Menyapih anak adalah pengalaman emosional bagi setiap ibu dan anak. Bagaimana tidak, awalnya bisa saja penuh drama. Mulai dari ASI belum keluar, perlekatan anak belum sempurna, payudara bengkak, puting lecet, endebra endebra.
Setelah ibu dan anak sudah bisa menikmati prosesnya, anak tambah besar. Tumbuh gigi, duhai nikmatnya. Belum lagi posisi nenen yang sudah seenaknya si anak. Sudahlah itu nenen dipelintir sana-sini macam berita politik di media.
Tapi dibalik semua itu, menyusui adalah proses yang indah. Tak hanya transfer nutrisi, ia juga jalan membangun ikatan yang hanya dimiliki ibu dan anak.
Jadi ketika waktunya tiba, maka proses sapih kadang jadi butuh perjuangan. Untuk sapih secara fisik maupun batin. Kadang anak sudah siap, ibunya yang belum ikhlas.
Setelah ASI eksklusif, WHO menyarankan untuk meneruskan pemberian ASI sampai dua tahun. Dalam Al Qur'an disebutkan, waktu dua tahun adalah bagi mereka yang ingin menyempurnakan penyusuan. Jika ingin menyapih sebelum itu diperbolehkan, asal suami istri sudah bermusyawarah dan mendapatkan manfaat di dalamnya.
Maka bismillah, kami memutuskan untuk sapih si Abang paling telat sebulan sebelum saya melahirkan. Agar kami bisa adaptasi dan dia tidak merasa begitu ditelantarkan setelah adiknya lahir.
Saya dan suami sepakat menyapih menggunakan metode WWL. Menyusui dimulai dengan penuh cinta, mengapa menyapih tidak? Tanpa oles yang pahit-pahit, tanpa berbohong ini itu, atau pisah lama agar anak tak mau menyusui lagi. Tapi memang, hasilnya tak instan dan butuh kesabaran. Ada beberapa langkah yang kami lakukan.
Pertama, tidak menawarkan atau menolak. Walaupun sudah beberapa jam tidak nenen, tapi jika Abang tidak minta, saya tidak menawarkan. Ajak main atau jalan-jalan untuk memperpanjang jarak nenen satu dan lainnya. Tapi jika ia meminta, saya tidak menolak.
Kedua, kami mengurangi intensitas menyusui. Jika dulu bangun tidur langsung nen, pagi-pagi Abahnya mengajak jalan-jalan. Kadang sambil beli cemilan dan susu kedelai. Jadi dia sudah kenyang paginya.
Saya juga sempat 'bantu-bantu' piket pagi di klinik tiga hari seminggu. Saya 8 jam itu Abang juga tidak nen. And he is okay. Tidur siang dengan Abahnya juga gampang. Tapi ketika ketemu ibunya, tetap saja nen ketika tidur.
Yang jadi tantangan adalah mengurangi nenennya di malam hari. Ketika mau tidur dan terbangun. Kami sepakat jika Abang bangun, Abahnya yang akan memberikan air putih dan menemani sampai tertidur lagi.
Tapi prakteknya, tak semudah buat kesepakatannya. Si Abah kadang pulang larut malam. Akhirnya nggak tega ngebangunin. Belum lagi si Abang yang tantrum sampai berjam-jam. Akhirnya tak ada pilihan selain nenenin lagi sampai bobok.
Lalu kami evaluasi. Mungkin memang terlalu terburu-buru dan Abang belum siap sepenuhnya. Setidaknya kami sudah berhasil mengurangi frekuensi nenennya di siang hari. Jadi kami kembali lagi ke poin pertama, tidak menawarkan dan tidak menolak. Sambil mempertebal sabar, perbanyak doa, dan sounding si Abang. Akhirnya pelan-pelan dia mau minum air putih saja ketika terbangun. Tapi tetap, untuk tidur harus nen dulu.
Saat itu sudah masuk trimester ketiga. Kami memutuskan lahiran di Lombok. Sekalian sapih disana, karena lebih banyak bala bantuan. Yang jadi tantangan, orang tua tak paham metode wwl. Bagaimana menjelaskan? Lebih jauh, bagaimana jika mereka menentang?
Benar saja. Baru beberapa hari di rumah, orang tua sudah mau mencarikan sirih merah untuk dioles di payudara, biar pahit dan merah, dan si Abang tak mau menyusui lagi.
PENGALAMAN MENYAPIH ANAK DENGAN WWL Part 2
"Ini sih, bukan anaknya aja yang keras kepala, ibunya juga!" Jawab Mamiq ketika saya menolak dicarikan daun sirih untuk oles-oles agar Abang tak mau menyusui.
