"Beli dimana Mbak?" Tanya seorang teman ketika saya membawa cemilan ke klinik.
"Nggak beli Mbak, dikasih tetanggaku."
"Sering banget dikasih Mbak, mesakke (kasihan)."
Haaaah..??
Ada dua hal yang saya garis bawahi dari pernyataan ini. Pertama, ternyata memang saya sering banget dikasih barang/makanan oleh tetangga ataupun orang lain. Dan saya cerita 😅
Kedua, ternyata diberikan sesuatu bisa juga karena dikasihani. Dan saya seorang yang tidak suka akan hal itu. Sampai pernah menulis juga. Lalu bagaimana?
Well, alhamdullilah saya sudah paham jika tidak semua komentar orang berarti benar dan baik untuk kita.
Ya, sebagian besar barang-barang di kontrakan kami memang pemberian. Hadiah pernikahan dari saudara-saudara yang insya Allah shalih, mencintai kami, dan kami cintai karena Allah.
Lalu makanan, tak sekali dua kami menemukan plastik sudah tergantung di pintu atau gantungan motor. Ketika cek wa adalah kabar bahwa Ibu A memasak makanan ini dan dibagi dengan kami. Apalagi musim mangga seperti sekarang. Anak-anak akan mengetuk pintu dan membawa kresek berisi mangga baru dipetik di depan rumahnya. Untuk setiap rumah di blok kami.
Alhamdulillah 'ala kulli hal. Bukankah itu rezeki dari Allah? Tidak kami sangka-sangka dan perlu usaha untuk mendatangkannya? Lalu apakah saya harus merusak niatan mereka dengan memikirkan apakah saya dikasihani atau tidak? 😅😅😅
Urusan niat adalah urusan seorang hamba dengan RabbNya. Urusan saya adalah bersangka baik, berterimakasih atas pemberian dan mendoakan kebaikan untuk mereka, dan bersyukur pada Allah yang telah menggerakkan hati-hati baik itu.
Pemberian, atau apapun itu tergantung kita bagaimana mempersepsikannya. Dan itu berbanding lurus dengan cara menyikapinya. Saling memberi hadiah akan meningkatkan rasa cinta, kata Rasulullah.
Ketika meminta-minta itu dilarang, menolak rezeki (pemberian) juga tidak baik. Karena akan menyakiti perasaan si pemberi. Perkara nanti di belakang dia ngomong "Aku ngasi dia karena kasihan." Ya sudah, itu urusannya. Ketersinggungan cukup kita tunjukkan dengan diam dan berhati-hati menerima pemberiannya di masa depan.
Jadi, diberi karena cinta atau kasihan, so what? Selama tidak meminta apalagi memaksa, tinggal bolak balik saja hati itu. Karena hati yang penuh syukur, akan selalu lebih bahagia dari hati yang nyinyir.
Comments
Post a Comment