"Tiang pamit Pak nggih, cuman mau cek infus manten. Ini mau habis kira-kira sejam lagi. Nanti insya Allah tiang balik untuk gantikan dengan yang baru." Setelah menerima anggukan dari bapak pasien, aku melangkah keluar ruangan.
Koridor Rumah Sakit Umum Daerah Wangaya terasa lengang. Tak ada rekan tim medis atau penjenguk pasien yang lalu lalang. Ku lirik jam tangan di lengan kiri, terbaca pukul 00.45 wita. 'Pantas', pikirku. Pandanganku kemudian tertumbuk pada seorang gadis kecil, berusia sekitar 10 atau 11 tahun yang tertidur pulas bersama adik perempuannya di depan ruang perawatan. Hanya beralaskan tikar dan berselimutkan selembar kain batik lusuh. Namun tidur mereka begitu pulas. Mungkin lelah setelah menunggui ibu mereka yang baru melahirkan, dan bermain bersama adik baru. 'Malam yang sama, namun dengan atmosfir yang berbeda 180 derajat denganmu, 14 tahun yang lalu.' Bisik sebuah pikiran di kepalaku. Aku hanya tersenyum, menepis deja vu yang menggoda untuk dikunjungi. Mantap ku lanjutkan langkah menuju nurse station, aku masih harus mendokumentasikan tindakan yang telah dikerjakan.
Satu jam kemudian, sebagian besar tugas sudah selesai. Hanya tinggal ganti infus di ruangan tadi dan memberikan obat beberapa jam kemudian. Harusnya aku tidur, teman-teman yang lain sudah pulas berjejer bak ikan pindang, tapi kopi yang ku minum jam 23.00 ternyata berefek kuat. So much for stay awake. Nevermind, ku coba merebahkan diri di samping mereka. Alih-alih tertidur, pikiranku melayang kemana-kemana. Ada kilasan-kilasan memori yang mulai nampak. Tak ingin terbawa, ku paksakan diri bangkit. Berbekal sebotol infus, aku berjalan menuju ruangan pasien. Masih agak awal, tapi tak apa. Sesampainya disana, pasien dan dua orang penunggunya tampak tertidur. Normalnya aku akan memberitahukan apa yang akan ku lakukan, tetapi melihat situasinya aku memilih melakukan saja. Toh si pasien butuh istirahat total. Sambil berjingkat ku ambil botol infus yang hampir kosong dan menukarnya dengan yang baru, setelah mengatur tetesannya akupun keluar. Syukurlah sang pasien dan keluarganya tidak terbangun.
Melewati kembali dua orang anak yang tertidur tadi, aku mempercepat langkah. Melihat mereka memantik kembali percikan kenangan yang tak ingin ku ingat. Sampai di nurse station yang sebagian lampunya telah dimatikan, aku mengambil posisi paling pinggir. Mencoba tidur, memberi hak istirahat pada tubuh. Satu menit, dua menit, sampai tiga puluh menit kemudian aku tak kunjung tertidur. Lalu ku coba berzikir, sekhusyuk yang aku bisa. 'Seperti malam itu', bisik pikiranku lagi. Ku gelengkan kepala. Melanjutkan dzikir. Sampai akhirnya aku tertidur. Namun tak sampai 15 menit, dering telpon membangunkanku. Ada pasien yang akan opname malam ini dan memesan kamar. Setelah melapor pada perawat ruangan, aku melanjutkan tidurku yang terganggu. Namun sepertinya Allah memang tak mengijinkan terlelap malam ini. Tangis bayi dari ruangan kelas III semakin lama terdengar semakin kencang. Salah seorang
temanku bangun untuk mengecek. 'Aku masih menduga-duga apakah dulu ada perawat yang sigap melayani ibu? Kau dengar sendiri suaranya berteriak kesakitan', pikiranku mengoceh lagi. Tapi kali ini tak ku lawan. Ku sambut ajakannya membuka kembali kenangan yang aku kubur dalam-dalam. Seperti telah diatur, posisi tidurku yang sekarang juga sama seperti malam 14 tahun yang lalu. Miring ke kanan dengan lengan sebagai bantal. Bedanya sekarang aku berseragam perawat dan tidur di nurse station, sedangkan dulu aku memakai kaos dan celana jeans dan tidur di depan ruang perawatan. Sama gelisah tak bisa tidur. Siapa yang bisa pulas jika selang beberapa menit mendengar teriak kesakitan ibunya? Sementara ayahnya jauh diluar pulau, dan satu-satunya orang dewasa yang menemaninya hanyalah bibi yang buta huruf. Dan akupun melakukan apa yang anak 11 tahun bisa lakukan. Menangis. Namun sebisa mungkin aku tak bersuara, meskipun bulir-bulir air mata tak henti-hentinya menetes. 'Apa tak ada dokter atau perawat yang mau menangani ibu? Apa karena kami tak membawa uang? Mengapa aku tak boleh masuk? Setidaknya aku bisa menemani ibu di dalam.' Rentetan pikiran yang berkecamuk hanya menambah perih di hati kecilku. Anak perempuan yang belum lagi tamat SD, menunggui ibunya yang akan melahirkan di rumah sakit, tak bisa berbuat apapun selain menangis dan menangis.
