkan, seringkali pilihan lain sepertinya tertutup. Namun sebenarnya, ia ada di tangan kita. Tinggal apakah kita berani atau tidak melakukannya.
Allah selalu memberi kita pilihan. Namun paling tidak berdoalah dahulu. Semoga apa yang kita pikir terbaik, terbaik juga menurutNya. Jika tidak, setidaknya kita bisa mengambil pelajaran dari pengalaman ini dan memberanikan diri. Terus disini atau berani melangkah. Apapun yang kita pilih, semoga ridha Allah beserta kita.
Comments
Post a Comment