Skip to main content

Ikut Seminar Keren Lagi, Jealous Tingkat Tinggi Lagi

Ahad, 21 Juli 2013 lalu in shaa Allah tidak akan saya lupakan.
Bagaimana tidak? Hari itu saya kedatangan 3 tamu istimewa, 2 dalam bentuk akhwat Lombok yang sangat bersemangat, 1 lagi dalam bentuk tamu bulanan khas seorang perempuan. Huhuhu.. Ga bisa puasa dan ibadah lain, mana tilawah belum nyampe setengah. Tapi jika saya teruskan huhuhu ini, maka tak akan selesai daftar keluhan saya. Dan akan tercatatlah saya sebagai orang yang kurang bersyukur.
Okeh epribade, kita kembali ke alasan mengapa tanggal diatas in shaa Allah tidak akan terlupa. Becoooos, saya ikut even ini:





Awalnya liat di pesbuk seorang teman (alhamdulillah saya punya teman-teman yang baik), namanya Mbak Mike dengan nama fesbuk 'Mike Semangatselalu Menggapaimimpi'. Sesuai banget ma namanya, si Mbak ini memang sangat-sangat bersemangat orangnya. Okay, back to the event. Event ini 3 kali pindah tempat. Di posternya tertulis: Hotel Aston, lalu saat saya bertemu panitia hari Jumat, 19 Juli 2013 diinfokan tempatnya dipindah ke GKN II. Eeeeh besok malamnya diinfokan lagi kalo tempatnya dipindah ke Kampus STIKOM Bali karena peserta yang membludak. Ckckck.. Tak apa, malah saya senang karena STIKOM nggak nyampe satu km dari rumah.

Dan acaranya memang amazing abis! Mulai dari MC-nya, pengisi acaranya, pembicaranya, dan pesertanya yang hebooh gila. Nggak cuman dari kalangan mahasiswa, tapi juga dari adek-adek SD, SMP, dan SMA. Belum materi acara sudah dimeriahkan grup nasyid Bali Muslim Voice. Bawain lagu khas ESQ: Demi Matahari-nya Snada. Sukses bikin saya merinding. Apalagi setelah pembicara utama-nya tampil, Kang Nanang Mubarok. Sosok yang terlihat tua di posternya itu ternyata aslinya energik n kocak abis. Beliau sangat mengerti siapa audiennya, meladeni setiap celoteh dengan singkat, namun tidak menggurui.

Setiap mengikuti acara seperti ini, bermacam perasaan akan tumpah ruah  berebut posisi di dalam hati. Mulai semangat, haru, sedih, dan jealous. Dari sekian banyak perasaan itu, yang paling mengganggu saya adalah perasaan jealous. Jealous pada siapa? Pada semua. Adik-adik dibawah saya, in shaa Allah akan jadi orang-orang hebat jika mereka senantiasa memelihara semangat dan optimis mereka hari itu. Sedangkan orang-orang diatas saya, mereka sungguh telah banyak berbuat. Mengikuti even yang jauh lebih banyak dari saya, menjadi panitia di acara A, B, C, D, aktif di pelbagai organisasi, bermanfaat bagi buanyak orang, dan seterusnya, dan seterusnya. Aaaaah, saya cemburu. Saking cemburunya saya terlambat tidur di malam hari dan bangun dengan tak bersemangat di pagi hari. Stres tahap 1.

Tetapi, saya tak bisa terus begini kan? bukankah hanya orang-orang zalimlah yang berputus asa dari rahmat Rabbnya? Jadi, berbekal senyum dan semangat yang tersisa saya akan berusaha menjalani hari ini sebaik-baiknya. Semoga ke depannya saya bisa berkiprah sebaik teman-teman hebat saya, atau malah lebih baik. Aamiin ^-^

Comments

Popular posts from this blog

Anggun: Ibu

Aku suka dangdut? Ngggg.. kayaknya nggak hard to believe banget. Apalagi karena aku juga suka lagu-lagu India. Lagu yang ku suka variatif, nggak terbatas di genre tertentu atau satu penyanyi. Yg penting ngena di hati. Dan malam ini, entahlah aku mesti senang atau sedih. Aku hampir menangis menyaksikan penampilan finalis DA3 dari Bima, Anggun. Mungkin karena mengetahui kisahnya sebagai TKI dan hanya pernah bertemu beberapa kali dengan anaknya. Mungkin karena di dekatku ada ibuq, dan membayangkan lagu itu adalah ungkapan hati ibuq dan ibu-ibu lainnya di seluruh dunia. Ditambah lagi aku belum bisa berbuat banyak untuknya. Atau mungkin, sekali lagi mungkin. Ini yang dikatakan: apa yang dilakukan dengan hati, akan sampai ke hati. Apalagi ketika baitnya sampai pada 'Kau adalah simbol kesempurnaan dariku yang tak sempurna'. Tuhan, sampai disini aku merinding. Betapa besar anugerah dan kenikmatan menjadi seorang ibu. Sesuatu yang kerapkali ku impikan. Tapi aku sadar, mungkin Allah ...

The Reflex

Siang ini di atas motor.. Tikungan agak tajam ke kanan tampak 50 meter di depanku. Tangan kiri sedia memegang rem. Tangan kanan yang sedari tadi konsen menarik gas mengendur dan berganti menarik rem. Lalu membawa stang motor sedikit membelok ke arah kanan. Tikungan terlewati dengan mulus. Semua dilakukan dengan spontan. Like they said, if you do something for years, you get pretty good at it. Or in my case, used to it. Because I'm not sure I'm a good or lousy rider. Sometimes it feels like the first but not rarely I feel the second. Aku melakukannya sebelum memikirkannya. Semua diatur otak di alam bawah sadar. Lalu ketika mobil dari arah berlawanan menyalip dan melewati kami dengan terpaut jarak sekian puluh senti saja, jantungku langsung seperti ingin meloncat dari rongganya. Bahkan jantungku bukan milikku sendiri. Ia bekerja mengikuti ritme tubuh. Sesuai dengan kebutuhan. Aku tak bisa mendiktenya untuk berdetak 85 kali saja. Ia memiliki mekanisme tersendiri. Pun paru-paru...

Malin Kundang

"Dimana itu Nak?" Pertanyaan protokoler akhirnya keluar di ujung sana. I almost roll my eyes if it wasn't for the answer itself. What was this place called again? My brain went blank. In panic state I running in storange room names my brain, rummaging for some memory. Nope, nada. Fortunately, there's last source of knowledge standing there. I turn to her and ask. "Dimana namanya ini lenga?" My, my. The look on her face is priceless. Just like I ask her where is my keys when its dangling in my bag. I I can't help but broke into laugh. "Ya Allah lenga beneran side lupa?! Karang Sukun." Cue for the stern-looking-mom-expression. It was so understatement. I was lived in that area for almost one year yet it's name easily slipped from my mind. I was never intended to comeback to my old landlord yet Cg's landlord came 500 kilometers across sea to attend her wedding. Yep, I can totally see the picture here. Not only that time Cg must huffing ...