Skip to main content

Study abroad, or leave the road?


Sepulang dari Poltabes mengurus SIM kemarin, alih-alih melaju ke Poltekkes untuk menyerahkan proposal pada Bu Suratiah,  aku memutuskan membelokkan stang motor ke arah RSM. Niat awalnya untuk mengedit proposal sambil menunggu jam 10, dimana aku janjian dengan Mbok Ayu Panji. Sesampai disana, niatan itu berubah 180 derajat. Bukannya takzim menyimak penuturan Mbah Google mengenai komplikasi, aku malah khusyuk mempublish notes baru di pesbuk.


Hilang sudah semangatku untuk melengkapi data dan memperbaiki proposal skripsi. Ku tutup rapat pintu proposal dan mulai membuka percakapan dengan bu Novi dan mbak Susi. Iseng-iseng ku tanyakan tentang bu Suratiah, pembimbing 2-ku, yang berjilbab syar’I dan subhanallah anggun serta keibuan, dan ini yang terpenting, ternyata beliau termasuk perintis RSM dulu semasa masih bernama LKM. Mbak Susi ternyata tak tahu banyak tentang beliau, dari Bu Novilah aku mendapat cerita lengkap. Beliau orangnya memang pintar dan disiplin. Suaminya juga seorang dosen dan pintar berbahasa inggris. Keduanya memegang banyak amanah di Bali. Satu lagi fakta yang membuatku tercengang, beliau ternyata adalah orang Lombok. Subhanallah, aku merinding. Ingin rasanya mengikuti jejak beliau, menuntut ilmu setinggi-tingginya dan kemudian menebar ilmu dan manfaat, menjadi seorang guru.

Diskusi kami berlanjut dengan topic mencari beasiswa keluar negeri, yang semakin menyulut asaku untuk menuntut ilmu di negeri orang. Aku mengeluhkan semua keterbatasanku, tetapi bu Novi menguatkan, kalau mau pasti bisa. Harapku membubung, kabulkan Yaa Allah...

Tapi 4 jam kemudian, harapan itu kembali meredup. Bukan, bukan karena putus asa. Melainkan karena aku teringat mimpiku yang lain. Ianya hadir ketika membaca status seorang teman. Indonesia Mengajar, Sakola Rimba, Sekolah Guru Indonesia. Nama-nama itu memenuhi pikiranku setahun terakhir ini. Dan sore ini, ketika membantu anak-anak TPA Musmandar membuat kartu ucapan Idul Fitri aku sadar, rasa itu tak pernah pudar, bahkan semakin tumbuh. Aku ingin jadi seorang guru. Tak perlu sekolah elit dengan fasilitas wow, hanya dengan tangan-tangan kecil itu semangat belajar menulis, rasa bahagia itu seketika hadir. Entah menyeruak darimana. Benarlah pameo itu: ‘Passion is not something you’re good at, but something that can you do with all of your heart.’

Mimpiku, ingin melihat Indonesia dari mata-mata bening yang belum tercemar pesimisme dan tak acuh akan negaranya sendiri. Mendengar cerita dari bibir-bibir mungil yang belum tersentuh gemerlapnya pesona insan televisi. Belajar bersyukur dalam kesederhanaan, namun tak lupa untuk mengukir mimpi-mimpi besar.

Whooooaa, hold on, hold on! aren't you a nurse Fitria? Yeah, actually i am. So, kenapa ga ngurusin pasien ajah? Hmmm.. iya juga sih. Tapi mimpi itu harta karun setiap orang kan? Jadi, semua sah-sah saja. Lagian, siapa suruh Kemenkes menganaktirikan perawat, boro-boro ada program PTT, kewenangan perawat aja belum dibikin-bikin (Haduuuh, kalo ngomongin yang satu ini ga bakal kelar2).

Pokoknya itu mimpiku, titik. 



Comments