Skip to main content

Apa yang ku pikirkan saat memandang langit?

Pertanyaan diatas menjadi status BBM-ku sore ini. Foto yang ku pajang diambil di ruangan Dara 1, tepatnya di pintu belakang. Entahlah, ada rasa berbeda ketika memandang langit sore ini.
Sepertinya tempatku berdiri adalah sebuah tempat terisolir, sempit, dan asing dari dunia luar. Sejenak aku merasa seperti boneka yang ada di dalam kotak kaca, yang menari-nari seiring lagu yang diputar.

Saat aku tengadah, aku berpikir. Semua kita jika mendongak, pasti akan melihat langit yang sama. Langit yang membatasi pandangan dari luasnya yang tak terukur. Bahwa tersebutlah disana bermilyar-milyar galaksi. Yang adanya kehidupan masih menjadi misteri.

Lalu apa yang terjadi disana? Tentunya Allah tidak menciptakan segala sesuatu dengan sia-sia.

Aku kemudian teringat suatu ungkapan: Setiap hari, berjuta bintang mati. Dan berjuta pula yang lahir kemudian. Lantas dimana kita? Bukankah kita hanyalah satu bintang? Lalu bagaimana jika kita hanya menjadi suatu bintang yang lahir kemudian mati tanpa ada yang menyadari? Untuk apa jika hanya demikian?

Ungkapan yang skeptis. Aku tahu. Aku paham mengapa si pemilik ungkapan berkata demikian. Bahwa sulit berada di suatu dunia yang setiap orang dituntut untuk mencapai sesuatu, jika tidak, maka engkau bukan apa-apa.

Belum lagi masalah ego, yang setiap orang memilikinya setidaknya masing-masing sepenuh bumi. Bahwa tak ada yang ingin disalahkan, tak ada yang ingin dinomorduakan, tak ada yang ingin dirugikan. Suka atau tidak, setiap orang begitu mencintai dirinya sendiri. Walaupun cara mereka mengungkapkannya berbeda-beda.

Tapi entahlah, sudah sejak lama keinginan menjadi sesuatu ku kubur dalam-dalam. Cukupkan diri menjadi bayang, jika ada tak akan diistimewakan, jika tak ada tak akan dicari. Hadist itu, selalu terngiang jika egoku mulai memuncak.

Seperti beberapa hari ini. Aku terus menerus berpikir. Pantaslah Allah menjadikanku seorang perawat di negeri yang bernama Indonesia. Di negeri yang lebih menghargai orang-orang sombong dibandingkan orang-orang rendah hati. Karena memang menjadi perawat butuh kerendahan hati dengan stok yang tak pernah kosong. Aku ingat ketika seminar keperawatan beberapa minggu lalu, bahwa pembicara dari asuransi yang ditunjuk pemerintah, berbicara dengan sepenuh hati tentang sejarah keperawatan. Bagaimana mulianya Lady With The Lamp, Florence Nightingale. Tapi sayangnya, ia tak berbicara di depan mahasiswa keperawatan tingkat 1, yang kebanggaannya menjadi perawat belum pupus ditelan realitas. Bahwa penghargaan terhadap profesi kami, masih langit dan bumi dengan teori di kampus. Pantaslah, ini cara Allah berbicara tentang rendah hati padaku. Suatu pelajaran sulit yang seringkali gagal ku pahami.

Di satu sisi aku ingin mengabdikan hidup di jalan ini, bekerja di pelayanan. Memastikan pasien di bawah tanggung jawabku terlayani dengan maksimal, orang sakit tak perlu lagi mendapat perlakuan buruk. Atau jika ada mahasiswa akan terbimbing dengan baik, tanpa teriakan tak becus atau anggapan malas. Bahwa setiap mereka datang untuk belajar, dan setiap kesalahan adalah bukti mereka mau mencoba. Tapi untuk itu, aku butuh fisik yang tangguh dan hati yang kuat. Semoga Allah bantu dan kuatkan, apapun kelanjutan dari semua ini.