Saya hanya diam. Nada suara yang tinggi menunjukkan bahwa Mamiq marah. Ibu juga sepertinya kecewa. Upayanya untuk menyuruh segera menyapih Abang seperti membentur tembok.
Untuk mencapai jalan tengah, dengan berat hati kemarin saya setuju mengoleskan minyak Sumbek, sejenis minyak obat yang bisa diminum, artinya tidak berbahaya bila tertelan. Hanya saja, baunya agak aneh. Itu yang diharapkan bisa membuat Abang tak mau menyusui lagi.
Tapi tidak, Abang tak peduli dan tetap nen. Membuat saya lega tapi orang tua makin tak sabar. Sebenarnya, saya pun bukan hanya diam. Malah mengambil langkah ekstrim dengan memutuskan tak lagi menyusui Abang ketika akan tidur malam.
Mengapa ekstrim? Berhenti menyusui saat itu jauh lebih sulit ketimbang berhenti menyusui saat akan tidur siang.
Kita sudah capek, ngantuk, ingin segera istirahat, tapi masih harus menghadapi anak yang rewel.
Abang sempat tantrum sampai sejam lebih dan berlangsung beberapa malam. Jujur, beberapa kali terbesit keinginan menyerah. Tapi kami sudah sampai sejauh ini. Alhamdulillah, perlahan tantrumnya berkurang. Itu yang saya jadikan senjata ketika esoknya ortu masih bersikeras menyapih dengan cara instan.
"Saya minta waktu seminggu. Dia baru saja bisa tidur tanpa menyusui beberapa malam ini. Apa bedanya minggu ini dengan minggu besok? Abang nggak bisa ditipu. Kalau bukan karena keinginannya sendiri untuk berhenti, bakal susah nantinya. Seandainya seminggu lagi dia masih belum mau lepas, silakan mau diapain aja."
Sebuah pertaruhan besar. Tapi insya Allah sudah dipertimbangkan. Dan kali ini orang tua diam. Mungkin paham kepala batu anaknya dan kini, cucunya.
Langkah kelima adalah distraksi. Saat itu liburan sekolah. Orangtua dan adik saya di rumah. Jadi mereka mengajak Abang main. Kadang dibawa kemana agar tak lupa nenen. Jika dengan saya dan Abang meminta, saya menawarkan air putih atau susu UHT.
Langkah keenam adalah memakai baju yang menutupi leher kebawah agar akses anak ke PD lebih susah. Ini mudah, karena tinggal pakai baju yang nggak busui friendly dan berjilbab. Meskipun begitu, tetap saja beberapa kali Abang menarik-narik baju. Kalau sudah begitu, saya alihkan dengan mainan atau ajak keluar rumah.
Langkah ketujuh adalah memberi pujian. Ketika anak mau makan dan minum dengan lahap, kami memujinya. "Anak hebat makannya lahap." Dan sebagainya. Lalu kami juga menghindari membahas nenen atau meme untuk beberapa hari ke depan, sampai akhirnya si Abang benar-benar tidak mencari nen lagi.
Langkah kedelapan, sabar. Sabar ini dimulai dari awal sejak meniatkan sapih. Karena ada anak yang cepat prosesnya dan ada juga yang butuh waktu lebih lama. Beberapa hari setelah tidak nen anak biasanya masih akan rewel. Dan jika rewelnya sudah berlebihan apalagi sampai sakit, mungkin sapihnya bisa ditunda dulu.
Langkah-langkahnya mungkin terlihat ribet dan banyak, tapi sebenarnya bisa dilakukan bersamaan. Total waktu yang kami butuhkan dari awal sampai akhir sekitar 3 bulan. Agak lama, tapi kami memang tidak terburu-buru. Yang agak cepat prosesnya ketika sudah di Lombok. Tapi worth it banget. Saya samasekali tak mengalami bengkak di payudara. Abang juga ceria. Sekarang, saat melihat adiknya disusui, dia tak pernah meminta.
Walaupun Abang sudah lupa, mungkin selamanya saya akan ingat bagaimana ia kesulitan menyusui pertama kali, sampai saat saya terkantuk-kantuk menimangnya yang penuh air mata saat proses sapih. Lalu saya sendiri menangis setelah melihatnya tertidur sambil memeluk perut saya yang buncit.
Alhamdulillah, sebuah perjalanan yang indah, meskipun banyak drama. Terimakasih kepada suami, ibu, Mamiq, Indi, dan semua keluarga yang sudah mendukung saya.
Menyapih adalah keputusan keluarga. Ini hanya sekedar sharing dengan harapan semoga bisa jadi pilihan demi meminimalkan trauma pada anak ke depannya.
Semangat mengASIhi!
Comments
Post a Comment