Dan perihnya ternyata masih segar di ingatanku. Sampai pada detik aku tak kuasa membendung air mata. Dan masih sama, tanpa suara. Aku bersyukur semua teman-teman tertidur pulas. Air mataku mengalir semakin deras ketika menyadari situasi yang ibu jalani malam itu. Sakit akan melahirkan, dengan ketuban yang telah pecah dari pagi, bayi yang prematur, keharusan untuk operasi, suami tidak di tempat, administrasi rumah sakit yang belum diurus, sementara diluar hanya ada anak perempuan dan iparnya yang tak mengerti baca tulis. Betapa berat beban ibu, dan aku tak bisa melakukan apapun untuk meringankannya.
Air mataku masih saja mengalir, mengingat setelah operasi sang adik laki-laki, yang kemudian dinamai Lalu Ahmad Sirhindi, meninggal keesokan paginya. Dan dalam waktu 1x24 jam saat itu, aku, anak SD berumur 11 tahun, telah menjadi penjamin ibuku. Aku baru mengerti sekarang apa arti dokumen-dokumen yang ku tanda tangani. Entahlah apakah dulu pihak rumah sakit menganggap itu legal atau karena mereka tak mempunyai pilihan lain.
Aku masih terisak ketika ingat ibu sangat marah saat aku mencoba memperbaiki infusnya yang macet, yang kemudian berujung pada keluarnya darah di selang infusnya. 'Kamu pikir ini main-main! Ini obat.' Bentaknya. Seandainya ia berkata lebih kasar dari itu, aku tak akan protes. Ia ibu yang baru kehilangan anaknya, dan sekarang anak satu-satunya bukannya memanggil perawat malah sok tahu mengurus infusnya. "Nggak apa-apa ya Bu, nanti kalau sudah besar adik jadi perawat ya?'" Kata seorang perawat yang datang kemudian, ku sadari sekarang ia mestilah seorang siswa, perawat jaman itu masih jarang yang bersikap baik pada pasien, apalah lagi pada anak sok tahu macam aku.
Dalam tangis aku tersenyum, perkataan kakak perawat itu, aku menduga-duga dimana ia sekarang, 14 tahun kemudian menjadi kenyataan. Disini aku, sama seperti ia dulu, praktek di rumah sakit agar bisa menjadi perawat yang baik. Yang tak pernah mengacuhkan keluhan pasiennya, yang sigap membantu mereka tanpa menunggu dipanggil, yang tetap bersikap baik meskipun pasien salah. Aku berjanji, jika Allah memang mentakdirkanku bekerja di jalan ini, aku akan berusaha memenuhi sumpahku sebaik-baiknya. Agak tak ada pasien dibawah asuhanku, yang merasakan apa yang ibu dan aku rasakan 14 tahun yang lalu.
Dan tangisku terhenti, ketika menyadari malam ini ibu tak dalam keadaan sakit, malah mungkin tidurnya sambil dipeluk adik Indi, adik perempuanku, dan sang mendengkur keras di sampingnya.
Ya, kami pernah melalui badai. Tak hanya sekali, namun berkali-kali. Namun itu cara manis Allah membentuk kami, mengeratkan akar, mengganti daun-daun, seperti yang mereka katakan, semakin tinggi pohon, semakin keras juga angin yang menerpanya. Membuatku semakin percaya, bahwa sesudah kesulitan, akan datang banyak kemudahan.
Comments
Post a Comment