Tugasku sekarang, adalah harus ingat kembali untuk siapa ku lakukan semua ini. Bahwa semua tak penting selainNya. Biarlah aku jadi bintang yang hidup dan akan mati tanpa ada yang menyadari, tapi aku percaya Ia tak pernah melewatkan sedetikpun apapun yang ku lakukan. Semoga Ia selalu membimbingku, menegur saat salah, dengan teguran manis, membuatku malu bukan benci. Dan membuatku selalu berani mencoba meski tak sempurna, bahkan jika kesalahan itu buruk, jangan pernah biarkan ku terpuruk. Karena bagaimanapun, aku telah mencoba.

Dan ketika esok ku pandangi langit, ku harap Allah melihat ke arahku sembari tersenyum. Karena Ia Tahu aku tak sempurna, namun usahaku untuk memperbaiki diri tak pernah berhenti, waktu ke waktu. Karena sekali lagi, pencapaian bukanlah tujuan akhir, ia hanyalah buah dari proses yang tak ada henti. Setiap hari selama hidupku.

Yaa Rabbi, tunjukilah hamba jalan yang lurus. Jalan orang-orang yang Engkau ridhoi lagi beri nikmat, bukan jalan orang-orang yang Engkau murkai lagi sesat. Aamiin.

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Anggun: Ibu

Aku suka dangdut? Ngggg.. kayaknya nggak hard to believe banget. Apalagi karena aku juga suka lagu-lagu India. Lagu yang ku suka variatif, nggak terbatas di genre tertentu atau satu penyanyi. Yg penting ngena di hati. Dan malam ini, entahlah aku mesti senang atau sedih. Aku hampir menangis menyaksikan penampilan finalis DA3 dari Bima, Anggun. Mungkin karena mengetahui kisahnya sebagai TKI dan hanya pernah bertemu beberapa kali dengan anaknya. Mungkin karena di dekatku ada ibuq, dan membayangkan lagu itu adalah ungkapan hati ibuq dan ibu-ibu lainnya di seluruh dunia. Ditambah lagi aku belum bisa berbuat banyak untuknya. Atau mungkin, sekali lagi mungkin. Ini yang dikatakan: apa yang dilakukan dengan hati, akan sampai ke hati. Apalagi ketika baitnya sampai pada 'Kau adalah simbol kesempurnaan dariku yang tak sempurna'. Tuhan, sampai disini aku merinding. Betapa besar anugerah dan kenikmatan menjadi seorang ibu. Sesuatu yang kerapkali ku impikan. Tapi aku sadar, mungkin Allah ...

The Reflex

Siang ini di atas motor.. Tikungan agak tajam ke kanan tampak 50 meter di depanku. Tangan kiri sedia memegang rem. Tangan kanan yang sedari tadi konsen menarik gas mengendur dan berganti menarik rem. Lalu membawa stang motor sedikit membelok ke arah kanan. Tikungan terlewati dengan mulus. Semua dilakukan dengan spontan. Like they said, if you do something for years, you get pretty good at it. Or in my case, used to it. Because I'm not sure I'm a good or lousy rider. Sometimes it feels like the first but not rarely I feel the second. Aku melakukannya sebelum memikirkannya. Semua diatur otak di alam bawah sadar. Lalu ketika mobil dari arah berlawanan menyalip dan melewati kami dengan terpaut jarak sekian puluh senti saja, jantungku langsung seperti ingin meloncat dari rongganya. Bahkan jantungku bukan milikku sendiri. Ia bekerja mengikuti ritme tubuh. Sesuai dengan kebutuhan. Aku tak bisa mendiktenya untuk berdetak 85 kali saja. Ia memiliki mekanisme tersendiri. Pun paru-paru...

Malin Kundang

"Dimana itu Nak?" Pertanyaan protokoler akhirnya keluar di ujung sana. I almost roll my eyes if it wasn't for the answer itself. What was this place called again? My brain went blank. In panic state I running in storange room names my brain, rummaging for some memory. Nope, nada. Fortunately, there's last source of knowledge standing there. I turn to her and ask. "Dimana namanya ini lenga?" My, my. The look on her face is priceless. Just like I ask her where is my keys when its dangling in my bag. I I can't help but broke into laugh. "Ya Allah lenga beneran side lupa?! Karang Sukun." Cue for the stern-looking-mom-expression. It was so understatement. I was lived in that area for almost one year yet it's name easily slipped from my mind. I was never intended to comeback to my old landlord yet Cg's landlord came 500 kilometers across sea to attend her wedding. Yep, I can totally see the picture here. Not only that time Cg must huffing ...