Skip to main content

Pasien Jutek

'Ternyata bukan saya yang tidak kompeten, tetapi memang nyari vena ibunya susah,' batin saya malam kemarin. Setelah menyaksikan rekan kesekian yang kesaktiannya memasang infus tak perlu diragukan-juga gagal menyematkan IV kateter di tangan seorang pasien 😅

Mungkin tak etis, tapi jujur saya merasa sedikit lega dari rasa bersalah. Karena diantara banyak faktor yang menghambat perawatan pasien, kecakapan perawat memegang peranan penting.

Dan kebiasaan saya menyalahkan diri sendiri sebelum faktor lain, kadang memperburuk keadaan dan bikin baper 😥

Namun kasus semalam membuat saya berpikir. Banyak pasien, yang kadang walaupun sudah dehidrasi berat sekali tusuk infus langsung terpasang sempurna. Di lain kasus, tak sedikit yang harus dicoba berkali-kali. Lalu muncullah dugaan itu.

Kebanyakan dari pasien yang susah akses venanya, atau mendapat hambatan dalam pelayanan (sedang buru-buru dokternya baru ijin makan, mau dirujuk printer rusak, ingin fisioterapi petugas sakit, butuh suntik tetanus ndilalah ATS habis, dll) adalah mereka yang cepat mengeluh dan suka komplain. Kekurangan dalam pelayanan yang dapat diterima sebagian besar orang seringkali dipermasalahkan.

Wallahu'alam. Siapa saya untuk menilai? Meskipun demikian, saya percaya kesulitan apapun yang kita hadapi Allah tujukan untuk dua hal: menghapuskan dosa dan meningkatkan derajat.

Dan ya, jangan lupakan kekuatan pikiran. Biasanya kalau sudah kadung percaya pada satu tenaga medis, maka yang lainnya biasa efeknya bakal 'kurang nendang'. Padahal terapi dan tindakan yang diberikan sama.

Saya rasa hal ini juga berlaku pada semua hal. Ketika kita sering mengeluh, hal-hal kecil harus dikritisi, menganggap orang lain atau diri sendiri tak mampu, kadang semesta juga seperti bersekongkol untuk menyulitkan kita. Ada aksi, maka timbul reaksi.

Ada kaidah menarik dalam pelatihan self healing yang pernah saya ikuti, yaitu 'Perhatikan masalah yang sering kamu temui. Apakah itu ekonomi, keluarga, pekerjaan, dll. Jika satu hal itu terus berulang, maka memang kamu belum lulus dalam ujian itu.'

Ya, bagaimana mau naik kelas jika hal remeh temeh saja tak lulus? Jadi kalau hidup terus terasa sulit, duduk dulu dan berpikir. Lalu temukan polanya. Berarti memang ada yang harus dirubah dalam menghadapi masalah itu. Dan mulainya, tentu dari dalam diri.

Baiklah, ini sudah melenceng jauh dari infus. Dan semoga bukan tulisan untuk membela diri. Hanya saja, pasien dan tenaga medis harus bekerja sama. Anda rileks kamipun tak mungkin bekerja jelek. Tapi belum apa-apa Anda sudah misuh-misuh yaa kami sebisa mungkin memasang senyum palsuh. Karena kayaknya emosi positif, emosi negatif juga bisa menular.

Tenaga medis juga manusia biasa, ada kalanya kami lelah atau dalam keadaan 'patient attack mode on' dan pelayanan jadi melambat. Jadi mohon pengertiannya. Jangan dikit-dikit protes keras apalagi nampar pake file pasien.

Peace ya Bu, peace ya Pak 🤓

Fitria

Comments

Popular posts from this blog

Anggun: Ibu

Aku suka dangdut? Ngggg.. kayaknya nggak hard to believe banget. Apalagi karena aku juga suka lagu-lagu India. Lagu yang ku suka variatif, nggak terbatas di genre tertentu atau satu penyanyi. Yg penting ngena di hati. Dan malam ini, entahlah aku mesti senang atau sedih. Aku hampir menangis menyaksikan penampilan finalis DA3 dari Bima, Anggun. Mungkin karena mengetahui kisahnya sebagai TKI dan hanya pernah bertemu beberapa kali dengan anaknya. Mungkin karena di dekatku ada ibuq, dan membayangkan lagu itu adalah ungkapan hati ibuq dan ibu-ibu lainnya di seluruh dunia. Ditambah lagi aku belum bisa berbuat banyak untuknya. Atau mungkin, sekali lagi mungkin. Ini yang dikatakan: apa yang dilakukan dengan hati, akan sampai ke hati. Apalagi ketika baitnya sampai pada 'Kau adalah simbol kesempurnaan dariku yang tak sempurna'. Tuhan, sampai disini aku merinding. Betapa besar anugerah dan kenikmatan menjadi seorang ibu. Sesuatu yang kerapkali ku impikan. Tapi aku sadar, mungkin Allah ...

The Reflex

Siang ini di atas motor.. Tikungan agak tajam ke kanan tampak 50 meter di depanku. Tangan kiri sedia memegang rem. Tangan kanan yang sedari tadi konsen menarik gas mengendur dan berganti menarik rem. Lalu membawa stang motor sedikit membelok ke arah kanan. Tikungan terlewati dengan mulus. Semua dilakukan dengan spontan. Like they said, if you do something for years, you get pretty good at it. Or in my case, used to it. Because I'm not sure I'm a good or lousy rider. Sometimes it feels like the first but not rarely I feel the second. Aku melakukannya sebelum memikirkannya. Semua diatur otak di alam bawah sadar. Lalu ketika mobil dari arah berlawanan menyalip dan melewati kami dengan terpaut jarak sekian puluh senti saja, jantungku langsung seperti ingin meloncat dari rongganya. Bahkan jantungku bukan milikku sendiri. Ia bekerja mengikuti ritme tubuh. Sesuai dengan kebutuhan. Aku tak bisa mendiktenya untuk berdetak 85 kali saja. Ia memiliki mekanisme tersendiri. Pun paru-paru...

Malin Kundang

"Dimana itu Nak?" Pertanyaan protokoler akhirnya keluar di ujung sana. I almost roll my eyes if it wasn't for the answer itself. What was this place called again? My brain went blank. In panic state I running in storange room names my brain, rummaging for some memory. Nope, nada. Fortunately, there's last source of knowledge standing there. I turn to her and ask. "Dimana namanya ini lenga?" My, my. The look on her face is priceless. Just like I ask her where is my keys when its dangling in my bag. I I can't help but broke into laugh. "Ya Allah lenga beneran side lupa?! Karang Sukun." Cue for the stern-looking-mom-expression. It was so understatement. I was lived in that area for almost one year yet it's name easily slipped from my mind. I was never intended to comeback to my old landlord yet Cg's landlord came 500 kilometers across sea to attend her wedding. Yep, I can totally see the picture here. Not only that time Cg must huffing ...