Kemarin siang aku mendapat tugas menyiapkan snack untuk peserta penyuluhan pagi ini.
Sudah ku sanggupi sejak sore karena alhamdulillah diberi kemudahan untuk menghubungi mbak yang biasa jualan snack. Meskipun aku baru menghubunginya 'secara resmi' pada malam hari.
Singkat cerita all is well, snack ready jam 7. Dan aku yakin sebelum jam itupun sudah siap.
Maka aku menunggu sampai setengah 7 untuk berangkat mengambil snack sekaligus mengantarkannya.
Namun belum setengah 7 aku sudah ditelpon "Kok belum diantar snacknya?"
Yang aku jawab dengan "Ini baru mau berangkat ambil."
Dan aku sampai di klinik jam 07.05, penyuluhan sudah dimulai. Lalu langsung ku bagikan.
Bukan tanpa alasan aku berangkat jam sekian. Karena dari pengalaman biasanya penyuluhan tak akan dimulai sebelum peserta cukup banyak. Belum lagi persiapan pembicara yang kadang sampai hari H materinya belum ditentukan.
Tak ingin berpanjang kata, aku hanya mengambil uang dan pulang. Lalu mampir beli beras dan sayur.
Sampai di rumah, ku lihat satu panggilan tak terjawab. Dari teman penanggung jawab program yang qadarullah libur pagi ini.
Tak tanggung-tanggung, menelponnya lewat saluran biasa. Bukan wa atau apa. Pastinya sudah dikabari dari klinik kalau aku tak kunjung jua datang.
Tak menyalahkan, mungkin karena pertimbangan kami berbeda. Apalagi ini kali pertama aku mendapat tugas seperti ini. Ditambah dengan track record ku yang kurang baik dalam ketepatan waktu, maka sempurnalah 'kepanikan' orang-orang.
Hal ini mau tak mau membuatku berpikir. Betapa mahal arti sebuah kepercayaan. Pada manusia saja yang dilihat setiap hari susah, apalagi pada Allah yang tidak pernah dilihat dan 'hanya mendapatkan' informasi dari sumber lain.
Mungkin aku begitu. Kurang percaya pada Allah sehingga harus sering-sering 'memastikan'. Padahal Allah memiliki pertimbangan tertentu.
Keinginan itu pasti dikabulkan, hanya saja aku yang kadung sibuk bersangka ini itu. Padahal itu tak akan mengubah apapun. Malah akan memperkeruh suasana.
Padahal Allah sudah berjanji dengan tegas. Semua doa pasti ada responnya. Yang terbaik sedang on the way untuk dijawab. Mungkin terlambat menurut ukuranku, tetapi tepat menurut ukuran Allah.
Tergesa tak akan mengubah responnya menjadi lebih cepat. Karena sudah ditentukan ukurannya. Malah jika terlalu cerewet bertanya 'kapan', mungkin itu satu penyebab Allah jengkel dan malah benar sukar memberikan apa yang kita inginkan.
Dan siapa aku untuk mengeluh? Apalagi menggunjing. Wong kesalahanku saja tak akan putus ditulis tinta. Sampai esok pagi sekalipun.
Comments
Post a Comment