"Nggak pernah ngerasain janin kecil sih!"
Komentar sesemak di status saya tentang tidak wajibnya susu ibu hamil setahun lalu itu terngiang-ngiang selama beberapa bulan ini.
Inikah namanya karma? (Dhuarrrr! Gledek menyambar).
Karena saat hamil adek, setiap periksa ke bidan (di Solo maupun Lombok, dan dengan beberapa bidan berbeda), pasti dikatakan perut saya kecil, tidak sesuai dengan usia kehamilan. Which is berarti, janin di dalam perut itu kecil.
Selama di Solo, jujur saya tidak begitu ambil pusing. Karena apa? Saya juga periksa ke dokter spesialis kandungan dan beliau tak pernah mengatakan apapun terkait janin yang kecil. Malah, saat USG terakhir di usia kehamilan 30 minggu, saya diminta mengurangi yang manis-manis.
Karena BB Adik sudah mencukupi, bahkan cenderung lebih. Dan riwayat Abangnya yang lahir lumayan gede.
Tapi sampai di Lombok, entah mengapa saya jadi kepikiran sekali. Pegangan 'pengetahuan yang dimiliki juga hasil pemeriksaan dokter Sp.OG' serta support keluarga dan emak-emak lain yang bilang seakan tak ada gunanya.
Ditambah lagi saat periksa kadar hemoglobin, Hb saya 'cuman' 9,5 mg/dL. Makinlah bidan menganjurkan banyak makan, minum susu, makan es krim, perbanyak sayuran hijau, ini itu. Tapi saya masih ngeyel dan konsul sana sini, sharing sana sini. Dan pada akhirnya, menuruti naluri saya dan mengabaikan anjuran bidan.
Mohon maaf, bukan meremehkan profesi apalagi pengetahuan dan pengalaman mereka. Justru karena percaya, makanya galau dan nulis sepanjang ini. Pertimbangan saya:
1. Bidan-bidan mengatakan janin yang saya kandung kecil berdasarkan tinggi fundus uteri (TFU). Ada pakem jika sudah usia kehamilan sekian, maka TFU-nya harus sekian. Tapi, ini berlaku global. Sedangkan bentuk tubuh, status gizi, dan riwayat kesehatan setiap wanita berbeda. Dan itu berpengaruh. Belum lagi jika dihitung jika hasil pengukuran itu juga bisa subyektif meskipun sama-sama memakai metelin.
2. Hasil USG dari awal mengatakan janin yang saya kandung sehat, bahkan taksiran beratnya lebih meskipun hanya sekian gram. Biasanya janin kecil diketahui sejak awal dari hasil USG.
3. Riwayat anak pertama lahir 3800 gr.
4. Saya tak sering merasa lapar. Dan bukankah, lapar itu adalah sinyal dari tubuh jika memang perlu asupan makanan? Jadi kalau tak lapar, mengapa mesti memaksakan diri makan banyak?
5. Pertambahan BB janin sangat pesat di trimester ketiga. Jadi bisa saja berat janin yang agak kurang di trimester sebelumnya, bertambah dengan cepat di trimester terakhir. Maka dari itu sering disarankan mengurangi makanan manis.
Maka bismillah, saya tetap makan 3x/hari dengan porsi kadang banyak kadang sedikit. Kalo lagi nggak nafsu makan nggak maksa. Minum susu paling kalo ada sisa si Abang. Makan es krim kalo pengen. Ngemil manis kalo ada.
Dan taraaaa, si Adek lahir dengan BB 3.300 gr. Masya Allah, laa haula wa laa quwwata illa billah.
Jadi, yang ingin saya sampaikan adalah, jika sedang hamil dan dikatakan bayi kecil, jangan panik dulu. Galau boleh, panik jangan. Lalu lihat siapa yang bilang. Usahakan ibu periksa di beberapa tempat, biar ada pendapat kedua. Jika memungkinkan, kontrol di bidan dan dokter sekaligus. Karena kedua profesi itu saling mendukung.
Lalu ingat riwayat kehamilan sebelumnya. Dan jika ingin browsing, pilihlah sumber yang bisa dipercaya. Yang ditulis tenaga kesehatan dan menyertakan sumber-sumber bacaan.
Terus, percaya pada intuisi diri dan isyarat tubuh. Dan tentu saja, berdoa dan tawakal kepada Allah. Ia menjadikan tubuh perempuan sempurna sebagai tempat tumbuh dan berkembang bayi, pasti sudah disiapkan segala sesuatu yang terbaik.
Tapi kembali lagi, kondisi tiap perempuan berbeda. Jadi, lakukan sesuai kondisi dan kepercayaan masing-masing. Ini hanya sekedar sharing.
Semoga, semua yang sedang hamil Allah mudahkan dan sehatkan selalu beserta debay. Dan yang sedang menanti anak dalam rahimnya, segera Allah sudahi penantiannya dengan segera hamil. Aamiin.
Comments
Post a Comment